Di media sosial, beredar beberapa foto yang menggambarkan massa aksi sedang menikmati makan, minum, dan mengisap rokok di siang hari. Dalam narasi di foto-foto itu, tertulis bahwa massa aksi itu adalah massa aksi 21 dan 22 Mei di Gedung Bawaslu.

Semua pasti menyadari bahwa aksi 21 dan 22 Mei berada pada bulan suci Ramadan. Terang saja, massa aksi 21 dan 22 Mei dituding tidak melaksanakan ibadah puasa. 

Banyak warganet yang mengkritik bahkan nyinyir dengan foto-foto itu. Kebanyakan merasa heran karena massa aksi mengklaim aksi mereka sebagai bela Islam, namun kedapatan tidak menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Benar atau tidaknya foto-foto itu merupakan massa aksi 21 dan 22 Mei belum dapat dipastikan. Bisa saja sebenarnya foto itu benar adanya, namun bukan pada saat aksi 21 dan 22 Mei yang berujung ricuh itu. Mungkin foto-foto itu adalah foto pada saat aksi sebelum bulan Ramadan.

Andai pun benar foto-foto itu adalah foto massa aksi 21 dan 22 Mei di Gedung Bawaslu, sebenarnya bukanlah sebuah pelanggaran. Massa aksi yang tidak melaksanakan ibadah puasa tidak dapat disebut tidak melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam.

Jika pun benar massa aksi 21 dan 22 Mei makan, minum, dan merokok di siang hari kala Ramadan, tidak perlu kemudian dipermasalahkan. Kita tidak perlu larut dalam perdebatan. Sebab, sekali lagi, jika pun itu benar, itu bukanlah suatu pelanggaran dalam kaidah Islam.

Terang dan jelas memang. Di bulan Ramadan, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Namun demikian, ada syarat-syarat tertentu yang membuat seorang pemeluk Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Fikih telah menjelaskan siapa saja (umat Islam) yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadan. Tidak semua umat Islam terkena kewajiban menjalankan puasa Ramadan. Ada semacam aturan tertentu yang membuat umat Islam tidak terdampak kewajiban puasa itu.

Syarat wajib puasa adalah suatu keadaan atau kondisi yang harus ada saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Karena puasa di bulan Ramadan sifatnya wajib, maka syarat-syarat wajibnya tentu saja berbeda dengan puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud.

Syarat wajib puasa ini mesti ada dan terpenuhi agar puasa yang dijalankan sah dan diterima. Meski soal diterima hanya Allah Swt yang mengetahuinya, namun syarat ini paling tidak menjadi pedoman agar puasa yang dilaksanakan tidak terbuang begitu saja.

Syarat wajib pertama tentu saja beragama Islam. Bagi yang tidak beragama Islam, ia tentu tidak wajib menjalankan ibadah puasa Ramadan. Syarat ini mutlak harus ada karena puasa sendiri merupakan rukun Islam yang keempat.

Syarat kedua dewasa atau balig atau cukup umur. Anak kecil yang belum balig, meski beragama Islam, tentu tak wajib melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Tapi biasanya ada beberapa anak kecil yang dilatih berpuasa.

Syarat yang ketiga adalah berakal sehat atau waras. Orang gila tentu tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Bahkan orang gila atau tidak berakal tidak diwajibkan untuk melaksanakan kewajiban Islam yang lain.

Syarat keempat adalah sehat. Ini adalah suatu kondisi di mana seorang muslim atau muslimah dalam keadaan prima untuk berpuasa. Bila kondisi kesehatan menurun, maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Ia kemudian diwajibkan mengganti puasa di kemudian hari.

Syarat selanjutnya adalah mengetahui datangnya bulan Ramadan. Oleh karena itulah, setiap menjelang 1 Ramadan, kita kerap mendengar istilah hilal atau bulan sabit, bulan yang terbit pada tanggal satu kamariah. Bila sudah melihat hilal Ramadan, maka kita mulai menjalankan puasa.

Ada juga syarat khusus bagi perempuan dewasa. Ia tak wajib berpuasa jika sedang haid atau nifas. Ini sebenarnya masuk ke dalam kategori hal-hal yang membatalkan puasa. Hal lainnya adalah makan, minum, berhubungan badan, keluar sperma dengan sengaja, muntah disengaja, murtad, dan hilang akal.

Lalu apa yang membuat massa aksi 21 dan 22 Mei tidak diwajibkan puasa? Perhatikan baik-baik syarat-syarat wajib puasa. Melihat syarat-syarat yang telah diuraikan di atas, tentu mereka tak diwajibkan berpuasa Ramadan.

Dari syarat-syarat itu, ada satu syarat yang bila tidak ada, maka terberangus sudah syarat-syarat yang lainnya. Bila dicermati dengan saksama, syarat itulah yang tidak dimiliki massa aksi 21 dan 22 Mei di Gedung Bawaslu.

Oleh karena syarat itu tidak ada, mestinya syarat-syarat lain sirna dengan sendirinya. Dengan demikian, meski massa aksi 21 dan 22 Mei makan dan minum serta merokok di siang hari saat Ramadan, mereka sama sekali tidak melakukan pelanggaran atas kewajibannya sebagai umat Islam.

Sebab, seandainya mereka puasa sekali pun, puasanya otomatis menjadi batal dan percuma. Bila sudah batal dan sia-sia, besar kemungkinan puasa mereka tidak diterima. Buat apa pula mengerjakan sesuatu yang sia-sia?

Sekali lagi, perhatikan baik-baik syarat wajib melaksanakan puasa dalam hal ini puasa di bulan Ramadan. Perhatikanlah. Salah satu syarat wajib melaksanakan ibadah puasa adalah berakal sehat.