Nowruz, tahun baru persia, selalu dirayakan setiap tahunnya oleh masyarakat Iran dengan penuh sukacita. Biasanya perkantoran dan sekolah akan diliburkan selama 14 hari untuk memperingatinya. 

Tentunya, momen liburan itu, selain untuk merayakan Nowruz, juga dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga dekat dan bersilaturahmi ke sanak saudara yang jauh.

Nowruz sendiri sejatinya tidak hanya dirayakan di Iran saja, tetapi juga oleh penduduk negara-negara yang dulunya merupakan bagian dari kekaisaran persia kuno, seperti Tajikistan, Afganistan, Azarbejian, Turkmenistan, Kyrgyzstan, serta beberapa wilayah di Pakistan, Irak, Turki, dan Suriah yang didiami oleh bangsa Kurdi.

Asal Muasal Nowruz

Sejak 23 Februari 2010, Nowruz terdaftar di UNESCO sebagai salah satu warisan dunia, yakni Hari Internasional Nowruz. Artinya, Nowruz menjadi salah satu perayaan di seluruh dunia. 

Konon, perayaan Nowruz inilah cikal bakal perayaan tahun baru masehi yang dilakukan oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Diperkirakan jauh lamanya sejak 2.000 SM, masyarakat Mesopotamia, peradaban kuno di Timur Tengah, sudah merayakan Nowruz.

Dalam Encyclopedia Iranica Vol.4 (1990), R. Abdollahy menyebut Nowruz dalam tulisannya “Calendars II, Islamic Period” sebagai hari pertama pada bulan pertama dalam Kalender Matahari Iran, Farvadin. 

Dulu, rakyat Mesopotamia selalu menyambutnya dengan perayaan sejak masa raja-raja Persia lama secara turun-temurun. Bahkan, memasuki abad ke-7 M, setelah pemerintahan Islam menduduki wilayah ini, perayaan tahun baru tersebut masih terus dilestarikan.

Sayangnya, tidak semua negara dapat merayakan Nowruz. Di beberapa negara tertentu, perayaan Nowruz justru dilarang, misalnya di negara Asia Tengah, seperti Kyrgyzstan, Turkmenistan, dan Tajikistan sewaktu masih dalam Pemerintahan Uni Soviet, sampai masa pemerintahan Mikhail Gorbachev. 

Afghanistan juga melarang perayaan Nowruz selama pemerintahan Taliban, karena hanya kalender Hijiriah Qamariah saja yang dianggap di sana. 

Kendati demikian, perayaan Nowruz tetap saja dilakukan secara rahasia atau sembunyi-sembunyi, disesuaikan dengan peraturan otoritas setempat. Misalnya saja di Tajikistan, perayaan Nowruz diganti dengan Acara Bunga Tulip yang dilangsungkan setiap 8 Maret agar tidak ditentang oleh pemerintah setempat.

Perayaan Nowruz di Iran

Lain halnya di Iran, datangnya Nowruz sangatlah ditunggu-tunggu. Dua minggu sebelum perayaan, biasanya pertokoan dan pasar sudah disesaki para pembeli. Mulai dari membeli baju, barang-barang hadiah, hingga makanan. Masyarakat Iran sendiri memiliki budaya Khanetekani ketika menyambutnya. 

Budaya tersebut memiliki filosofi, menyambut tahun baru dengan membersihkan kotoran lahir dan batin rumah dan penghuninya. Biasanya masyarakat disana akan memperindah rumah dengan menata ulang dekorasinya, baik sekedar mengecat ulang rumah, menata perabotan rumah, hingga mengisi rumah dengan barang-barang baru menggantikan barang yang sudah tidak layak.

Kota-kota besar seperti Teheran, biasanya akan lengang sejak seminggu sebelum perayaan Nowruz. Masyarakat disana akan memanfaatkan libur panjang Nowruz untuk pergi ke kampung halaman. Mereka akan berkunjung ke sanak keluarganya yang lebih tua dan memberi hadiah (eidy) kepada anggota keluarganya yang lebih muda sebagai tanda kasih sayang. 

