Bulan  kemarin, keluarga saudara saya terkonfirmasi positif  Covid-19. Dimulai dari Mas Yanto yang sakit duluan, disusul Mba Yanti, kemudian barulah menantunya, Ratih dan anak lelakinya, Wawan. Sementara kedua cucunya, Mirna dan Sandi, sore itu belum nampak terganggu kesehatannya. Awalnya, walaupun seisi rumah rumah dalam kondisi tidak prima kesehatannya, ada yang batuk, pilek, pusing, badan terasa lemas, dan sebagainya, seisi rumah  enggan untuk memeriksakan  kesehatannya.

Dikarenakan tuntunan pekerjaan di mana Ratih bekerja, yaitu terkait urusan administrasi perijinan tidak masuk kerja dan juga demi urusan prasyarat  vaksin keduanya Wawan, maka akhirnya mereka  berdua memberanikan diri untuk pemeriksaan kesehatan di puskesmas terdekat. Satu hari setelah saya bertamu ke rumah Mba Yanti yaitu pada hari Sabtu, ketika mereka berdua sedang menjalani test swap dan hasilnya bisa dilihat hari itu juga, ternyata keduanya positif Covid – 19.

Tetapi begitu mendengar kabar anak dan menantunya positif Covid-19, Mba Yanti sempat ga mau makan, inginnya cuma  tidur melulu. Intinya down lah, mentalnya.Dua hari  berikutnya yaitu, hari Senin, dimana seisi rumah harus test swap sepertinya Mba Yanti ngedrop lagi, hingga akhirnya saya mendapat informasi kalau satu keluarga tersebut terpapar Covid-19 semua. Jadi jumlah yang terpapar semuanya  ada 4 orang dewasa, 2 laki – laki dan 2 orang perempuan  dan 2 orang anak, 1 anak laki – laki dan 1 anak perempuan semuanya positif Covid-19

Seperti tidak ada semangat untuk hidup, makan enggan, minum pun tak mau, hari-harinya ia lalui di kamar tidur selama menjalani masa isolasi mandiri (isoman) di dalam rumah. Tentu saja, kejadian ini tidak baik bagi kesehatan Mba Yanti. Dan benar saja, pada hari Rabu siang saturasinya sempat ngedrop diangka 77. Begitu suami istri ini sudah dapat ditangani secara intensif di RS yang nota bene pelayanannya terpercaya, apakah  urusannya  sudah selesai sampai di sini, tentu tidak. 

Timbul problem baru lagi, terutama kesehatan mental pasien. Karena menurut protokol kesehatan pasien positif Covid-19 tidak dapat ditunggu oleh pihak keluarga. Hingga akhirnya, pada Senin, 9 Agustus 2021 pukul 05,00 WIB, Mba Yanti menghembuskan nafas terakhirnya  tanpa didampingi oleh satu keluarga pun di sisinya. Bahkan tindakan  medis yang dilakukan berupa  donor plasma konvalesen  2  kantong pun tidak berhasil membangkitkan kembali  mental Mba Yanti. Sekali lagi, covid-19  membuka tabir bagi yang memahami pandemi ini tidak sekedar problem medis, ia tidak hanya medekonstruksi semua tatanan tanpa teriakan revolusi.

Dari situ saja kita dapat kita melihat bahwa Covid-19 bukan semata urusan medis.  Melainkan juga urusan  mental,  maka sudah semestinya pemerintah sebagai penanggung jawab penanganan Covid-19 memperhatikan bahwa angka kematian Covid-19 tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tindakan medis saja tetapi dipengaruhi juga oleh faktor penghancuran mental penderita Covid-19.

Dalam hal seyogyanya pemerintah mempunyai strategi integratif yang mengkombinasikan penanganan Covid-19 secara medis dan secara mental. Perlu kerja sama semua stake holder tenaga kesehatan hasil kolaborasi medis dan psikologis. Yang tidak melulu fokus pada  kesehatan absolut tetapi fokus juga pada kesehatan relatif, yang lebih manusiawi, yang lebih percaya pada kesemestaan alam. Ya, usulan programnya lebih kepada Manajemen Kesehatan Semesta.

Karantina atau isolasi  merupakan salah langkah yang diambil untuk mencegah penyebaran wabah virus corona. Dengan tindakan ini dilaporkan memberikan efek perburukan psikologis, termasuk terjadinya post traumatic stress  disorder/PTSD, kebingungan, dan kemarahan.

Beban yang secara langsung dihadapi oleh tenaga medis adalah perasaan cemas terinfeksi dan meninggal, berpisah dengan keluarga terkait tuntutan bekerja, menyaksikan pemandangan traumatik termasuk pasiennya yang dalam kondisi kritis atau meninggal, bekerja dalam setting overburdened yang kronik, mengalami putus asa akibat kehilangan nyawa pasien dalam jumlah besar walaupun telah berupaya maksima, kekurangan reinforcements dan replacement, serta kelelahan atau burnout.

Beberapa kekhawatiran lainnya termasuk khawatir membuat keluarga khawatir, khawatir membawa pulang virus ke rumah, khawatir kekurangan APD, atau khawatir ketidakmampuan mengatasi pasien.

Kesehatan mental pasien akan dipengaruhi oleh keparahan gejala, komplikasi, gejala sisa, efek terapi, maupun kemampuan mengakses layanan kesehatan. Beberapa pasien dapat mengalami perasaan tidak berdaya, bahkan perasaan duka akibat kehilangan orang-orang terdekat mereka termasuk sesame pasien dalam perawatan.

Ditambah, kesehatan mental keluarga dari tenaga kesehatan maupun keluarga pasien yang terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 dilaporkan memiliki peningkatan risiko terjadinya distress psikologi.  Betapa urgennya  menjaga kesehatan mental tenaga medis, pasien Covid-19, dan  keluarga tenaga medis serta  keluarga pasien Covid-19  ternyata tidak kalah penting dengan penanganan Covid-19 secara medis.  

Menyelamatkan mental penderita Covid-19 merupakan kunci untuk mengurangi angka kematian pasien Covid-19 yang mendesakkan  untuk dilakukan oleh pemerintah sebagai penanggungjawab penanganan Covid-19. Seyogyanya Pemerintah Pusat belajar dari Shelter Desa dalam mengurangi angka kematian pasien Covid-19 yang lebih manusiawi dan belajar dari kesemestaan alam (manajemen kesehatan semesta), yang memadukan 2 konsep kesehatan, yaitu konsep kesehatan secara medis dan konsep kesehatan secara  psikologis.

JUNAEDI, SE, esais Mbantul, Crew Media Sanggar Inovasi Desa.