Penulis pernah mendapatkan kiriman dari seorang kolega mengenai foto tugas akhir (skripsi) yang “mangkrak” di sebuah ruang di salah satu perpustakaan di Yogyakarta. Ia berserakan dan bertumpuk bak sampah yang menggunung. 

Kejadian ini disinyalir karena terus derasnya arus tugas akhir yang membanjiri ruang perpustakaan itu setiap tahunnya, tanpa diimbangi dengan kebijakan pengelolaan naskah tugas akhir yang baik. 

Tampaknya alasan ketersediaan ruang yang makin “sempit” menjadi celotehan belaka dan alasan kono. Pasalnya, di era digital saat ini, tantangan untuk mendokumentasikan, merawat, dan menyebarkan hasil penelitian—terutama penelitian ilmiah menjadi momok setiap perguruan tinggi di negeri ini.

Sebelumnya, pada Maret 2016 lalu, secara terang-terangan UIN Alauddin Makassar juga memutuskan untuk membuang ribuan skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswanya. 

Lagi-lagi keterbatasan ruang dan makin buruknya naskah itu akibat diserang rayap atau kualitas kertas yang makin lama terkikis—menjadi faktor utama yang membuat Quraisy Mathar, selaku Ketua Perpustakaan UIN membuang skripsi dan karya ilmiah lainnya, dalam keterangannya di artikel OKEZONE, UIN Alaudin Akui Buang Ribuan Skripsi.

Padahal, jika ditelisik jumlah publikasi ilmiah Indonesia kini makin baik. Seperti yang dikemukakan dalam artikel SINDONEWS, Publikasi Ilmiah Indonesia Terbanyak Kedua di ASEAN. 

Publikasi internasional Indonesia berhasil bertengger di peringkat kedua setelah berjuang keras menundukkan Singapura. Adapun jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia sebanyak 5.125 buah, Singapura dan Thailand masing-masing 4.948 dan 3.741 buah. Sementara itu, Malaysia unggul dengan berhasil mengumpulkan 5.999 publikasi ilmiah. 

Menariknya lagi, hal tersebut berbanding terbalik dengan jumlah sitasi yang konon kualitas tulisanlah yang menjadi syarat sitisasi tinggi, bukan kuantitas. Walaupun hal ini patut diacungi jempol sebagai upaya dan gebrakan nyata pemerintah.

Pertanyaannya kemudian, siapa yang mengonsumsi tulisan ilmiah itu? Jawabannya tentu tidak jauh dari ranah akademis, seperti para dosen dan mahasiswa.

"Padahal sejatinya hasil penelitian yang dihasilkan haruslah dibaca, dipahami, dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat," ujar Muh. Taufiq Al Hidayah, “Mempopulerkan Menulis Populer,” dalam Tribun Timur (9/7/2019, hal. 29).

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2019 mencatat total jumlah mahasiswa Indonesia yang masuk pada 2018 sebanyak 7 juta jiwa. Angka tersebut terdiri atas 4,5 juta jiwa mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 2,5 juta jiwa mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dalam artikel Databoks Katadata, Tertinggi Sejak 1997, Jumlah Mahasiswa Indonesia 2018 Capai 7 Juta JIWA.

Berdasarkan data tersebut, artinya sama juga dengan produksi jumlah tugas akhir di perguruan tinggi di Indonesia, dengan asumsi satu mahasiswa berkewajiban menuntaskan satu tugas akhir. 

Belum lagi jika ada kewajiban untuk menerbitkan hasil penelitian tersebut ke jurnal terindeks SINTA atau jurnal internasional terindeks SCOPUS. Tentu hal ini merupakan angka yang sangat bombastis untuk jumlah karya tulis ilmiah di Indonesia.

Namun, perlu kita sadari bahwa tak sepenuhnya karya tulis di atas dinikmati oleh masyarakat Indonesia karena tidak disajikan secara populer. Banyak juga penelitian-penelitian yang hanya mampu dikonsumsi oleh bidang tertentu saja, seperti bidang teknik dan sains. 