Sedangkan di penghujung liburan, sebagian besar dari mereka akan melakukan ziarah ke makam-makam kerabat atau ulama untuk mendoakan mereka dan mengharap keberkahan.

Taplak Haft Sin

Taplak Haft Sin atau Taplak Tujuh Sin, menjadi salah satu aksesoris yang wajib dan khas pada perayaan Nowruz. Taplak tersebut melambangkan nilai-nilai di balik nama tersebut. Masyarakat Iran memaknainya dengan menghidangkan tujuh makanan berawalan sin ketika duduk bersama mengitari meja. 

Ketujuh makanan tersebut terdiri dari Samanou (semacam dodol gandum) melambangkan kemakmuran, Sir (bawang putih) melambangkan kesehatan, Sabze (tunas gandum) melambangkan kelahiran kembali dan kesuburan, Sib (apel) melambangkan kesegaran dan kecantikan, Serkeh (cuka) melambangkan kelestarian, Senjed (buah pohon lotus) menandakan cinta dan perlindungan, dan Somagh (semacam bumbu dapur dan obat) menandakan kemenangan atas pengaruh jahat.

Selain makanan, meja Haft Sin yang indah juga dihiasi telur yang sudah diwarnai warna-warni melambangkan kelahiran dan ciptaan, ikan merah yang menyimbolkan kehidupan yang dinamis, cermin yang menandakan ketulusan dan kejernihan, air yang menandakan berkah dan kehidupan, koin melambangkan modal dan kelimpahan rezeki, lilin sebagai simbol cahaya dan penerangan, serta tangkai hyacinth, pussy willows, dan sypress yang semerbak aromanya menandai masuknya musim semi. 

Tak ketinggalan, disajikan juga permen dan coklat untuk menjamu para tamu.

Bagi warga muslim, Al-Qur’an juga terdapat di tengah-tengah hiasan Taplak Haft Sin. Biasanya, sebelum merayakan Nowruz, masyarakat disana akan duduk bersama mengitari meja sembari bercerita atau membaca Divan Hafez, kumpulan syair-syair Hafez Syirazi, dan kemudian merapalkan doa pergantian tahun dan membaca Al-Qur’an bagi yang muslim untuk menambah nilai spiritual dalam perayaan tersebut.

Pelestarian Nowruz

Baik warga muslim maupun non-muslim Iran setiap tahunnya selalu merayakan Nowruz sebagaimana pendahulu mereka. Pada saat pemerintahan kekhalifahan Abbasiyah dan setelahnya, perayaan Nowruz tetap terus dijaga dan dilestarikan di kalangan masyarakat muslim terutama oleh masyarakat Saman yang mendiami Khorasan Raya dan Al-Buyeh di Iran Selatan. Sejak periode Safawi, ritual dan praktik keagamaan Islam telah berbaur dalam perayaan Nowruz.

Adapun di masa Jalaluddin Malik Shah Seljuk pada 467 M, ia memerintahkan ahli matematika dan delapan astronom besar pada masanya, termasuk di dalamnya Hakim Omar Khayyam, untuk mereformasi kalender Iran. 

Kemudian, Nowruz ditetapkan sebagai penanda awal musim semi yang biasanya jatuh sekitar tanggal 20-22 Maret. Begitulah, perayaan Nowruz selalu dipertahankan dari waktu ke waktu, meskipun berbagai pemerintahan dan agama memasuki Persia pada zaman dahulu.

Bahkan hingga sekarang, Nowruz terus dirayakan terutama oleh masyarakat Iran. Meskipun, Iran tengah berperang melawan rezim Baath tahun 1980-1988, perayaan Nowruz tetap dilaksanakan dengan Taplak Haft Sin. 

Pun, sama halnya ketika Iran sekarang yang tengah menghadapi wabah virus Corona. Perayaan Nowruz tetap dinanti-nanti dan dirayakan, meskipun tidak semarak seperti tahun-tahun sebelumnya.