Sedikit atau banyak, mungkin saja, setelah membaca judul artikel ini akan memicu tanggapan penuh rasa penasaran dari orang yang membacanya, seperti, begini aja kok ditulis, sih? Kurang kerjaan ya? Clickbait? Dan seterusnya.

Ya. Saya memang sedang ingin menyusun sebuah artikel sederhana yang setidaknya akan bermanfaat untuk saya pribadi. Jadi, bagi yang tidak berkepentingan atau sama sekali tidak berminat dengan tulisan ini, silakan minggir sana! Hush, hush! Hehe. Bercanda.

Jika ada pihak lain yang mungkin saja bisa mengambil manfaat dari artikel ini, anggap saja itu sebuah kebetulan. Sebab, saya sendiri pun sebenarnya tidak terlalu yakin apakah tulisan saya ini akan bisa memberi manfaat pada orang lain, nantinya.

Bagi para penulis pemula, berdasarkan pengalaman saya pribadi, mungkin saja menulis adalah sebuah momok tersendiri. Selalu ada kekhawatiran pada saat menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Khawatir tulisannya jelek. Khawatir ditolak editor. Khawatir buang-buang waktu. Dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.

Namun, setelah saya membaca beberapa artikel yang inspiratif dari penulis lain, baik yang ada di laman ini maupun dari laman lainnya, saya pun mulai tergoda untuk menyelami dunia tulis-menulis. Entahlah, setelah membaca artikel-artikel mereka, rasanya jemari dan pikiran saya ini rasanya menjadi gatal sendiri kalau tidak lekas memulainya. Apapun tulisannya dan bagaimanapun hasilnya nanti, itu urusan belakangan. Yang penting, sekarang nulis dulu!

Bagi penulis pemula, manakala mendapatkan hasil tulisan sendiri yang jelek itu wajar. Sebab sesuatu yang baik itu bisa jadi harus melalui proses yang jelek dulu. Seperti kata iklan, nggak ada noda ya nggak belajar.

Jika kita mau mengingat lagi, sewaktu awal kali kita belajar menulis di bangku TK atau sekolah dasar, pada umumnya, tulisan tangan kita itu akan kita anggap kurang baik--untuk tidak menyebutnya buruk. Bahkan, lebih dari itu, kita dan orang-orang di sekeliling kita pun menyebut tulisan kita itu bak benang kusut.

Namun, seiring berjalannya waktu, dan makin terbiasanya kita untuk membentuk pola-pola tulisan yang artistik, maka tulisan kita semakin lama berubah menjadi karya yang sedap dipandang mata. Dan kita pun mulai merasakan ternyata menulis dengan tulisan tangan itu adalah hal yang menyenangkan, seiring meningkatnya apresiasi atas tulisan tangan kita.

Kita pun bisa jadi tidak pernah menyangka kalau tulisan kita itu kian lama kian baik, kian berkarakter, yang nilai seninya jauh semakin menguat dibandingkan tulisan kita saat pertama kali belajar menulis. Dan, tidak jarang, karena kian kuatnya karakter tulisan tangan kita itu, maka orang lain pun akan langsung dapat mengenali tulisan kita, tanpa harus memberitahu pada mereka sebelumnya.

Itulah gambaran awal tentang pengalaman kita dalam belajar menulis yang akan menjadi penjelas dari proses kita saat akan membentuk karya tulis yang berikutnya. Berangkat dari gambaran awal ini, kita pun dapat membawanya pada proses untuk membuat karya tulis lainnya yang fokusnya adalah menyalurkan segala ide, pikiran, dan imajinasi kita dalam bentuk tulisan.

Bedanya, jika pengalaman belajar menulis kita di sekolah dasar dulu adalah berkaitan dengan hal-hal yang bersifat visual, nilai artistiknya ditentukan oleh seberapa  lihai tangan kita dalam menggoreskan pena, maka untuk tingkatan belajar menulis  yang lebih lanjut adalah bagaimana kita akan menampilkan apa saja yang ada dalam pikiran kita dalam bentuk tulisan, sehingga ia dapat muncul dengan rasa yang se-ciamik mungkin di hadapan para pembacanya.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, pertama kali saya mulai tertarik untuk menulis artikel populer ini muncul pada saat saya duduk di bangku kuliah. Waktu itu, saya pernah mengikuti seminar kepenulisan yang diisi oleh Pak Ersis Warmansyah Abas, yang penyelenggaranya adalah teman-teman dari Halaqah Ilmiah, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Sebuah kalimat dari Pak Ersis yang begitu melekat dalam ingatan saya adalah: "Jangan jadikan media cetak--waktu itu media digital belum sebegitu populer sekarang--itu sebagai penghalang bagi kita untuk menulis. Jika ingin menulis, ya, silakan menulis saja dimana mana saja tempatnya. Asalkan tidak menulis di tembok atau fasilitas umum. Hehe. 