Pengemasan tulisan yang kaku dan sangat akademis menjadi ciri tulisan ilmiah di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Hal itu berpeluang memberikan jarak dan ruang diskusi antara yang berpendidikan tinggi dan “tidak berpendidikan tinggi” untuk saling bertegur sapa. Alhasil, pemikiran ilmiah yang lahir itu hanya berputar di dunia akademis saja.

Jumlah Pengguna Internet di Indonesia

Pada tahun 2018, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia 264,16 juta jiwa. Data tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). 

Berdasarkan umur, sebanyak 91% pengguna berusia 15—19 tahun, 88,5% berusia 20—24 tahun, dan 82,7% berusia 25—29 tahun. Sementara itu, persentase pengguna internet berusia 35—39 tahun mencapai 68,5%, sedangkan kelompok umur 40—44 tahun mencapai 51,4%.

Ini berarti bahwa media elektronik merupakan salah satu alternatif yang berpeluang memberikan sumbangan akses pengetahuan untuk masyarakat di Indonesia. Bayangkan jika tulisan ilmiah dari para akademisi di atas dialih wahanakan menjadi bacaan atau tulisan populer yang dikemas secara “renyah”. 

Tentu selain penyebarannya mudah melalui media daring, akses kontribusi para pemikir dari para akademisi di atas mampu menyapa publik melalui tulisan populer—selain itu, jumlah pembaca makin meningkat. Bahkan, beberapa media massa di Indonesia memberikan honorarium bagi para penulis.

Artinya, penerimaan informasi mengenai hasil riset terkini mampu merambah berbagai lini di negeri ini, seperti Wirausaha (100%), Guru (100%), Pedagang Onlineshop (100%), Jasa Konsultan (94,7%), Mahasiswa (92,1%), Pegawai BUMD (90,9%), ASN (89,9%), Pegawai BUMN (88%), Karyawan Swasta (85,7%), Karyawan Kontrak (81,3%), Buruh Pelabuhan (80%).

ASN Honorer (76,9%), Wirausaha Menengah (74,9%), Pelajar (71,8%), Buruh Pabrik (71,6%), Pensiunan TNI/POLRI (66,7%), Buruh Kontrak (66,2%), Nelayan Kecil (60%), Ibu Rumah Tangga (48,2%), Pensiunan ASN (39,3%), hingga Buruh Tani (25,7%), yang jika ditelisik mereka adalah para pengguna internet berdasarkan pekerjaan (APJII, 2018).

Apa itu Gerakan Ayo Menulis Populer?

Secara sederhana, gerakan ini berfokus pada kepenulisan yang sifatnya populer. Mengacu pada KBBI V, kata populer berarti sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya, mudah dipahami banyak orang. Kata “mudah dipahami” mengindikasikan upaya yang tidak gampang untuk mengubah tulisan ilmiah menjadi bacaan populer. 

Sasaran utama dalam pelatihan ini adalah para akademisi, seperti dosen dan mahasiswa. Program prioritas yang dilakukan saat ini adalah pelaksanaan pelatihan Menulis Populer dengan tajuk “Cara Praktis Mengubah Jurnal, Karya tulis, Tesis, dan Disertasi menjadi Bacaan populer.

Berdiri pada 2016, Gerakan Ayo Menulis Populer memiliki tujuan utama, yaitu meningkatkan minat baca masyarakat, menyajikan tulisan populer di media massa, membumikan hasil penelitian akademisi Indonesia menjadi produk berguna bagi masyarakat, apalagi jika ada temuan baru yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Berdasarkan pemahaman ini, menulis populer yang diinisiasi oleh Gerakan Ayo Menulis Populer perlu terus digalakkan guna menjembatani pemikiran para akademisi dengan masyarakat luas di seluruh Indonesia—sekaligus sebagai upaya untuk menetralisasi tumpukan “sampah” ilmiah di perpustakaan yang tidak banyak “dijamah,” atau bahkan dibuang begitu saja. 

Gerakan Ayo Menulis Populer telah diakusisi oleh Jogja International Writing Academy (JIWA), @jiwacademy (Instagram). Output pelatihan ini adalah menghasilkan tulisan populer yang diterbitkan di media massa (daring) di Indonesia, di antaranya sebagai berikut: