Katanya membaca ulang sebuah buku bisa memberikan pencerahan yang berbeda, dan barusan saya baca ulang 66 halaman buku kumpulan puisi Joko Pinurbo: Buku Latihan Tidur. Dan akan saya tuliskan apa yang saya dapatkan dari buku JokPin ini.

Hidup itu melakukan, menerima dan menyimpan lebih sedikit.

Seperti puisi Dongeng Puisi di halaman 2, diciptakan sebagai manusia ya harus bertindak selayaknya manusia. Membaca puisi-puisinya pelan tak tergesa-gesa, tentang perjalanan, waktu, terang dan gelapnya dunia. Jika lelah istirahatlah sambil minum kopi atau menikmati derai hujan yang iramanya mengandung rindu, setelahnya bisa melanjutkannya lagi.

Hidup itu tak selalu seperti yang diinginkan.

Semacam anomali yang sambung-menyambung melingkari angka-angka di kalender. Sementara bahagia tak hanya diukur dengan seberapa banyak yang telah dilakukan, seberapa banyak yang telah diterima, dan seberapa banyak yang disimpan. 

Seperti puisi Buku Latihan Tidur di halaman 5, pada akhirnya kita lupa apa itu insomnia. Tertidur bersama kata-kata yang sudah dan akan dikatakan, tertidur sampai hari dibungkam sunyi, lalu terbangun seorang diri.

Hidup itu membiasakan diri dengan hal baru.

Seperti puisi Yang di halaman 7, sadari bahwa setiap hari akan ada hal baru yang terjadi. Bosan mungkin tak bisa dihindari tetapi ketika terjebak dalam 1 sudut pandang, beranilah mengubahnya meski hanya sedikit saja untuk menemukan sesuatu yang berbeda. 

Sesuatu yang menyenangkan dan menenangkan seperti pesan ibu: Yang kauperlukan hanya tidur yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah.

Hidup itu menjaring lalu menyaring.

Seperti puisi Pada Suatu di halaman 9, manusia diberkati dengan perjalanan panjang yang lebih panjang daripada suatu hari dan pada suatu ketika. Setiap kita bisa memulai, melanjutkan atau berhenti melakukan sesuatu dan kembali memulai sesuatu yang baru. 

Membuang apa-apa yang pantas untuk dibuang agar supaya hari yang kacau dapat disusun kembali, kebekuan dapat mencair dan mengalir kembali.

Hidup itu perkara batasan.

Seperti puisi Litani Terima Kasih di halaman 12, berterima kasih atas yang terjadi hari ini, berarti membatasi apa yang akan dikerjakan, membatasi apa yang dipikirkan, 'memaksa' diri hanya fokus pada hal-hal penting. Berterima kasih atas semua kecukupan hari ini, berarti membatasi dari sesuatu yang berlebihan. Seperti keinginan memiliki terlalu banyak atau keinginan menyimpan terlalu banyak misalnya.

Dan saya sudah memulainya beberapa tahun ini dengan membatasi komunikasi. Tidak chat dengan siapa pun kecuali pekerjaan dan sesuatu yang bersifat urgen. Hal ini berlaku juga untuk keluar rumah. Membatasi membaca informasi yang hanya ingin saya ketahui. Informasi yang melimpah ruah seperti sekarang ini hanya membuat saya sakit kepala, banyak sampahnya, beracun sekali.

Sesekali menjalani hidup tanpa perencanaan itu perlu tetapi merencanakan hidup lebih perlu.

Seperti puisi Langkah-Langkah Menulis Puisi di halaman 13, 6 pijakan penting bagi hidup yang sederhana tetapi penuh makna. Setiap pijakan adalah Butterfly Effect, hukum sebab akibat yang menjadi rahasia semesta. 

Berdamai dengan diri sendiri dan keadaan adalah tindakan untuk meminimalisir efek terburuknya. Pada setiap peran, prioritas, tujuan, dan kepentingan, sebaiknya jauhi luka dan melukakan dekati bahagia dan membahagiakan.

Hidup itu tak selalu tentang aku, ada kamu, mereka, dan kita.

Seperti puisi Tokoh Cerita di halaman 16, menjadi aku itu baik tetapi mencoba memahami sudut pandang lain itu lebih baik. Percayalah, melulu aku hanya akan menumpuk ngilu di seluruh ruas tubuhmu.

Hidup itu berbagi ruang dan hal-hal tentang perasaan.

Seperti puisi Perjamuan Malam halaman 17, manusia adalah ruang dan perasaan bagi masa lalu, kini, dan nanti. Mengulang-ulang ingatan, mengulang-ulang kesedihan dan kebahagiaan yang sama, dan entah pada hitungan ke berapa akan diselesaikan. Jika beruntung kau akan menemukan jalannya, menuju sebentuk cinta yang meluaskan, cinta tanpa batas.

Hidup itu memulai sekaligus mengakhiri.

Paradoks yang njelimet. Makin dipikirkan akan makin membingungkan, maka sederhanakan saja dengan mulai menjalaninya. Pada puisi Pulang di halaman 50: Jika nanti air mataku terbit di matamu dan air matamu terbenam di mataku, maaf selesai dan cinta kembali mulai.

Setiap langkah menjadi awal sekaligus akhir perjalanan. Memulai dengan semangat tanpa terlalu ambisius. Mengapa? Sebab mengubah kebiasaan bukan hal mudah kan. Memulai dengan santai tapi serius rasanya lebih menenangkan bahkan mungkin menyenangkan. Bukankah begitu?

Memulai kebiasaan baru berarti berhenti melakukan kebiasaan lama. Memulai hidup sehat misalnya, kita 'dipaksa' untuk berhenti begadangan, malas olahraga, dan berhenti makan dan minum semaunya. Memulai menulis dan membaca, otomatis akan mengubah atau setidaknya mengurangi kebiasaan lain, sibuk bicara sana sini tapi tak ada isi misalnya.

Jadi mari memastikan dan memantaskan diri dengan berinvestasi pada apa-apa yang paling hakiki dalam hidup kita.

Dear Mas JokPin,

Terima kasih puisi-puisinya, sungguh menginspirasi.