Musuh Jokowi dan Prabowo itu sama: para penumpang gelap kekuasaan yang menghalalkan segala cara.

Menjelang tidur, sebuah pesan masuk ke obrolan instan WhatsApp. Dalam situasi itu, saya biasanya cuek dan baru saya baca keesokan harinya jika sudah bangun.

"Mas, ngabari saja. Perdamaian Pak Jokowi dan Pak Prabowo tinggal seperempat langkah. Saat ini sudah ada pertemuan pendahuluan, yakni Ahmad Dhani dan Pak Jokowi," demikian pesan itu.

Mata saya sudah sangat berat ketika membaca pesan ini. Apalagi tidak jelas siapa pengirim pesan itu.

Tanpa membalas, saya langsung mencari kebenaran informasi ini. Jika tak ada berita, minimal ada foto yang bisa menjelaskan. Nyaris semua platform media sosial saya acak-acak.

Tiba-tiba sebuah foto nongol. Dalam satu frame, ada tiga orang. Ahmad Dhani, Jokowi, dan seorang laki-laki berwajah ndeso. Segala ilmu melacak yang saya punyai saya kerahkan. Siapa sosok berwajah ndeso itu?

"Iya, mas. Itu foto saya. Kalau minat, malam ini kita bisa ketemu," sebuah pesan lain masuk.

Malam itu akhirnya saya putuskan untuk menemuinya. Sebuah tempat yang sangat sederhana.

"Assalamu'alaikum," seseorang menepuk pundak saya di kafe Batik, tempat kami berjanji ketemu.

"Wa'alaikumsalam. Ternyata WA itu nggak bohong," saya menyambut gembira.

Setelah memesan kopi dan cemilan sewajarnya, kami mulai mengobrol. Langkah awal saya menanyakan sebuah foto yang memuat gambar dirinya dengan Jokowi dan Ahmad Dhani. Ia mengangguk membenarkan. 

Ia mengaku tak paham editing foto sehingga tak mungkin foto itu hasil editing. Ia mengaku bernama Fajar Sodiq, rumahnya di pojokan sebuah pondok pesantren yang sangat tua di Magelang.

"Awalnya gimana kok Ahmad Dhani mau bertemu Pak Jokowi?" tanya saya.

"Mas Dhani itu, kan, musisi genius. Simak saja lagu-lagunya. Secara musikal sangat kuat, belum lagi kekuatan liriknya yang sarat filsafat kehidupan," sosok muda brewokan di depan saya memulai kisahnya.

Atas dasar kekagumannya, ia kemudian menemui Ahmad Dhani. Berusaha meyakinkan bahwa meskipun Pemilu sudah selesai, namun kebencian antarpendukung yang ditanamkan para elite politiknya masih akan terus membekas.

"Kenapa Mas Dhani? Karena beliau adalah salah satu pendukung Pak Prabowo yang memiliki fans sangat besar. Saya melihat ini sebagai sebuah potensi untuk saling berbaikan lagi," kata anak muda itu.

Menurutnya, Ahmad Dhani kemudian menceritakan bahwa ia sudah bertemu Prabowo Subianto. Diskusi banyak hal berdua sambil menikmati nasi goreng kesukaan Prabowo. Intinya, Prabowo tak keberatan dengan hasil Pemilu 2019.

Sikap Prabowo itu bahkan akan ditindaklanjuti dengan deklarasi pengakuan kemenangan Jokowi. Namun, untuk menuju ke sana, Prabowo mengajukan syarat khusus.

"Kepada Mas Dhani, Pak Prabowo bilang bahwa ia akan total mendukung pemerintahan Pak Jokowi jika memang benar dinyatakan menang. Syaratnya, Pak Jokowi memimpin pembersihan perilaku buruk para pendukungnya. Misalnya kader-kader partai yang korup, menteri yang korup, dan juga siapa pun yang curang harus tegas ditindak," kata Fajar.

"Okey, lalu bagaimana sampean bisa mempertemukan Mas Dhani dengan Pak Jokowi?" tanya saya penasaran.

"Oh itu. Gini, mas. Pak Jokowi itu, kan, penggemar musik rock. Nah, Mas Dhani itu, kan, seorang rocker. Keduanya saya bohongi jadi bisa dipertemukan," kata Fajar.

"Dibohongi gimana?" saya makin penasaran.

"Sebagai warga yang rumahnya mepet pondok Pesantren dan sempat dikunjungi Pak Jokowi, saya kan sempat ketemu. Nah, saat kunjungan ke pondok itu, saya sudah siapkan kertas bahwa pada hari tertentu pondok akan menggelar konser rock, mendatangkan Bon Jovi," katanya.

Kertas itu kemudian ia titipkan driver kepresidenan dengan berpesan bahwa itu jimat dari Pak Kiai. Dengan cara itu, mau tak mau sang driver tentu tak berani sembarangan.

"Trus, kepada Mas Dhani, saya sampaikan bahwa di halaman rumah saya mau digelar konser Bon Jovi, dan saya ditugasi menghubungi Mas Dhani untuk diajak kolaborasi," katanya.

Pada tanggal dan jam yang ditentukan itu keduanya datang. Sebelumnya Fajar sudah mengondisikan warga kampung untuk menyambut keduanya dengan menyebut bahwa kampungnya akan bersejarah karena bisa menjadi titik rekonsiliasi keduanya.

