Seiring perkembangan zaman, manusia semakin melek terhadap teknologi. Adanya  teknologi sangat mempermudah pekerjaan. Hal ini lah yang menjadi dasar pemikiran dari paperless society (masyarakat tanpa kertas) yang di cetuskan oleh pakar informasi Inggris Frederic Wilfrid Lancaster pada tahun 1978. Yang dimaksud Lancester dengan istilah itu adalah sebuah masyarakat yang tidak lagi menggunnakan kertas sebagai medium tulis, baca dan pertukaran informasi.

Namun konsep ini tidak berdampak pada keberadaan kertas sebagai kebutuhan penting masyarakat. Sebab pengunaan kertas bukan hanya dalam bidang baca-tulis atau pertukaran informasi seperti media cetak. Banyak kegunaan kertas yang juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti tisu, tas, pembungkus kado, kemasan, label makanan dan minuman, kartu nama, cetak foto, bahkan uang kertas yang di gunakan sebagi alat transaksi. Kebutuhan akan kertas seolah tidak akan pernah berhenti mengingat fungsi kertas itu sendiri mempunyai peran besar dalam kehidupan manusia.

Di zaman modern apakah kertas tidak dibutuhkan ?. Beberapa alasan mengapa keberadaan kertas takkan menghilang dari peradaban, yaitu dari segi kebutuhan kertas dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan pasti memiliki buku pelajaran sebagai panduan dalam kegiatan belajar siswa. Kertas sampai saat ini masih tetap dibutuhkan dalam dunia pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi. Sebab dengan bertambahnya orang maka bertambah pula orang yang akan menggunakan kertas terutama mereka yang masuk sekolah. Karena orang yang pertama kali masuk sekolah akan pakai kertas untuk belajar.

Kemudian yang kedua adalah kebutuhan tisu sebagai pembersih. Semakin modernya masyarakat pasti tidak akan lepas dari pproduk ini, dimana tisu menunjang segala aktifitas. karena tisu dapat memenuhi kebutuhan akan kepraktisan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mampu menawarkan kebersihan dan kehigienisan.

Menurut  data riset Euromonitor pada tahun 2013, tisu merupakan produk yang dengan tingkat konsumsi tinggi dalam kehidupan rumah tangga. Peningkatan mobilitas masyarakat menjadi faktor penyumbang konsumsi tisu. Kepraktisan dalam kebersihan yang ditawarkan ketika melakukan mobilitas menjadi motif utama konsumen melakukan pembelian produk ini. Fenomena masyarakat kota besar memberikan peluang bagi merek-merek tisu manufaktur seperti Passeo, Tessa, Nice, Mitu, Multi dan yang lainnya untuk tumbuh seiring dengan peningkatan

Tidak hanya itu kertas juga diperlukan untuk pembuatan surat-surat berharga seperti sertifikat tanah, surat penting perusahaan, surat perjanjian dll. Data menunjukan 40-55 % dokumen bisnis di seluruh dunia masih dalam bentuk kertas. Bisa dibayangkan jika surat berharga dibuat hanya dalam bentuk file, saat file penting yang ada di komputer hilang, maka semua berkas pun hilang. Semua hal ini hanya sebagian kecil dari fungsi kertas yang belum bisa digantikan oleh teknologi.

Majunya teknologi tidak menjadi penghalang dalam eksistensi kertas. Kementerian Perindustrian menyebut sampai September 2016, devisa yang didapat dari ekspor kertas mencapai US$ 3,79 miliar dengan jumlah kapasitas terpasang industri pulp (bubur kertas) mencapai 10,43 juta ton. Ini menjadikan Indonesia produsen kertas nomor 6 terbesar dunia pada tahun 2017Menurut Kementrian Perindustrian saat ini konsumsi kertas di dunia sebanyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020.

 Pada akhirnya  eksistensi kertas di zaman modern di mana teknologi bertumbuh dengan pesatnya tetap tidak dapat menggantikan kertas seutuhnya. Dan konsep masyarakat tanpa kertas  saat ini adalah sesuatu yang belum bisa di wujudkan.