Menulis adalah sebuah kewajiban bagi saya sebagai anak dari seorang guru sekolah dasar. Ya, ibu saya adalah guru sekolah dasar yang setiap hari mendidikasikan waktu dan kehidupannya untuk mengajarkan pengetahuan kepada penerus perjuangan bangsa. Saya merasa dengan menulis saya telah ikut membayar kewajiban intelektual ibu saya sebagai seorang guru. Oleh karena itu saya termotivasi untuk menulis.

Ada sebuah kisah yang menarik. Sebut saja namanya mas nur, begitu saya biasa memanggilnya. Dia saya kenal melalui medsos, facebook tepatnya. Dari pertemenan itu kemudian saya tahu dia adalah kakak kelas jauh saya d SMA. Hal itu yang kemudian membuat kami semakin dekat.

Dia mempunyai banyak buku, tentu bukan buku hasil tulisan orang lain, tapi buku hasil karya tulisnya sendiri. Ada sekitar 20 judul buku yang sudah ditulisnya, itu selain artikel dia yang banyak berserakan di media-media mainstream di Negeri ini.

Dengan kapasitasnya itu, selepas lulus kuliah dia pulang kampung dan memantapkan diri untuk kembali ke kampung halamannya di Trenggalek, Jawa Timur. Pilihan yang menurut saya adalah pilihan yang sangat berat karena Trenggalek adalah daerah yang sangat jauh dari Ibukota, baik Ibukota Provinsi apalagi Ibukota Negara.

Dari pertemanan itu kemudian saya menanyakan motivasinya untuk kembali ke kampung halamannya. Awalnya, dia tidak mau bercerita, malu katanya. Tetapi setelah saya desak kemudian dia mulai bercerita.

“Begini mas, saya kembali ke kampung itu alasan untuk balas dendam”,ujarnya. Tentu saya kaget. “lho kok bisa mas?” tanya saya balik. “Jadi begini mas, dulu keluarga saya itu broken home mas, mas tahu lah kalo broken home itu sangat berat dijalani oleh seeorang anak yang saat itu masih belum mengerti kehidupan”, ujarnya sekali lagi.

Kemudian dia melanjutkan “Jadi saat SMA itu, saya ada pada titik terendah dalam hidup mas, saya sering dirundung oleh teman-teman di kelas. Nah, dari disitu kemudian saya melampiaskan semua kekesalan saya dalam tulisan di buku harian saya, kemudian saya buat puisi. “Setelah itu, saya kok merasakan ada sedikit ketenangan ketika saya menulis, kemudian hal itu terus saya lakukan sampai pada suatu ketika tulisan dan puisi saya di baca guru saya”.

Dari gurunya kemudian mas nur tahu kalau tulisannya bagus dan puisinya cukup mengena di hati. Berangkat dari itu, kemudian tulisannya itu di ikutkan lomba cerpen dan akhirnya menang, juara satu tingkat Kabupaten. Lama kelamaan, kebiasaan menulisnya terus dia tingkatkan, sampai jenjang kuliah. Bahkan, dia membiyai kuliahnya dengan menulis. Akhirnya, dia merasa menulis adalah jalan hidupnya.

Dari ketekunannya, dia sekarang dapat memetik hasilnya. Secara ekonomi dia sudah mapan dan mempunyai jabatan penting di KPU tingkat Kabupaten. Darinya saya menemukan sesuatu yang lain kenapa dia nekat kembali ke kampung halaman ketika lulus kuliah, tidak seperti sarjana yang lain yang takut pulang kampung seperti saya, heuheueheu.

Beliau berpesan, “Sampean harus menulis mas, kalau tidak, sampean hanya dikenang namanya, tetapi kalau sampean menulis, pikiran dan ide hidup sampean akan terus dikenang oleh orang, paling tidak oleh anak-anak sampean kelak, tutupnya.

Dari obrolan ringan diatas, muncul sebuah tanya dalam hati. Apakah hanya dengan menulis dia mendapat semuanya itu? Tentu tidak.

Dari mas nur lah kemudian saya mulai berani untuk menuangkan setiap ide dalam sebuah tulisan. Tetapi ya masih belum sempurna, masih belum berani saya pubish. Kecuali tulisan saya yang saya publis di jurnal-jurnal ilmiah, karena memang tuntutan pekerjaan, heuheuheu. Dari menulis itu, ternyata saya menemukan keasyikan tersendiri dalam menulis dan menemukan beberapa manfaat.

