“Waduh, bentar lagi deadline! Mana banyak banget lagi!” itulah kalimat yang terucap ketika saya sedang panik-paniknya menyelesaikan pekerjaan yang mepet dengan deadline. Ya, tapi itu terjadi karena saya menunda pekerjaan tersebut. 

Terkadang, pekerjaan yang menumpuk bukannya membuat kita ingin cepat menyelesaikannya, namun justru kita tunda dengan alasan masih banyak waktu untuk mengerjakan.

“Tenang, masih ada hari esok,” itulah kalimat penenang bagi kita yang ingin bersantai di kala banyak pekerjaan menghadang. Benar, saat itu memang terasa santai, namun rasa panik akan menyertai saat deadline sudah di depan mata.

Ketika sudah panik, kita cenderung tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang sebenarnya mudah akan menjadi sulit karena rasa panik itu. Alhasil, pekerjaan yang kita lakukan menjadi tidak maksimal.

Pernah suatu ketika dimana saya sangat menyesal karena tugas yang saya kumpulkan berakhir dengan label “diserahkan terlambat”. Saya benar-benar menyesal dan mengazamkan diri untuk tidak menunda-nunda lagi.

Sejak saat itu, saya berusaha untuk langsung mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Mengalahkan rasa malas dan mengumpulkan niat untuk mengerjakan tugas tersebut. Tapi, sifat menunda-nunda itu muncul lagi. Entah sampai bingung sendiri bagaimana menyikapinya.

Perilaku menunda-nunda ini dialami oleh kebanyakan orang. Mungkin penyebabnya bisa sama atau beda pada setiap orang. Jika kita mau menghilangkan perilaku menunda-nunda, pekerjaan akan menjadi lebih ringan lho. Kita jadi cepat terbebas dari beban pekerjaan itu. 

Sebenarnya, apa yang membuat seseorang ingin menunda suatu pekerjaan? Dari pengalaman pribadi, sikap menunda itu bisa timbul karena mindset kita yang mengganggap waktu pengerjaan masih lama. Jadi, mengerjakan di hari esok pun masih bisa.

Ketika hari esok tiba, lalu kita berkata "masih banyak waktu ah besok saja". Begitu seterusnya sampai deadline sudah benar-benar tampak nyata.

Scrolling media sosial, menonton series, atau sekedar rebahan terasa lebih menyenangkan ketimbang memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan. Menyenangkan memang, tapi tak semenyenangkan itu karena masih ada beban pekerjaan.

Selain merasa masih punya banyak waktu untuk mengerjakan, menunda bisa disebabkan pekerjaan terlalu banyak. Kita jadi kebingungan mau memulainya dari mana. Atau bisa jadi karena kita ingin mendapatkan hasil yang sempurna, jadi kita perlu menunggu ketika kita benar-benar niat mengerjakannya.

Ketika memilih untuk menunda suatu pekerjaan, berarti kita harus mau menerima konsekuensinya. Pekerjaan yang menumpuk, terbebani setiap waktu, panik, stress, dan tidak tenang melakukan kesenangan. Itu semua akan terasa.

Ya, betul. Semakin kita menunda pekerjaan, pekerjaan lain akan terus datang sampai akhirnya menumpuk. Semakin banyak pekerjaan akan membuat kita semakin bingung mau mengerjakan yang mana dulu. Akhirnya, membuat kita semakin menunda.

Mau mengerjakan di awal atau di akhir masa pengerjaan sebenarnya membutuhkan waktu yang sama. Tapi beda cerita dengan yang benar-benar mendekati deadline.

Kalau mengerjakan di awal, kita akan mendapatkan istirahat di akhir. Beban pekerjaan cepat hilang dan bebas melakukan aktivitas lain. Melakukan hobi juga bisa banget karena pekerjaan kita sudah selesai.

Beda cerita kalau kita mengerjakan di akhir. Itu artinya kita punya waktu istirahat di awal, tapi dengan beban pekerjaan karena belum terselesaikan. Mau melakukan aktivitas lain juga rasanya kurang bisa menikmati. 

Kita bebas memilih mau mengerjakaan di awal dan bisa beristirahat dengan tenang atau mengerjakan di akhir yang istirahatnya masih ada beban.

Kalau dipikir-pikir pasti kita memilih istirahat di akhir ya. Setelah pekerjaan selesai, kita bebas mau ngelakuin apa aja. Mau jalan-jalan, scrolling media sosial berjam-jam, nonton film kesukaan, nglakuin hobi, sampai rebahan pun bisa kita lakukan dengan tenang.

Sebenarnya, kita semua tidak ingin menunda-nunda. Kita semua pasti ingin pekerjaan kita cepat selesai bukan? Syaratnya adalah kita harus punya tekad untuk berubah. Perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit justru berefek daripada perubahan “seabreg” tapi hanya di satu waktu.

Konsisten. Menurut saya, itulah kuncinya. Perubahan yang bertahap justru bisa membentuk kepribadian kita. Pelan-pelan tapi pasti.  Ketika sudah menjadi kebiasaan, maka akan lebih mudah untuk diterapkan.

Ketika ada pekerjaan baru, kita bisa meniatkan diri untuk langsung mengerjakan pekerjaan tersebut. Jika tidak, kita bisa merumuskan step-step pengerjaan terlebih dahulu. 

Pas lagi malas-malasnya, kita bisa melakukan satu dari step yang kita buat. Walaupun sedikit, tetapi ada kemajuan yang kita lakukan. Paksakan diri kita. Dengan begitu, pekerjaan akan cepat terselesaikan dan terhindar dari sikap menunda-nunda.

Kita juga bisa memberi reward kepada diri kita setelah pekerjaan kita selesai. Paksakan diri untuk menyelesaikannya, menyingkirkan segala macam distraksi, dan mengerjakannya. Setelah itu,kita bisa bebas melakukan apapun.

Seiring berjalannya waktu dan semakin dewasa kita, maka akan semakin banyak tuntutan pekerjaan atau tugas yang harus kita selesaikan. Menundanya justru akan membuat pekerjaan bertambah banyak. Agar tak terjadi hal seperti itu, kita harus berusaha menyelesaikan secepatnya.

Perlahan tapi pasti, kita semua bisa menghilangkan sikap menunda-nunda yang sudah menjadi kebiasaan kita. Sejenak memaksakan diri untuk tidak menikmati kesenangan sesaat, justru akan membawa kita menuju kemudahan. Semangat memulai perubahan!