The Santri besutan sineas muda Hollywood asli Jawa Timur Livi Zheng, rencananya trailer-nya akan serentak tayang pada tanggal 22 Oktober 2019 mendatang. Namun bagi saya masih menyisakan beberapa pertanyaan yang cukup menggelitik dari film yang mengangkat kehidupan santri tersebut.

Momentum Hari Santri Nasional (HSN) yang dijadikan tanggal tayang serentak trailer film berlatar kehidupan santri ini sepertinya mengekor pada beberapa perhelatan akbar produk PBNU lainnya. 

Sebut saja LSN (Liga Santri Nusantara) yang peluncurannya beberapa tahun lalu mengendarai momen Hari Santri Nasional (HSN) itu. Tetapi sayang seribu sayang, perhelatan akbar LSN yang merupakan kompetisi sepak bola versi santri tersebut kini tak kunjung bergulir lagi.

Untuk mengisi jeda tersebut, ada usaha lagi yang cukup fenomenal di dunia layar lebar dengan dibuatnya film The Santri. Film yang digadang sukses tersebut merupakan upaya santri dalam partisipasinya di dunia perfilman Indonesia. 

Film The Santri tentunya menggambar versi santri tersendiri ala PBNU. Sebagaimana LSN (Liga Santri Nusantara) yang pemainnya 100% adalah santri, maka pada film The Santri tampaknya bemodus sama. 

Pihak Nu Channel dan produsen berupaya agar aktor dan aktrisnya 100% berlatar santri tulen. Entah bagaimana dan apa parameternya.

Bukanlah hal baru film berbasis kehidupan pesantren di dunia perfilman Indonesia. Jika melihat parameter aktor dan aktrisnya, ada hal yang cukup menarik.

Kita ambil contoh film 3 Doa 3 Cinta yang dibintangi aktor dan aktris kawakan Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo. Keduanya bukan santri, namun mereka tak perlu diragukan lagi prestasinya di dunia akting untuk berperan dalam tema-tema santri.

Sedang dalam film The Santri ini, aktor dan aktrisnya yang notabene santri tulen tidak atau masih belum mempunyai catatan yang mumpuni di dunia akting film profesional.

Sebut saja Veve HOT (House of Tilawah) atau Veve Zulfikar, anak dari Qori Internasional Ustaz Zulfikar, namanya hanya diviralkan dan mencuat via tampilan nasyid-nasyidnya. Tentunya sangat kurang sekali jika dipaksa berakting seni peran profesional ala jebolan disiplin terapan sinematik.

Untung saja tahun lalu dia menggondol penghargaan Santri of The Year 2018. Paling tidak sedikit memberi kepercayaan diri kepadanya di depan kamera.

Aktor lainnya lagi seperti Gus Azmi yang dibesarkan lewat seni gambus juga merupakan usaha peruntungan masuk ke dunia akting profesional. Pun begitu Wirda Mansur, anak Ustaz Yusuf Mansur, paling banter nanti mengandalkan syut-syut kemampuan baca Alqurannya. Seni peran? Tentunya masih nol.

Apalagi dengan ikut-ikutannya Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, yang berperan sebagai ustaz guru pencak silat. Akan menambah tugas sutradara.

Untuk menutupi kelemahan aktor dan aktrisnya, sutradara sangatlah berperan untuk memberi sentuhan magisnya. Salah satunya dengan cara memberi corak atau genre. 

Dan benar, film The Santri ini bergenre semi-action yang menceritakan kisah drama petualangan santri Indonesia hingga ke Amerika. Genre aksi akan banyak menutupi kelemahan seni peran aktor dan aktrisnya dengan melibatkan banyak stuntman.

Genre aksi juga akan banyak memotong adegan khas kemampuan seni peran seperti permimikan, penjiwaan, gestur, dan tensi artikulasi dialog.

Kita paham, Livi Zheng adalah sutradara yang berlatar genre aksi. Kemampuan seni bela dirinya cukup mumpuni. Dia cukup tajam terlatih di Cha Hai Sport School tempat Jet Li dulu membangun kemampuannya.

Pun kemampuan teknik laga dan aksinya akan ditumpahkan Livi Zheng yang jebolan University of Southern California ini dalam film The Santri nanti.

Hal yang mendukung indikasi genre semi-action ini adalah telah berlatihnya para pemain The Santri di beberapa pemusatan latihan pencak silat ala Pagar Nusa.

Kemampuan sang sutradara tak perlu diragukan lagi. Livi Zheng pernah bersaing dengan George Lucas, sutradara Star Wars dan Robert Zemeckis, sutradara Forest Gump. Dan tak lupa film The Santri ini pasti dan akan membawa misi dan pesan moral Islam Nusantara khas PBNU, Islam yang toleran.

Film The Santri pastinya akan sarat dengan nilai-nilai Islam yang santun, toleran, ramah, plural, dan Islam yang membawa budaya akhlakul karimah. Bilang saja Islam liberal hehehe. 

Film The Santri, menurut beberapa sumber, adalah jauh mencerminkan misi Islam radikal, Islam ekstrem, apalagi Islam teror.  Film ini juga digadang mengangkat keanekaragaman budaya yang ada dan berkembang di Indonesia.

Film ini mengambil set lokasi di beberapa tempat di Jawa Timur. Tentunya dengan perpaduan konten pondok pesantren dan situs budaya. Tempat yang dipilih antara lain Pondok Pesantren Mambaus Shoilihin, Candi Penataran, Hutan Maliran, dan juga beberapa pendopo kabupaten.

Corak dan perwatakan film The Santri sepertinya akan berbeda dengan film tema pesantren lainnya. Sebut saja film-film berbasis kehidupan santri yang bersumber dari karya-karya novel Asma Nadia yang cenderung eksklusif dan sektarian yang ketat konsep al wala dan al barra-nya.

Mampukah Livi Zheng menutupi kekurangan para aktor dan aktris dadakan tersebut dengan konsep semi-action-nya? Apakah film The Santri nanti benar-benar menunjukkan keberagaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia yang mampu bersanding dengan Islam toleran?

Mari kita tunggu.