1 tahun lalu · 194 view · 5 menit baca · Lingkungan 35932.jpg
Foto Oleh : Abednego Togatorop (Nikon D5100) (Hutan terfragmentasi, Sumatera Utara)

Menyelamatkan Orangutan atau Orang Hutan?

Pertanyaan itu pernah terbersit di pikiran saya ketika mulaiberkelana di Ilmu Kehutanan (Forestry Science) di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Hal ini menjadi dilema bagi saya ketika suatu saat nanti saya diperhadapkan dengan kondisi tutupan hutan Indonesia saat ini yang sudah semakin terdegradasi, sementara Orang utan (Pongo abelii) / (Pongo pygmaeus) yang merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan di hutan tropis Sumatera dan kalimantan sudah semakin sedikit populasinya.

Bagaimana dengan Orang Hutan? Orang Hutanmerupakan individu/manusia dan sekelompok orang yang hidup di hutan atau sekitarnya yang bergantung sepenuhnya terhadap keberadaan hutan. Lagi dan lagi, siapa yang harus diselamatkan ? Orangutan atau Orang Hutan ?

Menelisik pandangan  keberadaan hutan indonesia saat ini cukup suram. Kejahatan hutan indonesia merajalela. Diagnosa hutan Indonesia saat ini  menjadi akar permasalahan yang sangat serius mengakibatkan merembesnya ke segala sektor.

Laju deforestasi dan degradasi yang tinggi, perburuan liar, perambahan, ekpansi perkebunan, kebakaran hutan, eksploitasi hasil hutan yang berlebihan, dan pengembangan otonomi daerah mengakibatan terganggunya dan rusaknya ekosistem hutan. Hal ini berpengaruh secara signifikan terhadap Keanekaragaman Hayati mencakup Flora dan Fauna, salahsatunya adalah Orangutan.

Barangkali ada relevansi keberadaan satwa liar dengan eksistensi hutan terhadap kehidupan manusia. Kenapa tidak? Saya, Kita dan Pemerintah dalam hal ini stakeholder  disibukkan dengan upaya penyelamatan dan perlindungan hutan yang semakin tergerus dari waktu ke waktu.

Salah satunya adalah upaya penyelamatan spesies satwa yang terancam punah, bahkan di satu sisi kita juga dilema menyelamatkan satwa-nya atau mengorganisir manusia-nya yang tinggal di sekitar hutan yang faktanya Orang Hutan sangat berkontributif terhadap penyelamatan hutan.

Kehilangan tutupan hutan alam akibat deforestasi di Indonesia berawal dari perusahaan-perusahaan pengusahaan hutan yang mulai beroperasi. Informasi yang diperoleh dari data Kementerian Kehutanan, periode 1985 – 1997, pengurangan luas hutan di Indonesia mencapai 22,46 Juta hektar atau sebesar 1,87 juta hektar per tahun.

Periode 1997 – 2000, laju deforestasi meningkat tajam menjadi 2,84 juta hektar per tahun, kemudian dilanjutkan pada tahun 2000-2005 sebesar 1,08 juta hektar per tahun, lalu periode 2003 – 2006 sebesar 1,17 juta hektar per tahun dan pada tahun 2006 – 2009 sebesar 0,83 juta hekta per tahun. Data terakhir Kementerian Kehutanan menyebutkan angka deforestasi di Indonesia berada berada di angka 613 ribu hektar di tahun 2011 – 2012.

Sebenarnya, Indonesia tidak pantas lagi disebut sebagai negara Mega Biodiversity karena Biodiversitas hutan Indonesia sudah mengalami deforestasi dan degradasi keanekaragaman hayati yang sudah tergolong tinggi, yaitu sekitar 1,5 juta hektar dalam kurun waktu tahun 2000 – 2009.

Penggundulan hutan (deforestasi) dan penurunan fungsi (degradasi) hutan yang tak terkendali mengakibatkan terjadinya penurunan daya dukung ekologi serta harmonisasi habitat satwa di alam, akibatnya beberapa jenis satwa liar yang terancam seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), rangkong ( Buceros rhinoceros), beruang madu (Helarctos malayanus), Kukang (Nyticebus coucang) dan yang termasuk spesies kunci adalah Orangutan (Pongo abelii).

Perspektif saya akhirnya berdekatan dengan mitigasi pemerintah dalam menyelamatkan hutan Indonesia saat ini.  Kita disibukkan dengan penyelamatan spesies satwa terancam yang tinggal di hutan. Kita juga disibukkan dengan penyelamatan dan perlindungan Orang Hutan, yang dalam hal ini adalah masyarakat (manusia) yang hidup disekitar hutan yang secara otoritas bergantung terhadap hutan untuk memenuhi kebutuhannya.

Orangutan Sumatera dan Kalimantan saat ini masuk sebagai daftar merah IUCN (International Union for the Conservation of Nature)sebagai satwa yang terancam punah (Critically Endangered). Begitu juga dengan beberapa spesies satwa lain yang ikut terancam punah akibat degradasi hutan yang terus menerus berlangsung. Bagaimana sebenarnya Otoritas kita dalam menyelamatkan Orangutan dan satwa lainnya ? Apakah kita masih dilema untuk menyelamatkan mereka ?