Silakan menulis di dinding facebook, di blog pribadi, atau di catatan pribadi pun boleh. Dan ingat, manakala ide itu lekas muncul, maka harus lekas dicatat supaya ia tidak menguap begitu saja." itulah pesan dari Pak Ersis yang masih saya ingat hingga sekarang dan selalu saya coba praktikkan.

Pada saat ide itu muncul, saya akan langsung  mencatatnya pada aplikasi 'notes' saya. Jika saya sedang senggang, maka saya akan langsung mengembangkannya dan kalau perlu merampungkannya.

Namun, manakala saya sedang tidak memiliki cukup banyak waktu, maka saya akan mencatat ide-ide pokoknya saja. Ide pokok itu bisa dalam bentuk satu kata, beberapa kata, atau juga bisa berupa sebuah kalimat.

Saya mengibaratkan ide pokok seorang penulis ini ibarat keyword, kata kunci yang ada dalam jurnal penelitian. Dimana melalui beberapa keyword itu, seorang penulis atau peneliti akan mengembangkan tulisannya sehingga rampung dalam bentuk kesimpulan.

Jika saya tidak memiliki cukup waktu, saya akan membiarkan ide pokok ini dalam catatan saya. Saya akan mengendapkannya dan membiarkannya berkembang dengan sendirinya dalam pikiran saya. Barulah, jika saya telah memiliki waktu yang cukup senggang maka saya akan menjamah kembali tulisan itu. Saya mencoba meneruskan dan menyelesaikan ide pokok yang telah terendap itu hingga menjadi sebuah tulisan artikel yang utuh.

Rerata artikel yang ditulis di berbagai media berkisar antara 700 hingga 1.000 kata. Dan target sebanyak itulah yang minimal harus saya penuhi untuk dapat menyebutnya sebagai karya tulis yang telah selesai.

Dan manakala jumlah kata dalam artikel ini belum mencapai sejumlah kata ini, maka saya akan kembali menyimpannya dan mengembangkannya lagi pada suatu saat nanti hingga ia menjadi sebuah karya yang paripurna.

Setelah saya menulis pengalaman saya ini, lantas apa hubungannya penjelasan saya ini dengan tulisan yang jelek? 

Begini. Saya selalu berasumsi bahwa sebaik apa pun gagasan, wacana, manakala tidak dirampungkan dalam konsep yang jelas dan matang, maka ia tak ubahnya angan-angan kosong yang kurang elok untuk direnungkan.  Bahkan, bisa jadi, ia juga akan menjelma sebagai gagasan-gagasan liar yang akan menakutkan siapa saja yang memikirkannya.

Kita bisa saja mengasumsikan orang yang menulis itu adalah ibarat orang yang hendak membangun sebuah rumah. Siapa saja boleh berencana untuk membuat rumah, baik itu rumah yang sederhana maupun megah, asalkan ada niat dan kesungguhan untuk merampungkannya.

Niat untuk merampungkan bangunan rumah ini akan mungkin terbesit oleh siapa saja manakala mereka menyadari kemampuan dirinya untuk mewujudkan hal itu. Sehingga dalam hal ini modal kemampuan bagi seseorang yang hendak membangun sebuah rumah setidaknya adalah: tersedianya finansial yang cukup, konsep bangunan yang matang, tersedianya bahan material, kemudian pihak yang akan mengerjakannya.

Manakala keempat modal ini telah terkumpul semuanya dan proses pembangunan pun terus dijalankan, maka besar kemungkinan, harapan untuk memiliki bangunan rumah ini akan terwujud.

