Toleransi beragama adalah toleransi yang mencakup masalah-masalah keyakinan dalam diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau ketuhanan yang diyakininya.

 Seseorang harus diberikan kebebasan untuk meyakini dan memeluk agama (mempunyai akidah) yang dipilihnya masing-masing serta memberikan penghormatan atas pelaksanaan ajaran-ajaran yang dianut atau diyakininya.  

Toleransi beragama merupakan realisasi dari ekspresi pengalaman keagamaan dalam bentuk komunitas.  Toleransi merupakan bentuk akomodasi dalam interaksi sosial.  Manusia beragama secara sosial tidak bisa menafikan bahwa mereka harus bergaul bukan hanya dengan kelompoknya sendiri, tetapi juga dengan kelompok berbeda agama.

Umat beragama musti berupaya memunculkan toleransi untuk menjaga kestabilan sosial sehingga tidak terjadi benturan-benturan ideologi dan fisik di antara umat berbeda agama.

Toleransi di Tengah Keragaman Beragama

Toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama berpangkal dari penghayatan ajaran masing-masing. Menurut said Agil Al Munawar ada dua macam toleransi yaitu toleransi statis dan toleransi dinamis.

 Toleransi statis adalah toleransi dingin tidak melahirkan kerjasama hanya bersifat teoritis. Toleransi dinamis adalah toleransi aktif melahirkan kerja sama untuk tujuan bersama, sehingga kerukunan antar umat beragama bukan dalam bentuk teoritis, tetapi sebagai refleksi dari kebersamaan umat beragama sebagai satu bangsa.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.

Dalam masyarakat berdasarkan pancasila terutama sila pertama, bertakwa kepada tuhan menurut agama dan kepercayaan masing-masing adalah mutlak. Semua agama menghargai manusia maka dari itu semua umat beragama juga wajib untuk saling menghargai. Dengan demikian antar umat beragama yang berlainan akan terbina kerukunan hidup.

Prinsip-prinsip Toleransi Beragama

Dalam melaksanakan toleransi beragama kita harus mempunyai sikap atau prinsip untuk mencapai kebahagiaan dan ketenteraman. Adapun prinsip tersebut adalah:

a.Kebebasan Beragama

Hak asasi manusia yang paling esensial dalam hidup adalah hak kemerdekaan atau kebebasan baik kebebasan untuk berfikir maupun kebebasan untuk berkehendak dan kebebasan di dalam memilih kepercayaan atau agama.

Kebebasan merupakan hak yang fundamental bagi manusia sehingga hal ini yang dapat membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya. Kebebasan beragama sering kali disalah artikan dalam berbuat sehingga manusia ada yang mempunyai agama lebih dari satu.

Yang dimaksudkan kebebasan beragama di sini bebas memilih suatu kepercayaan atau agama yang menurut mereka paling benar dan membawa keselamatan tanpa ada yang memaksa atau menghalanginya.

Kemerdekaan telah menjadi salah satu pilardemokrasi dari tiga pilar revolusi di dunia. Ketiga pilar tersebut adalah persamaan, persaudaraan dan kebebasan.  Kebebasan beragama atau rohani penulis artikan sebagai suatu ungkapan yang menunjukkan hak setiap individu dalam memilih keyakinan suatu agama.

b.Penghormatan dan Eksistensi Agama lain

Etika yang harus dilaksanakan dari sikap toleransi setelah memberikan kebebasan beragama adalah menghormati eksistensi agama lain dengan pengertian menghormati keragaman dan perbedaan ajaran-ajaran yang terdapat pada setiap agama dan kepercayaan yang ada baik yang diakui negara maupun belum diakui oleh negara.

Menghadapi realitas ini setiap pemeluk agama dituntut agar senantiasa mampu menghayati sekaligus memposisikan diri dalam konteks pluralitas dengan didasari semangat saling menghormati dan menghargai eksistensi agama lain. Dalam bentuk tidak mencela atau memaksakan maupun bertindak sewenang-wenangnya dengan pemeluk agama lain.

c.Agree in Disagreement

“Agree in Disagreement” (setuju di dalam perbedaan) adalah prinsip yang selalu didengugkan oleh Mukti Ali. Perbedaan tidak harus ada permusuhan, karena perbedaan selalu ada di dunia ini, dan perbedaan tidak harus menimbulkan pertentangan.  

Mewujudkan kerukunan dan toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama merupakan bagian usaha menciptakan kemaslahatan umum serta kelancaran hubungan antara manusia yang berlainan agama, sehingga setiap golongan umat beragama dapat melaksanakan bagian dari tuntutan agama masing-masing.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap toleransi secara umum bersifat substansif yang dijadikan perekat untuk keharmonisan hubungan antar umat beragama, sehingga penafsiran yang berkenan dengan hubungan antara Muslim dan non Muslim sangat inklusif.

Sikap toleransi agama memandang bahwa kebebasan beragama yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah [02]: 256 tidak perlu ada pemaksaan. Karena agama merupakan sumber dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang diikuti dengan perbuatan yang terdiri dari keyakinan-keyakinan.

Keyakinan dan keimanan merupakan persoalan hati yang tidak bisa dipaksakan. Tindakan pemaksaan terhadap manusia akan bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk berpikir sekaligus kritis.

Sebagai makhluk rasional, manusia tentu memiliki pisau analisis dalam memilih. Mengetahui dan membedakan antara yang baik dan buruk adalah niscaya bagi manusia.

Artinya, akan sangat keliru jika manusia menjatuhkan pilihannya terhadap keburukan sementara terdapat pilihan yang jauh lebih baik. Pilihan ditentukan oleh tiap individu untuk memilih dan melakukan serta menerima konsekuensi logis terhadap pilihannya tersebut.

Bersikap toleran merupakan solusi terciptanya kerukunan di tengah perbedaan agar tidak terjadi perpecahan dalam mengamalkan agama

Toleransi beragama tidak berarti bahwa seseorang yang telah mempunyai keyakinan kemudian berpindah atau merubah keyakinannya untuk mengikuti dan berbaur dengan keyakinan atau peribadatan agama-agama lainnya (sinkretisme).

Tidak pula dimaksudkan untuk mengakui kebenaran semua agama/ kepercayaan, melainkan bahwa ia tetap pada suatu keyakinan yang diyakini kebenarannya, serta memandang benar keyakinan orang lain, sehingga dalam dirinya terdapat kebenaran yang diyakininya sendiri menurut suara hatinya sendiri yang tidak diperoleh atas dasar paksaan orang lain atau diperoleh dari pemberian orang lain.