Penyelamatan terhadap fauna Indonesia ibarat mengeluarkan gula diantara pasir. Sangat susah bukan ? Mengapa itu bisa terjadi ? Fauna yang diselamatkan saat ini butuh areal jelajah yang luas, yakni tutupan hutan tanpa terfragmentasi apapun. Contohnya adalah Gajah (Elephas maximus sumatrensis), Harimau (Panthera tigris sumatrae) ,Badak (Dicerorhinus sumatrensis), Rangkong (Bucerotidae), Orangutan (Pongo abelii) dan jenis fauna lainnya.

Saat ini ancaman terhadap Orangutan adalah pembukaan kawasan hutan dengan merubah kondisi tutupan hutan menjadi ekspansi kelapa sawit atau perkebunan dan pertanian, Membakar dengan sengaja, serta berkaitan dengan praktik upaya pengusahaan hutan yang tidak berkelanjutan.

Banyak asumsi bahwa seluruh ancaman ini diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggungjawab, yaitu Orang-Hutan atau orang yang hidup di Hutan dan sekitarnya yang merasa kebutuhan mereka tidak dipenuhi dan tidak diperhatikan oleh pemerintah. Padahal, Kelestarian hutan dapat terjaga dengan baik jika memperhatikan Orang-Hutan yang hidup disekitar hutan. Lagi lagi kita kembali dilema, menyelamatkan Fauna nya dahulu atau Orang-Hutan nya?

Kegiatan perburuan liar dan perubahan habitat menjadi faktor utama terhadap ancaman keberadaan fauna. Hal tersebut akan berdampak terhadap konflik dengan manusia. Kebutuhan Kayu Lokal bagi masyarakat sekitar akan memotivasi untuk melakukan tindakan illegal logging dan pengaruh kemiskinan akan mempengaruhi masyarakat untuk membuka lahan di areal kawasan hutan yang akhirnya membentuk fragmen-fragmen jalan yang mempersempit areal jelajah satwa (fauna) seperti Orangutan.

Orangutan saat ini menghadapi ancaman yang serius akibat perubahan habitat, perburuan dan konflik dengan manusia. Perlu upaya untuk mengurangi ancaman langsung terhadap perubahan habitat, konflik orangutan dan satwa lainnya dengan manusia serta perburuan liar terhadap orangutan. Upaya perlindungan terhadap orangutan dan jenis fauna lainnya sudah dilakukan sejak dahulu.

Namun perlu upaya tegas dalam hal pengaturan regulasi serta edukasi dan identifikas masalah. Perlunya evaluasi dan kebijakan menjadi perlindungan utama pada fauna seperti pengupayaan kebijakan yang berbasis reintroduksi sarana dan prasarana mendekati zonasi hutan. Merasionalisasi badan jalan dan mengurangi pembangunan jalan yang mengakibatkan peluang terfragmentasinya koridor hutan.

Di samping saya terfokus terhadap upaya di lapangan, perlu juga memikirkan dan membentengi upaya perlindungan habitat Orangutan dan fauna atau satwa yang terancam punah melalui strategi pemberian payung hukum untuk Hak Pengelolaan dan Perjanjian yang sudah terlebih dahulu mengkonversi kawasan tersebut. Hal ini berkontribusi penuh terhadap upaya perlindungan Orangutan dari segi rana hukum.

Hanya saja kita terfokus kepada upaya Reintroduksi ataupun perubahan habitat, memindahkan Orangutan dan fauna lainnya, atau bahkan mengusir dan melarang Orang-Hutan atau masyarakat yang tinggal di sekitar hutan yang sering kita anggap sebagai pemburu. Hanya saja, Perlindungan Orangutan saat ini berfokus kepada pindahnya spesies tersebut dari habitat lama, setelah itu tidak lagi memperhatikan kondisi habitat yang baru.

Melakukan monitor dan perlindungan kawasan yang kaya akan kebutuhan makanan Orangutan dan fauna lainnya sebaai upaya memperbaiki sumber pakan bagi hewan tersebut.

Saat ini proses monitoring hutan untuk perlindungan kawasan dan fauna sangat masif. Kondisi yang menyebabkan tonggak penegakan hukum tidak dapat berdiri kokoh dan berdiri maksimal adalah kurangnya personil dan dana patroli yang sering menjadi polemik bagi Kebutuhan Sumbn masyaraer Daya Manusia.

Perlindungan Orangutan dan jenis fauna lainnya sangat berkontribusi terhadap keberlangsungan Ekosistem di Hutan. Laju Deforestasi hutan Indonesia periode 2009 – 2013 juta hektar per tahun. Deforestasi yang tinggi berdampak pada tergerusnya sumber kehidupan masyarakat, terutama Orang-Hutan yang hidup dan bergantung sepenuhnya pada hutan.

Meskipun usaha diatas untuk perlindungan Orangutan dan Fauna lainnya sudah dilakukan, namun masihkah ada dilema untuk menenun rencana aksi ? Menyelamatkan Orangutan dahulu atau menyelamatkan Orang-Hutan lebi dahulu? Meskipun diksi untuk pertanyaan ini sedikit membingungkan, namun saya percaya sepnuhnya, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang membangunkan mata kita dari upaya Perlindungan dan penyelamatan Hutan.

Selamatkan Orangutan! Perjuangkan Hak Orang-Hutan! Masihkah kita Dilema ?