Peneliti
2 tahun lalu · 370 view · 4 menit baca · Buku kayu.jpg

Menumpuk Buku di Pojok Ingatan

Terus terang, saya tidak tahu tulisan saya di bawah ini masuk dalam kategori apa. Yang jelas, hari ini, saya hanya sedang memulihkan ingatan 10 tahun yang lewat. Di sini, saya mau memastikan dan meyakinkan kepada pembaca, bahwa mengingat adalah aktivitas yang sangat menyenangkan.

Pasalnya, dalam mengingat, kita akan melewati gerbong-gerbong masa lalu yang penuh kesan dan kenangan eksklusif, dan itu hanya kita sendiri yang bisa menikmati dan merasakan sensasinya.

Kala itu, saya kebetulan menempati ruang kedua dari enam ruang yang tersedia. Satu ruangnya memiliki tiga petak ruang. Panjang dan lebar, tepatnya luas dari ruang tersebut, saya tak tahu persis berapa meter, yang jelas, lumayan besar untuk ukuran penghuni satu orang.

Satu pintu masuk di depan ditambah dua buah jendela yang dilengkapi gordeng kain kasar, bercorak burung bangau, warnanya hijau muda. Di petak pertama, ada kalender tahun 2009, tergantung pula sebuah pluit hitam yang menempel di dinding sebelah kirinya.

Bersebelahan dengannya, terdapat dua buah kantong kertas lumayan besar yang sengaja digantung agar terlihat rapi. Di depannya ada topi hijau yang sudah lusuh menempel. Terlihat di lantai pojok dekat jendela sejumlah tumpukan buku, koran dan kertas-kertas lain yang dipak dalam beberapa dus bekas mie.

Bergandengan dengannya gulungan matras hitam dalam posisi berdiri, dua buah toples yang terisi gula dan satu toples lainnya terisi teh tubruk cap tong tji. Tampak juga satu mug listrik yang berfungsi sebagai alat pemanas air minum. Sedangkan dua buah speaker kecil, monitor komputer serta CPU berada di pojok ujung sebelah selatan.

Tak seperti biasa posisi CPU justru terbalik, bagian depan malah ada di belakang. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan ketika mengalihkan kabel monitor ke perangkat tv combo yang diletakkan di atas CPU. Perangkat tv combo dan sebuah antena duduk kecil  diletakkan diatas CPU.

Petak kedua diisi satu karpet plastik ukuran sedang serta dua buah bantal kecil, difungsikan sebagai tempat tidur. Disana juga terlihat lemari plastik yang berlaci empat berwarna coklat kombinasi hitam  sebagai tempat bersemayamnya pakaian yang sudah dilipat atau disetrika.

Di dindingnya terdapat kapstok kayu berwarna coklat, posisinya persis di atas karpet plastik tersebut. Sedangkan kapstok merah yang terbuat dari plastik diletakkan di balik pintu menuju petak ketiga. Terlihat juga beberapa pakaian yang masih tergantung di hanger. Biasanya jemuran yang belum dimasukkan ke lemari diparkir dulu di cantolan paku yang letaknya tak jauh dari pintu petak ketiga tersebut.

Petak ketiga difungsikan sebagai dapur. Di sana ada wastafel tua dan kamar mandi. Petak ini tak seluas petak satu dan dua. Tentang dapur, saya tak memfungsikannya sebagaimana mestinya, untuk masak memasak. Sama sekali saya tak pernah bergelut dengan aktivitas tersebut sejak awal menempatinya, bukan karena tak suka atau tak bisa memasak tapi terlalu sempit dan pengap untuk sebuah aktivitas tersebut.

Dapur difungsikan hanya untuk menyimpan galon air,  piring, gelas, mangkok dan sejenisnya. Tentang kamar mandi, bisa juga difungsikan untuk mencuci pakaian. Biasanya, saya merendam di ember kemudian menyikat dan mengucek di dalamnya.

Tak ada tempat khusus untuk mencuci pakaian di sana, sangat terbatas. Tak terasa, saya waktu itu menghuninya hinga sampai 3 tahun. Diakui atau tidak, suasana disini, di tengah perkampungan warga Bonang, relatif hening dan asri dibanding komplek Dasana Indah yang sudah mulai padat itu.