Sambutan warga sangat membekas di hati Jokowi dan Ahmad Dhani. Maka salah satu warga yang bekerja di media massa menghubungi teman-temannya. Maka pertemuan keduanya bisa difoto dan berharap bisa diberitakan.

"Dalam obrolan itu, Pak Jokowi sangat memahami pemikiran Pak Prabowo. Ia juga tak ingin andai dia menang diwarnai kecurangan, baik oleh petugas KPU, aparat keamanan, maupun oleh para politisi di partai politik," kata Fajar.

Jokowi menuturkan bahwa sebagai Presiden secara kasat mata memang memegang kendali penuh. Namun nyatanya sekadar surat dari Gubernur saja banyak yang ditahan sekretariat istana.

Di titik ini Fajar menyimpulkan bahwa baik Jokowi maupun Prabowo sedang dimainkan kekuatan di luar mereka. Keduanya memiliki kegelisahan yang sama, yakni ingin Pemilu yang jujur dan adil. 

Musuh Jokowi adalah musuh Prabowo, yakni perilaku para penjilat kekuasaan yang menghalalkan segala cara dan menjadikan Jokowi maupun Prabowo seperti boneka.

"Kebetulan saja yang diprediksi menang adalah Pak Jokowi. Andai yang diprediksi menang adalah Pak Prabowo, situasi akan sama saja karena para penjilat kekuasaan itu memang berada di dua kubu," kata Fajar.

Saya agak tegang. Kopi di cangkir saya sudah habis. Saya memesan lagi.

Fajar kemudian bercerita bahwa ia bisa mendekati Jokowi sebagai manusia biasa. Mereka bercanda dan sekaligus mematahkan anggapan bahwa Jokowi adalah orang penting.

"Karena ini berita baik bagi bangsa Indonesia, maka Mas Dhani dan Pak Jokowi kemudian saya minta menggelar konferensi pers. Intinya bahwa itu adalah pertemuan awal yang akan segera diikuti pertemuan dengan Pak Prabowo," kata Fajar.

Kepada Fajar, Ahmad Dhani bercerita bahwa Prabowo tak rela jika orang baik seperti Jokowi dikelilingi para penjilat jahat. Prabowo meyakini kalau Jokowi orang baik. Itulah sebabnya maka Jokowi dia boyong untuk dijadikan Gubernur DKI.

Sebaliknya, Jokowi juga mengaku kepada Fajar bahwa ia sangat berutang budi kepada Prabowo. Andai tak dipertemukan dengan Prabowo, mungkin ia sudah pensiun menjadi politisi, karena saat diboyong ke Jakarta ia sudah memasuki periode kedua sebagai wali kota.

"Pak Jokowi bercerita bahwa kompetisi keduanya memang membuat gerah manusia-manusia yang pikirannya serakah terhadap materi dan kekuasaan. Bahkan Pak Prabowo disebut-sebut menyetujui pembangunan infrastruktur yang dibanggakan Pak Jokowi itu," kata Fajar.

Masih menurut Fajar, Jokowi memahami pemikiran Prabowo bahwa pembangunan infrastruktur itu sebaiknya memang tanpa utang dari luar negeri. Namun lagi-lagi seperti disampaikan di muka, tak seluruh sendi kehidupan bernegara bisa dikontrol. Ada saja yang menikungnya.

"Lalu, berita pertemuan Mas Dhani dan Pak Jokowi kok akhirnya gak ada yang menayangkan?" tanya saya penasaran.

"Ya begitulah. Setelah Pak Jokowi dan Mas Dhani menyampaikan saling apresiasi mereka, pada bagian penutup, mereka sepakat bahwa pertemuan itu sebaiknya tak usah dipublikasi. Keduanya ingin membuat kejutan: tiba-tiba Pak Jokowi dan Pak Prabowo bersatu berbagi data untuk melawan kecurangan Pemilu, melawan kaum pemodal penjilat kekuasaan," kata Fajar.

"Kapan rencananya?" saya mengejar.

"Tunggu saja. Saat ini keduanya membiarkan para pendukungnya saling serang untuk mengetahui mana yang mendukung tulus dan mana yang karena ingin numpang kekuasaan," kata Fajar.

Saya menyalakan gawai saya. Melihat jam di layar yang sudah pecah tempered glass-nya itu.

"Oke, sudah jam 03.12 pagi. Saya mau pulang. Kasihan anak saya sendirian di rumah," saya menjabat tangan Fajar berpamitan.

Saat saya jabat, ada rasa panas di tangannya. Saya menatap sorot matanya. Rasa panas itu berubah menjadi adem sejuk. Makin saya tatap, makin adem. Saya tersenyum dan memejamkan mata menikmati.

Meski masih sangat pagi, saya sayup-sayup mendengar suara azan.

"Jangan lupa, pakaiannya Pramuka, ya. Aku mandi dulu," Fajar berkata.

Saya membuka mata, sosok Fajar sudah berubah menjadi sosok anak saya yang meminta bantuan menyiapkan seragam sekolahnya karena ia buru-buru.

Jadi, benarkah Jokowi dan Ahmad Dhani itu bertemu? Benarkah Jokowi dan Prabowo sudah baikan dan siap melibas begundal-begundal penjahat negeri?

"Ayo, pak, cepetan. Makanya kalau mau tidur nggak usah lihat medsos yang saling nyinyir itu. Sampai terbawa mimpi, kan?" kata anak saya.