Beberapa waktu yang lalu publik dikejutkan dengan hasil temuan BNPT yang menyatakan bahwa ada 7 PTN terkenal di Indonesia yang mahasiswanya bersimpati pada gerakan radikal. Pun dalam waktu berdekatan juga muncul liputan di majalah Tempo tentang topik yang serupa.

Media online juga diramaikan dengan berita deklarasi khilafah islamiyah di sebuah kampus negeri di Bogor. Belum lagi adanya berita tentang seorang dosen yang disangka menjadi perakit bom yang akan digunakan untuk demo, dari kampus yang sama.

Berita-berita yang cukup massif itu terus terang membuat saya sebagai orang tua ketar-ketir, mengingat anak sulung pada saat itu baru saja memulai perkuliahan di salah satu perguruan tinggi yang disebutkan BNPT tadi. Tak pelak berentet-rentet pesan sering kali saya tembakkan bagai mitraliur kepada anak lanang setiap kali dia berkesempatan pulang pada akhir pekan.

Berbagai macam kekhawatiran memang cukup menghantui saya akan kemungkinan anak saya terpapar ideologi radikal. Misalnya saja, saya khawatir anak saya akan jadi malas belajar dan kuliah, karena lebih tertarik untuk menjalankan ‘dakwah’ di lingkungan kampus. Kemudian, saya khawatir anak saya akan membatasi pergaulan dan kegiatan sehingga akan menghambatnya berkembang maksimal sesuai potensinya. 

Saya juga khawatir kelak anak saya tidak akan tertarik untuk mengamalkan ilmu sesuai spesialisasinya, tapi malah mencari pekerjaan-pekerjaan lain yang ‘kurang menjanjikan’ dengan alasan: lebih ‘syar’i’. Saya khawatir anak saya tidak lagi cinta negaranya tapi lebih memperjuangkan khilafah, dan lebih-lebih lagi, saya takut anak saya terlibat terorisme.

Apakah Anda menganggap saya lebay dengan berbagai kekhawatiran di atas? Tidak apa. Buat saya tidak masalah. 

Tapi saya pribadi memang cukup punya alasan untuk merasa khawatir, karena selain dari pemberitaan-pemberitaan di atas, ada juga pengalaman riil seorang junior di kampus yang pernah terlibat gerakan semacam itu. Katanya, dulu sampai-sampai dia tidak mau belajar dan berangkat kuliah saking-sakingnya terdoktrin untuk mengabdikan diri hanya kepada ‘dakwah’. 

Tiap pengajian dicekoki kebencian kepada yang berbeda. Ditanamkan doktrin bahwa umat sedang ditindas, sehingga selalu menganggap pihak lain sebagai musuh dan ancaman. Beragama bukan menjadi sesuatu yang membahagiakan, melainkan menegangkan.

Beruntung pada akhirnya junior saya tersebut sadar dan kembali ke ‘jalan yang benar’, yaitu mau menuntaskan kuliahnya dan bekerja. Kembali pada kehidupan yang wajar. Junior saya itu sangat menyesal bila ingat dulu pernah membuat ibu dan keluarganya begitu sedih dan khawatir karena memikirkan masa depannya yang dulu seolah-olah akan suram. Untunglah semua itu telah berakhir.

Selain itu, saya pun punya pengalaman sendiri terkait gerakan radikal di kampus. Mungkin apa yang saya alami tidak seekstrem yang dialami oleh adik angkatan saya yang sempat mogok kuliah itu. Saya tetap kuliah. 

Namun batin saya sempat terombang-ambing cukup lama dikarenakan berbagai doktrin yang ditanamkan dalam berbagai pengajian yang saya ikuti. Misalnya, saya jadi mempertanyakan untuk apa saya kuliah bila kelak hanya akan di rumah saja menjadi istri dan ibu, sementara saat itu saya mengambil jurusan elektro yang notabene sangat dekat dengan dunia industri yang digeluti mayoritas oleh laki-laki.

