2 tahun lalu · 1347 view · 7 min baca · Politik download_1_4.jpg
pulsk.com

Menyalip di Tikungan ala Pak Beye

Strategi Pemenangan Agus-Sylviana

Ahok sebenarnya dapat menang satu putaran dan kuncinya adalah menjadi mualaf. Tapi karena tipikal orangnya yang rasional-nasionalis, tidak mungkin dia mau bertarung menggunakan politik identitas keagamaan. Lagi pula waktunya tidak cukup. Kecuali kalau strategi ‘’masuk Islam’’ dilakukan dua bulan usai dilantik jadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Presiden Jokowi.

Analisa saya mengatakan, ada skenario yang sengaja membenturkan pasangan Ahok-Djarot dengan Anies-Sandiaga. Bunyi skenarionya tentu saja masih menggunakan cap ‘’kafir’’ pada Ahok. Ayat-ayat ‘’Pemilu’’ misalnya ‘’Jangan pilih orang kafir jadi Pemimpinmu’’ tetap menjadi bumbu panas yang mendominasi. Dengan adanya ‘’Risalah Istiqlal’’ beberapa waktu lalu, diciptakanlah skenario Islam versus Ahok-Kafir. Situasi inilah yang dimanfaatkan Pak Beye.

Skenario diatas hanya melibatkan kubu Anies yang memang didukung penuh kelompok islam kanan. Mayoritas orang FPI, HTI, KAMMI dan sejenis, arahnya ke GERINDRA-PKS. Dukungan ke Anies-Sandiaga juga mengalir dari kelompok puritan, mahasiswa konservatif hingga kader HMI yang sepemikiran dengan HMI MPO. Netizen yang mudah digoda dengan slogan Islam Politik, juga sepertinya akan memberikan suaranya ke Anies-Sandiaga.

Sedangkan kubu Ahok, masih akan diramaikan oleh pemilih pragmatis yang realistis. Dari kalangan umat Islam, saya pikir ada banyak warga NU yang akan mendukung Ahok. Meski PKB dan NU sudah terang-terangan memberikan suaranya ke Agus-Sylviana.

Mengapa warga NU cenderung pro Ahok? Ahok itu Nasionalis. Cara pandangnya tentang bentuk negara dan kebangsaan sudah final layaknya gagasan NU memandang tanah air. Meski secara kelembagaan dua entitas PKB dan NU mewakili sunni-kultural mendukung Agus, tapi orang NU yang di Jakarta mempunyai karakter berbeda dengan warga NU yang ada di pedesaan Jawa Timur, Jawa Tengah atau Madura. Jadi lebih memilih Ahok karena sudah teruji.

Karena Ahok adalah separuh jiwa Jokowi, dan Djarot adalah kader PDI-P, maka orang-orang atau partai yang berada dibelakang Jokowi entah secara terbuka atau diam-diam, akan mendukung Ahok. Tapi sayang, NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia kalah pamor dengan HTI, FPI, Majelis Rosulullah, dll. Di kota Jakarta, pengaruh dan dominasi warga NU tidak sekuat di kota-kota di Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Anies-Sandiaga didukung GERINDRA, PKS, HTI, FPI, netizen dan mahasiswa-pemuda yang cenderung puritan. Bahkan mimbar masjid-masjid di Jakarta, khutbahnya sudah mulai menyerang Ahok dari berbagai sisi.

Ahok-Djarot didukung PDI-P, GOLKAR, NASDEM, HANURA dan kelompok nasionalis. Sedangkan Agus-Sylviana didukung Partai Demokrat, PAN, PPP, PKB, ormas NU-Muhammadiyah dengan ratusan media onlinenya. Agus unggul karena dukungan Islam moderat-nasionalis.

Kader muda GOLKAR yang sok ideologis dan enggan menyukseskan Ahok, tidak mungkin bertahan lama. GOLKAR sadar betul bahwa sikap ngambek-nya hanyalah bunuh diri politik.

Skenario politik yang terjadi akan lebih menekankan pada perseteruan dua kutub. Kubu Anies akan menyerang Ahok-Dajrot habis-habisan.

Dalam hal propaganda, massa Anies-Sandiaga jagonya. Biar bagaimanapun, propagandis kubu Anies banyak veteran bekas Election War dua tahun silam saat mereka berperang habis-habisan menyerang Jokowi-JK pada tahun 2014. Sedangkan Agus-Sylviana dan Pak Beye berusaha bermain lembut-cantik.

Serangan ke Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta tahun depan akan didominasi serangan non-substansial. Pasti masih seputar Ahok ‘’kafir’’, tukang gusur, kasar atau tuduhan otoriter. Hanya berkisar sisi jelek yang sesudut saja. Para pendukung Anies-Sandiaga tidak akan berani menyerang Ahok dalam hal transparansi anggaran, akuntabilitas, kerapian adminsitrasi, komitmen anti-korupsi atau keberhasilan penataan tata ruang Jakarta.

Begitupun sebaliknya, Ahok dan pendukungnya memanfaatkan tipe warga ibukota yang pragmatis. Kampanye yang diusung pasti tidak akan jauh-jauh dari postulat ‘’Latar belakang Gubernur tidak penting, yang penting kinerjanya bagus’’. ‘’Pilihlah Pemimpin yang Membawa Kepastian’’. Kampanye pragmatis yang tidak ideologis tersebut tentu saja menjadi argumen paling masuk akal bagi tipe pemilih di Ibukota.

Memang betul, meski 79% lebih ber-KTP Islam, orang Jakarta lebih mengutamakan ‘’apa yang akan didapat’’ ketimbang alasan agama dalam memilih Gubernur. Bagi warga Ibukota, keyakinan Gubernurnya tdak penting, yang penting adalah kinerja dan hasil kerjanya selama ini. Dalam penguatan argmentasi ini, tentu saja koran KOMPAS dan TEMPO siap meramaikan berita dukungan ke Ahok.

Kubu Agus akan menggunakan strategi ‘’sok alim’’. Mereka tidak akan banyak menyerang kesana-kemari layaknya kubu Anies menyerang Ahok atau sebaliknya. Kubu Agus memang sengaja berperan jadi tokoh ‘’baik’’. Dalam diamnya, mereka menunggu saat-saat yang tepat untuk menyalip ditikungan. Kapan itu? Sabar dulu. Kita tuntaskan dulu skenario gontok-gontokan kubu nasionalis yang diwakili Ahok dan kubu Islamis yang diwakili Anies.

Skenario cantik seperti ini sebenarnya sudah diketahui oleh Ruhut Sitompul. Hanya saja dengan tingginya elektabilitas Ahok yang menawarkan program kerja dan hasil nyata, Ruhut Sitompul tidak yakin Agus dan Pak Beye menang dalam waktu sesingkat ini. Karena naluri penciuman politiknya tajam dan mengarah ke kemenangan PDI-P, maka Ruhut dari seminggu yang lalu sengaja berkoar-koar mendukung Ahok, meski Partainya punya kandidat tersendiri.

Dalam acara milad KAHMI yang ke-50 di Jakarta kemarin, beberapa tokoh HMI mulai menyuarakan harapan dan dukungannya. Saya menduga pernyataan Jusuf Kalla yang berharap kemenangan diraih Anies atau Sylviana (keduanya kader HMI), adalah kalimat basa-basi politik untuk menghargai kedua adinda HMI yang ikut bertarung. Saya mensinyalir pernyataan tersebut hanyalah sikap ‘’penghibur’’ Abang pada adik-adiknya agar optimis.

Naluri Jusuf Kalla tidak bisa disepelekan. Dia tahu, baik Anies atau Sylviana akan kalah melawan Ahok yang terlanjur populer. Berbeda dengan Presidium KAHMI, Mahfud MD saya pikir kurang lihai berpolitik. Kemampuannya membaca peta politik terlalu kaku. Meski KAHMI punya pengaruh dan jaringan yang cukup luas, masalahnya Jusuf Kalla hanya setengah hati mendukung Anies dan Sylviana. Naluri JK adalah naluri politisi, bukan Kakanda.

Dukungan naluri politik bukan bertumpu pada kedekatan atau kesamaan organisasi-identitas, tapi seberapa besar kepentingannya. Jusuf Kalla tentu saja menikmati gaya kepemimpinan Ahok yang seperti saat ini. Jokowi dan Jusuf Kalla adalah dua orang yang sangat terbantu dengan kinerja Ahok yang tegas dan berani tersebut. Oleh karenanya, harapan Jusuf Kalla pada alumni HMI untuk menang hanyalah harapan palsu alias PHP.

Saya tertarik membaca strategi FPI dan kelompoknya dalam memenangkan Anies-Sandiaga. Dalam akal saya timbul pertanyaan; di zaman demokrasi saat ini, apakah masih relevan mereka berkampanye bermodalkan ayat pengkafiran? Saya pikir tidak. Pemilih di Ibukota bukan orang-orang bodoh. Orang Jakarta nasionalis, realistis dan maunya serba praktis. Mereka tidak mau negara dengan berideologikan Pancasila ini tercemari oleh islam politik.

