Rasa-rasanya saya tak perlu lagi kembali mengulas historical review betapa semangat kepeloporan kaum muda terdahulu yang mendesain wadah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Teralu banyak catatan romantik yang dapat dikliping dari perjalanannya. Yang pasti goresan sejarah KNPI secara jujur saya bangga atas intensif keterlibatannya membangun dan memajukan bangsa.

Dan percayalah pula tak ada yang memungkiri ide geniun pemuda menggagas Pemuda/KNPI ini memang untuk menjadi elan vital, berfungsi strategis, sinergis sekaligus mitra kritis pemerintah dalam memberikan tanggapan terhadap problem-problem sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum, dan keamanan (POLEKSOSBUDHANKAM).

Namun begitu, kemegahan sejarah tersebut tercedarai, ‘sedikit saja’ menjadi bercak noda lantaran potret dinamika perpecahan (dualisme) yang seolah telah dianggap biasa dan lumrah terjadi. Citra KNPI berantakan, dan ide-ide segar pembaharuan tak terdengar lagi. Fakta ini yang membuat saya berkesimpulan pesimistis terhadap pepesan kosong idealnya sebagai wadah organisasi pemuda yang harus mampu menjadi sarana pemersatu sasaran pemuda Indonesia.

Apa yang membuat perpecahan ini memiliki nilai kebaikan?! Saya rasa tidak ada, justru sekali lagi, segala dimensi positif KNPI kemudian berantakan. Tak ada kata lain yang jelas perpecahan ini merugikan eksistensi pemuda, dan konflik memacetkan semua kreatifitas dan etos kepemudaan dalam segala hal. Sebab pada realitasnya harus menabrak karang.

Refleksi semacam itu harusnya membukakan mata kesadaran kita kaum muda agar tak boleh berbeda menilai kondisi KNPI hari ini.

Keadaan yang membawa saya membayangkan sekaligus mengharapkan kembalinya cerita Sukarni yang mendesak Soekarno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Kesedaran yang sama itu, saya mendesak KNPI versi satu dengan lainnya untuk segera merontokkan egoistik personal masing-masing. Egoisme yang berdimensi sebagai penyakit yang mengancam tata kebarlangsungan kepeloporan KNPI.

Gelisah terhadap kesan pembiaran perpecahan yang telah berlangsung lama mendera organ tubuh wadah tunggal pemuda ini. Dalam bahasa ibu, istilah kebudayaan orang-orang Bima menyatakan, ingin rasanya saya menjadi ‘sando’ (tabib) menawarkan terapi psikoligis menuju pergaulan baru bagi KNPI, khususnya KNPI Provinsi DKI Jakarta.

Skenario Penyatuan

Pendek kata, agenda utama di era kepengurusan saya ialah KNPI yang mengandung perlawan terhadap konflik internal organisasi. Era kepengurusan saya energi segarnya melawan kekuasaan diri sendiri, menantang situasi ambivalen dan kontradiksi internal.

Saya akan melakukan refleksi kritis, mengajukan jalan alternatif terhadap kondisi KNPI pecahan akhir-akhir ini. Dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya, saya ingin di masa sekarang. Adalah masa kepengurusan pemuda/KNPI DKI Jakarta yang kerjanya terapik, memprakarsa bangunan kebaruan kerja-kerja organisasi yang sempat macet dan vakum lama.

Ikhtiar gerakan reorganisasi KNPI ini skenario penyatuan melalui instrumen konsensus, sebagai langkah praksisnya adalah penyatuan struktural. Diharapkan berproses demi KNPI bangkit kembali setelah sekian lama mengalami kemandegan. Kendatipun prosesnya tak mudah, mengalami hambatan ‘kekuasaan’. Segera saja, setelah semua kepengurusan ini beres, saya akan bergerylia ‘mengkonsolidasi pemuda’ mengumpulkan eksponen yang pro-penyatuan. Mencari kesepakatan antara pihak yang silang-selisih menjadi sasaran.