Kegalauan-kegalauan semacam itu cukup membuat saya kurang bersemangat dalam menjalani perkuliahan. Meskipun saya tetap berangkat kuliah, namun semua itu saya jalani dengan sedikit banyak keterpaksaan. Dan lebih dari itu, ternyata kegalauan-kegalauan tersebut masih tetap menghantui saya saat saya lulus dan bekerja untuk memenuhi kewajiban ikatan dinas. 

Salahnya saya, saat bekerja, saya juga ikut dalam pengajian kantor khusus ibu-ibu yang notabene materinya senada seirama dengan apa yang pernah saya dapat di kampus. Alhasil, saya pun menjalani kehidupan karier dan rumah tangga saya dengan dipenuhi rasa galau. 

Ibaratnya, saat di kantor memikirkan rumah, saat di rumah memikirkan kantor. Padahal semestinya saya menjalani kehidupan karier dan rumah tangga saya dengan gembira dan penuh totalitas, supaya maksimal dalam berkarya.

Kalau kita cermati fenomena yang sedang berlangsung saat ini, memang proses islamisasi di segala bidang sedang terjadi di mana-mana. Kadang kita tidak menyadari keterkaitan semua itu dengan radikalisme. 

Bila radikalisme bisa dikatakan sebagai upaya-upaya untuk mengkhianati negara atau mengganti dasar negara, proses islamisasi ini seolah tidak terkait langsung dengan hal-hal tersebut. Kadang orang tidak menyadari, dari pengajian yang diikutinya, dia dibawa untuk membenci negaranya, dan menginginkan sebuah bentuk negara lain yang mendukung angan-angan semu yang ditiupkan oleh sang pendakwah.

Pengajian seperti ini biasanya dicirikan dengan penafsiran ajaran agama yang saklek atau kaku. Segala hal harus berdasarkan agama, harus ‘berdasarkan syari’ah’. 

Tidak jarang pula mereka selalu mendengungkan semboyan “Kembali kepada Quran dan Hadis”, dengan maksud mengamalkan agama secara persis ‘plek’ seperti cara beragama Nabi Muhammad dahulu. Misalnya, saat ini kita masih menganut sistem perbankan konvensional yang mengenakan bunga bank. 

Nah, sebagian kalangan mengasumsikan bunga bank ini sebagai riba yang terlarang dalam Islam. Mestinya kita menggunakan dinar dan dirham dalam sistem jual beli.

Hal lain yang kerap dipersoalkan misalnya masalah pergaulan yang tidak dibatasi sehingga laki-laki dan perempuan bercampur baur semaunya melanggar larangan agama. Wanita-wanita bebas berkeliaran di luar rumah mengundang terjadinya fitnah dan kejahatan. Musik dan aneka hiburan berceceran di segala tempat, membuat umat mengerjakan hal yang sia-sia dan lalai untuk mengingat Allah. 

Ujung-ujungnya, kita dibuat kecewa karena negara kita bukan negara agama (khilafah islamiyah) sehingga tidak bisa melaksanakan aturan agama secara kaaffah. Dengan pendekatan yang sangat halus, jemaah digiring untuk menginginkan berdirinya negara khilafah dan menafikan negaranya sendiri.

Dengan pola pikir yang dibentuk secara demikian, tidak heran bila alumni pengajian-pengajian semacam ini pun menjadi sangat saklek dalam memandang kehidupan. Banyak hal yang sudah menjadi kelaziman umum tiba-tiba menjadi haram di mata mereka, seperti produk-produk perbankan, musik, gambar, bahkan foto dan video. 

Di tingkat yang lebih ekstrem lagi, bahkan ada yang sampai harus keluar dari suatu profesi, misalnya pegawai bank, karena beranggapan bahwa profesi tersebut berhubungan dengan sesuatu yang haram, hingga akibatnya mereka mengalami kesulitan sendiri dalam menjalani kehidupan. 