Meski pemilih di Ibukota realistis, tapi ada juga pemilih yang pikirannya melayang-layang dilangit. Pemilih di Jakarta yang bertipe pokoknya harus muslim, juga tidak sedikit. Menurut mereka, tidak ada ruang bagi pemimpin non-Islam. Bahkan dalam pikir mereka, suatu hari nanti negara ini harus diubah dalam format Negara Islam, bukan negara NKRI yang tidak jelas. Sekuler tidak, teokrasi juga tidak.

Yang menarik adalah pernyataan Pak Beye ‘’Pilkada rasa Pilpres’’. Beliau sengaja menghembuskan panasnya Pilkada tahun depan, agar hingar-bingar kontestasi dan perang opini berkembang dimana-mana. Pak Beye tentu saja jagonya dalam mengelola politik ‘’santun’’, dan strategi itu akan digunakan lagi untuk memenangkan anaknya. Beliau sangat andal dalam memainkan ketegangan antara kubu Anies versus Ahok, lalu Agus akan jadi tokoh ‘’baik’’-nya.

Seperti biasanya, orang FPI dan kelompoknya, termasuk Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet hingga Jonru, akan membombardir Ahok habis-habisan. Ahok itu ibarat pendekar tanpa tameng alias malas pencitraan. Jadi sifat ke-apa-adaan-nya Ahok itulah yang menjadi kelemahan sekaligus modal penarik simpati (kekuatan). Ahok yang kafir dan tukang gusur bermulut kotor, tentu saja mudah dihantam. Tapi ketegasannya diapresiasi banyak pihak.

Saat kedua kubu diatas saling jatuh-menjatuhkan, Pak Beye tentu saja menjaga pasangan Agus-Sylviana untuk menjadi tokoh protagonis. Tapi sayang, kesabaran Pak Beye hampir dirusak manuver Ruhut Sitompul yang mulai sengaja memancing-mancing emosi Ibas dan beberapa politisi senior Partai Demokrat. Bila Pak Beye dan koalisi Cikeas bisa bersabar, mereka tinggal meraup keuntungan dari aksi saling bombardir kubu Ahok Versus Anies.

Pelan tapi pasti, Pak Beye mengintruksikan Agus-Sylviana untuk menyalip Ahok dan Anies ditikungan. Sesekali kubu Agus akan ikut menghangatkan suasana, tapi sebenarnya itu hanya digunakan untuk memperkeruh keadaan yang sebelumnya sudah tercipta akibat perseteruan kubu Ahok versus Anies. Disaat dua orang saling bertengkar, maka orang ketiga yang tiba-tiba tampil sebagai pendamai lah, yang akan dipandang baik orang lain.

Strategi Pak Beye, menjadi ‘’Pemisah’’ disaat dua orang saling baku-pukul, memang strategi cerdas. Tapi strategi tersebut bisa gagal total bila kubu Agus terpancing ikut saling serang. Terlebih Ruhut Sitompul memang ditempatkan (menempatkan diri) sebagai provokator dan pemancing emosi di internal Demokrat. Agus yang masih muda berusaha dipancing agar ikut emosi, tapi waktulah yang akan menentukan dia terpancing atau tidaknya.

                Ke depan, saat frustasi politik mulai melanda para pendukung Anies, beberapa orang akan tergoda menggunakan isu SARA.

Bahkan fitnah, pesan kebencian atau argumentasi dangkal yang tidak masuk akal pun digunakan sebagai akibat dari kebuntuan strategi. Saya mencium bau politik dimana akan ada kerusuhan kecil (insiden kekerasan) disana sini, sebagai akibat dari stresnya beberapa pihak yang menjumpai dirinya kalah melawan  Ahok yang dianggapnya ‘’Si Cina kafir’’.

Konstelasi akan makin menarik. Bulan-bulan November, Desember, hingga awal Februari 2017 akan dipenuhi fitnah dan propaganda. Di TV, koran dan media online tiap waktu muncul headline berita politik. Saat situasi makin panas itulah, Pak Beye sengaja berperan Ke-Bapak-an, yang bijak dan santun. Dari hari ini, Agus Yudhoyono akan diajari ‘’kursus singkat’’ oleh Pak Beye mendalami akting ‘’santun’’ dan ‘’lembut’’.

Dalam empat bulan ke depan, warga Jakarta yang sudah muak disuguhi perseteruan antara pendukung Ahok versus Anies, mulai lelah dan bosan mengikuti perkembangan politik. Mereka akan lari dari perdebatan panas ke wilayah adem, santun dan damai. Dan saat itulah kubu Agus yang dikomandoi Pak Beye menawarkan diri.

Saat ada banyak orang kepanasan, seseorang hanya butuh membawa kipas (pendingin), maka dia akan dicintai orang-orang.

Artikel Terkait