Apakah sukar dikonsolidasi? Menghindari bersikap apriori, saya tak ingin terjebak dengan saling klaim siapa yang paling legal ber-KNPI. Pada intinya kita sudah harus menyelesaikan situasi konfliktual ini. Cara pandang kebahatinan saya ini, harus dipahami oleh semua pihak jaringan-jaringan pemuda/KNPI di level manapun. Sebab menata kembali KNPI, saya percaya bukanlah ancaman bagi eksistensi siapapun.

Rumusannya dengan menggunakan kalimat postif, adalah membentuk kesepakatan Bersama. Bersikukuh dengan ego prgamatis pribadi masing-masing? Sama halnya kita ingin menjadi generasi penyaksi sejarah yang melihat kehidupan dunia kepemudaan mundur. Tetapi lagipula keengganan satu-dua orang harus dipahami tidak boleh merubah peta jalan keinginan saya untuk berikhtiar mencari jalan baru dari kebuntuan ini.

Tentu saja jawaban dari semua problem ini adalah penyatuan kembali semangat. Syaratnya? mengandung kearifan dan kedewasaan sikap kita semua. Kearifan dan kedewasaan ini harus natural tanpa dipaksa-paksakan karena itu produk dialekti historis kepeloporan pemuda.

Selebihnya tentang kesuksesan program-program lain KNPI, saya tak menampik masih banyak tumpukan problem pembangunan daerah yang relevan, dan dapat dielaborasi oleh peranan KNPI DKI. Kerjasama dengan pemerintah daerah untuk mengimplementasikan program pembangunan di masyarakat, memang sepatutnya dapat dimaksimalkan. Hubungan partisipatoris KNPI yang semcama ini akan massif dilakukan kedepan.

Penyatuan mutlak dilakukan! Musyawarah Daerah (Musda) XV KNPI Provinsi DKI Jakarta pada hari Selasa, 2 Februari 2021 di Kartika Chandra lalu, yakni aganda menata kembali eksistensi KNPI yang bervisi luas kedepan. Sebagai memomentum strategis, energi baru sekaligus menjadi tonggaknya! Saya mengajak semua pihak mawas diri, meninggalkan pikiran yang sempit, membangun aliansi kebersamaan yang kuat, bukan justru membangkitkan belenggu dinamika friksi-friksi.

Dengan telah kukuhnya kembali pilar-pilar KNPI, nostalgia akan kemegahan, kebesaran dan segala kehebatannya akan kembali kita dapatkan. Dan tak luput saya berharap risalah ini dapat dibaca selain oleh khalayak luas, paling penting dibaca semua yang terlibat atau pelaku aktif di dalam sekelumit perpecahan ini.

Narasi besar di atas adalah sebuah ikhtiar gerakan, ketua DPD KNPI Provinsi DKI Jakarta, Bambang Irawan yang penulis rekam dalam berbagai kesempatan forum-forum diskusi bersamanya. Bambang Irawan terpilih secara aklamasi di Musyawarah Daerah (Musda) XV Pemuda/KNPI Provinsi DKI Jakarta pada hari Selasa, 2 Februari 2021 lalu.

Atas nama pemuda meski telah purna sebagai Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI periode 2018-2021. Saya pribadi sejalan dengan sebuah ikhtiar ketua DPD KNPI Provinsi DKI Jakarta ini. Alasannya sederhana sekali, karena kita ingin menjadi generasi penyaksi sejarah organisasi tunggal pemuda/KNPI retak!

Untuk itu saya berharap ikhtiar ini dapat dituniakan atau dikonversi melalui program-program standar orgnasasi. Saya menginginkan KNPI tetap menjadi ujung tombak dari berbagai organisasi-organisasi sukarela lainnya. Itulah hal yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) tepat pada refleksi empat dekade KNPI sekarang. Yakni kesadaran bagi semua agar KNPI dapat berkiprah secara penuh di masa mendatang. Sebab kalau bukan saat ini kita tak berusaha, maka KNPI tinggal tunggu waktu menjadi seperti anak yang hilang. Atau dipojokkan dengan nada, ‘KNPI tinggal sejarah’.