Padahal bila mereka mau membuka hati dan pikiran, tidak semua ulama menganut garis keras seperti itu. Di Indonesia ini, sebenarnya lebih banyak ulama beraliran moderat yang bisa memberikan tafsir ajaran agama yang lebih luwes dan mengikuti perkembangan zaman. Dengan mengikuti mereka, maka pikiran kita akan lebih terbuka untuk menerima segala dinamika yang akan membawa pada kemajuan.

Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa paham ekstrem, bila terjadi di kampus, berpotensi menggerus peluang anak-anak untuk berkembang optimal sebagai kader perjuangan untuk memajukan bangsa. Bahkan di tingkat yang lebih parah bisa menjerumuskan anak-anak kita pada jurang radikalisme. 

Nah, sebagai orang tua yang concern pada upaya melindungi anak dari paham-paham ekstrem yang beredar di kampus, ada banyak hal yang bisa kita lakukan, lho. Selain dari obrolan-obrolan yang bisa dilakukan kapan saja, misalnya saat pulang liburan, kita bisa juga awasi tingkah lakunya, media sosialnya. Kita bisa cermati apakah ada perubahan dalam tingkah lakunya, misalnya menjadi lebih pendiam, tertutup, atau apakah ada perubahan yang ekstrim dalam caranya berpenampilan. 

Satu saja indikasi di atas muncul pada anak kita, kiranya sudah cukup untuk membuat kita sebagai orang tua mesti melakukan penyelidikan, pendekatan dari hati ke hati kepada anak kita untuk tahu: Mengapa? Ada apa? Apa yang terjadi?

Dari media sosial kita bisa pantau postingan-postingannya, apakah ada yang berbau ekstrem, dan juga teman-temannya apakah ada yang terindikasi ekstrem. 

Tentu kita boleh berlega hati, bila tidak mendapati sesuatu yang aneh dengan diri mereka. Misalnya yang terjadi dengan anak saya, semasa kuliah anak saya tetap aktif dengan aneka kegiatan, mulai dari kegiatan di BEM, bermusik, membuat film, seminar, naik gunung dan jalan-jalan bersama teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan, yang beragama sama maupun beda. 

Pun di media sosialnya, saya dapati postingan-postingan anak saya tetap ceria, lucu khas anak-anak sekarang. Dia pun terlibat dengan sedemikian banyak teman-teman yang juga ceria dan lucu-lucu. Sangat menyenangkan!

Mendapati hal demikian, tentu saya bersyukur bahwa anak saya telah melalui masa kuliahnya dengan baik-baik saja, bahkan dengan hasil yang bagus. Entahlah, apakah sikap protektif saya yang membuat dia seperti itu, atau sebenarnya aktivitas kelompok radikal di kampus itu sendiri memang sudah mulai meredup, saya tidak tahu. 

Karena terus terang akhir-akhir ini kegiatan kelompok radikal memang kerap menjadi sorotan. Tak pelak pihak kampus pun telah mengambil berbagai tindakan untuk membatasi gerak langkah mereka, sehingga mereka pun terpaksa tiarap. 

Namun sekalipun demikian, saya masih akan tetap melakukan langkah-langkah proteksi untuk anak-anak saya. Anak saya yang kedua, yang kebetulan di tahun ini masuk ke kampus yang sama, sudah saya ceramahi tentang perlunya mewaspadai ideologi radikal. Anaknya sih manggut-manggut cuek gitu. Seolah tidak peduli dan tidak terkesan.

Tapi jangan-jangan, anak-anak sekarang ini, anak-anak generasi Post Milenial atau Z ini adalah anak-anak yang mampu berpikir kritis dan analitis melebihi kita, generasi yang lebih tua. Belum lagi akses informasi yang tak terbatas mempermudah mereka untuk mencari informasi pembanding bagi sebuah issue yang mereka dengar.

Akibatnya, mereka pun tak lagi seperti generasi kita, yang suka gumunan dan kagetan.