Cita-cita untuk membangun sebuah rumah tidak boleh hanya diniatkan akan selesai separuh jalan saja. Yang maksudnya, berniat membangun rumah namun tak ada keinginan sama sekali untuk merampungkannya. Biasanya, proses pembangunan rumah ini sulit untuk dirampungkan adalah sebab terlalu lebarnya selisih antara anggaran pembangunan dengan kemampuan yang dimiliki.

Oleh sebab itu, seseorang yang hendak membangun rumah seharusnya dapat bersikap realistis terhadap keadaan diri sendiri, yakni dengan menyesuaikan antara target pembangunan rumahnya dengan budget yang telah ada. Dan alangkah bijaknya jika ia dapat mengurungkan niat untuk membuat rumah yang megah jika modalnya tidak memungkinkan.

Dengan demikian, keinginan untuk memiliki rumah yang jadi dan siap pakai akan lebih berpeluang terwujud sekalipun bentuknya lebih sederhana. Rumah yang sederhana tidak berarti ia jelek, sebab sebenarnya ia memiliki keunikan konsep tersendiri, yang mungkin akan membuat siapa saja merasa betah ketika tinggal di dalamnya.

Siapa tahu di balik kesederhanaan itu ternyata terdapat manajemen keuangan dan anggaran yang sangat rapi dari orang yang membangunnya? Siapa tahu di balik qana'ah-nya bagunan itu justru menyimpan kebahagiaan tersendiri bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya?

Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh seorang yang bijak, hiduplah secara sederhana (qana'ah) niscaya kamu akan menikmati kehidupan layaknya seorang raja. 'Isy qani'an takun malikan.

Dengan demikian, bangunan rumah yang sederhana namun bisa rampung itu lebih baik ketimbang bangunan yang rencananya akan dibuat megah  namun pada akhirnya ia dicampakkan begitu saja sebab tidak tersedianya dana untuk menyelesaikannya.

Dan bahkan tidak jarang, rumah yang tidak selesai ini pada akhirnya justru menimbulkan kesan mengerikan bagi siapa saja yang memandangnya. Oleh sebab itulah, bangunan rumah itu sedapat mungkin harus diselesaikan, bagaimanapun keadaannya. Sebab, sebuah bangunan baru bisa dinilai baik-buruknya manakala ia telah selesai dikerjakan.

Sebelum rumah itu selesai dikerjakan, maka siapa pun pasti tidak akan pernah mampu untuk melihat keindahan bentuk fisiknya kecuali hanya dalam bentuk angan-angan. Dan sebenarnya, proses untuk merampungkan rumah ini adalah proses untuk menutupi keburukan demi keburukan yang melekat padanya.

Mulai dari keburukan pada saat ia masih berbentuk tanah kosong yang menganggur, kemudian berubah menjadi keburukan karena masih berbentuk bangunan yang setengah jadi. Berlanjut pada keburukan berikutnya yang muncul karena rumah belum dihias. Berkembang lagi pada keburukan berikutnya sebab rumah belum diisi sepenuhnya dengan perabot yang lengkap. Dan terus berkembang lagi keburukan-keburukan berikutnya yang akan mengantarkannya pada kondisi yang mendekati ideal.

Proses untuk menutup keburukan pada saat membuat rumah inilah yang dapat kita bawa sebagai model perbandingan kita untuk hal tulis-menulis. Dimana pada kegiatan menulis ini pun sebenarnya juga terdapat proses untuk menutupi kejelekan demi kejelekan.

Mulai dari jeleknya sebuah tulisan sebab ia masih berupa konsep yang mentah. Berlanjut pada kejelekan berikutnya, yakni pada saat tulisan masih pada tahap pengerjaan. Berkembang lagi kejelekannya karena masih adanya kesalahan penulisan. Kemudian kejelekan lainnya karena masih sedikitnya pembaca yang mampu menikmati karya tulis itu. Demikianlah kejelekan demi kejelekan itu terus ditutupi dengan perbaikan sehingga makin lama ia kian mendekati keadaannya sebagai sebuah karya yang sempurna.

Itulah gambaran fase perampungan karya yang dilalui oleh seorang penulis, dimana semuanya harus melalui tahap kejelekannya masing-masing. Kejelekan yang makin lama kian disempurnakan hingga ia sampai pada hasil yang diharapkan.