Menulis buat saya merupakan bagian penyeimbang dalam kehidupan. Hidup memang harus seimbang, kalau tidak kita akan oleng diterpa berbagai badai kehidupan yang kadang kala dengan tiba-tiba, menghantam kita dalam berlayar menjalani hidup. Seimbang dalam arti, kita dapat menuangkan ide dan juga perasaan kita ketika kita galau dengan persoalan yang kita hadapi.

Seimbang yaitu, ketika kita dapat menumpahkan semua yang ada dalam hati, entah itu kemarahan, kesedihan, kebahagian, ataupun kebencian kita terhadap keadaan. Misal, kemerdekaan yang kita miliki sekarang ini juga hasil dari perjuangan intelektual bangsa lewat tulisan-tulisan tajam tokoh bangsa ini dalam menyikapi kegundahan hatinya yang terkekang dalam penjajahan. Selain melalui perjuang fisik, ternyata diplomasi tulisan ternyata juga efektif dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Surat-surat dari tokoh bangsa ke dunia internasional, membuka simpati, yang kemudian mendatangkan tekanan internasional untuk mendukung perjuang fisik untuk merebut kemerdekaan.

Menulis juga membingkai ide dan pikiran kita agar dapat kita baca kembali apabila suatu saat ide dan pikiran tersebut dibutuhkan. Ia merupakan arsip yang dapat kita buka kembali saat kita membutuhkannya. Bahkan, menulis merupakan panduan buat kita untuk membuat rangkaian- rangkaian rencana untuk melakukan lompatan dalam hidup.

Bisa kita bayangkan, seandainya ide briliant tidak kita tuliskan, ide itu akan lewat begitu saja tanpa jejak. Pernah suatu kali, saya memiliki ide untuk melakukan penelitian dan ide itu cukup bagus dan laku. Karena tidak saya tulis, kemudian hilang ketika dibutuhkan. Padahal saat itu ide itu bisa mendapat dana penelitian yang jumlahnya “lumayan” dari lembaga donor luar negeri. Akhirnya saya hanya gigit jari dan smartphone, ha. Belum rezekinya.

Menulis juga merupakan sebuah konsekuensi keimanan seseorang, karena perintah Tuhan melalui nabinya sudah jelas, “sampaikan dariku walaupun satu ayat”, sampaikanlah kebenaran walau itu pahit. Tidak semua orang mampu menyampaikan pikiran dan gagasannya dengan lisan, oleh karena itu menulis menjadi jalan yang harus ditempuh oleh manusia yang mengaku beriman kepada Tuhan. Tentu ini bukan merupan ibadah mahdhoh yang langsung berkaitan dengan Tuhan, tetapi merupakan ibadah sosial yang tidak boleh disepelekan.

Oleh sebab itu menulis sudah bukan merupakan kewajiban yang seolah- seolah terpaksa dilakukan oleh kita. Dan semakin ruwetnya kehidupan bangsa kita, disamping juga keruwetan hidup yang kita alami, menulis merupakan salah satu terapi agar kita tetap waras di zaman yang edan ini.

Jadi menulis bukan hanya sebuah kewajiban yang harus di jalani dengan terpaksa, tetapi menulis sudah harus menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan menulis akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang bermanfaat kepada sesama. Pencapaian kesuksesan yang luar biasa tatkala kita menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

Menjadi manusia yang bermanfaat adalah keinginan yang mungkin remeh dimata orang, tetapi sulit untuk di wujudkan. Meskipun itu hanya lewat tulisan yang memberikan ide dan solusi atas permasalahan masyarakat itu rasanya luar biasa.

Bayangkan, ide dari tulisan kita dipakai oleh masyarakat/pemerintah untuk memecahkan problem yang dihadapi. Betapa luar biasa rasanya. Dalam hal ini ada sedikit contoh kecil yang pernah saya rasakan.

Waktu itu ide saya tentang Bumdes simpan pinjam dengan sistem bagi hasil yang saling menguntungkan antara nasabah dan kreditur di adopsi oleh desa di daerah saya setelah saya paparkan jurnal saya dalam musrembang desa. Wah, itu rasanya seperti mendapat cinta pertama. Anda semua pasti pernah merasakan cinta pertama kan? Rasanya dunia tidak berputar dan berhenti sejenak. Bahagia sekali. Itu hanya contoh kecil saja. Menjadi bermanfaat itu luar biasa rasanya.

Dan yang paling penting adalah dengan sering menulis kita dilatih untuk selalu berpikir kritis dan kreatif. Alasan yang terakhir ini yang ternyata bisa menjawab pertanyaan saya diatas terhadap mas nur. Karena dengan berpikir kritis, analitis dan kreatif itulah yang menjadi bekal untuk terus survive menghadapi problem kehidupan dan itu yang menjadi pembeda kita dengan orang kebanyakan. Maka menulislah mulai sekarang.