Tumpukan Buku

Lihatlah itu sejumlah buku tercecer di mana-mana. Tapi, ada hal menarik yang jadi perhatian mata, satu tumpukan buku di pojok ruang pertama. Ia bertumpukan secara vertikal, dari bawah hingga atas. Kira-kira tingginya mencapai, kurang lebih, 1 meter.

Saya akan sebutkan buku-buku tersebut berikut pengarangnya. Jika pengarangnya tak dituliskan di buku tersebut, saya akan tulis penerbitnya saja. Saya akan menyebutnya dari tumpukan yang paling atas hingga paling bawah, antara lain: Nusantara Sejarah Indonesia: Bernand H. M. Vlekke | Microsoft Excel: M. Agus J. Alam | Arok Dedes: Pramoedya Ananta Toer | Penghargaan Achmad Bakrie Award 2008: Freedom Institute

Freedom Institute: Freedom Institute | Filsafat Mulla Shadra: Syaifan Nur | Metafisika Iqbal: Ishrat Hasan Enver | Sambutan Abu Rizal Bakrie dalam Penghargaan Achmad Bakrie Award: Freedom Institute | Averroisme: Muhammad Iqbal | Nietzsche: St. Sunardi | Semiotika Tuhan: Audifax | Gerbang Kearifan: Mulyadhi Kartanegara | Mendobrak Sentralisme Ekonomi Indonesia 1986-1992: Rizal Mallarangeng | Catatan Pinggir 5: Goenawan Mohamad

Gajah Mada: Langit Kresna Hariadi | Ramayana: Wawan Susetya | Dalam Bayang-Bayang Lenin: Franz Magnis Suseno | Microsof Excel 2000: Mico Pardosi | Sejarah Ringkas Filsafat Barat: Bernard Delgaauw | Sari Sejarah Filsafat Barat 1: Harun Hadiwijono | Para Filusuf Penentu Gerak Zaman: Muji Sutrisno dan Budi Hardiman | Sari Sejarah Filsafat Barat 2: Harun Hadiwijono | Memperdebatkan Status Filsafat Kontemporer: Jozef Niznik dan John T. Sanders

Mozaik Khazanah Islam, Bunga Rampai dari Chicago: Mulyadhi Kartanagara | Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, Nomor 9, 2003: Al-Huda | Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, Nomor 4, 2001: Al- Huda | Al- ‘Arabiyatu li an-Nasyiin 1 : Saudi Arabia | Orientasi di Alam Filsafat: Van Peursen | Membaca Pikiran Tuhan: Paul Davies | Javid Namah: Muhammad Iqbal | Pendidikan Bebasis Realitas Sosial: Firdaus M. Yunus | Sang Musafir: Mohamad Sobary

Ibnu Rusyd Filosof Muslim dari Andalusia: Kamil Muhammad Muhammad Uwaidah | Islam Intelektual: SH. Nashr, WC. Chittick | Ibnu Rusyd: Zuhairi Misrawi | Bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 6: Erlangga | Pelajaran Bahasa Arab MI  2: Armico | Bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 4: Erlangga | Bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 5: Erlangga | Bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 3: Erlangga

Pendidikan Jasmani untuk SMP: Roji | Sejarah Filsafat Barat: Bertrand Russel | Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 6: Acep Hermawan | Al- ‘Arabiyatu li an-Nasyiin 4 : Saudi Arabia | Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 4: Acep Hermawan | Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyyah Kelas 5: Acep Hermawan | Lancar Berbahasa Arab 2 untuk Kelas V Madrasah Ibtidaiyyah: Agus Wahyudi | Kamus Bergambar Inggris Indonesia Arab: W.S. Pribadie dan Mahfan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “Kapan buku hasil karya saya ikut bergabung dalam tumpukan buku tersebut di atas?” Sebuah pertanyaan telak yang mengahantam. Suatu saat, dalam waktu dekat, ia pasti akan ikut bergabung di sana. Dan saya akan meletakkannya di tumpukan yang paling atas. Kini ia sedang dalam proses. Wait and see!

Gunung Buntung, 21 Januari 2017

Artikel Terkait