Tulisan ini menjadi tulisan pertamaku sejak mengenal situs Qureta. Setelah sebelumnya sempat mengenal situs lainnya untuk menulis, kini aku cukup tertarik menulis di tempat berbagi cerita ini.. 

Awalnya aku tertarik dengan tulisan kawan-kawan kontributor lain, sehingga mengundangku untuk mengetahui lebih jauh soal Qureta. 

Ternyata menarik juga layanan yang diberikan situs ini, dari mulai pengelompokan tulisan ke dalam 25 topik, dipromosikan di media sosial Qureta, hingga honorium atas tulisannya. (Aturan-aturan tersebut dapat baca di sini).

Hal lain yang menarik bagiku adalah kebebasan untuk berbagi ide dengan kontributor lain. Situs ini merupakan tempat dengan berjuta ide dan pengetahuan. Aku bisa dapatkan satu topik yang sama dengan berbagai sudut pandang. Menurutku, menjadi bijak atas suatu hal dapat terjadi ketika kita melihat hal tersebut dari berbagai sudut pandang.

Berbicara soal ide, setiap orang mempunyai ide dan gagasan di dalam kepalanya masing-masing ketika melihat suatu hal. Ide dan gagasan tersebut tentu tidak terbentuk begitu saja. Banyak faktor eksternal yang memengaruhinya. 

Lingkungan di mana dia hidup, buku yang dia baca, kawan dia untuk berdiskusi, pengetahuan yang dimilikinya, merupakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap sesuatu.

Dalam upaya mendapatkan suatu pengetahuan, berpikir dan mengalami merupakan dua macam jalan yang dapat ditempuh seseorang. Bagaimana hubungan antara pemikiran dan pengalaman? 

Menurut Plato (dalam Hatta, 2006), dalam kehidupan manusia terdapat dua macam dunia, yaitu dunia yang kelihatan dan dunia yang tidak terlihat. Dunia yang terlihat adalah dunia lahiriah atau dunia materi yang terdiri dari barang-barang yang dapat kita indrai dan berubah-ubah. Sementara dunia yang tidak terlihat maksudnya adalah dunia ide yang imateril, kekal dan tidak berubah.

Dalam konsepsi Plato, antara dunia materi dengan dunia idea itu terpisah sama sekali. Namun, di antara keduanya ada saling keterkaitan, di mana dunia ide memberikan makna dan tujuan kepada dunia materi. 

Contoh dalam dunia matematik, bentuk-bentuk geometri yang sempurna seperti segitiga, persegi, bola itu hanya terdapat di dunia ide. Ada pun bangunan-bangunan yang digambar dan dibuat merupakan tiruan yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk geometri sempurna yang ada di dalam dunia ide tadi.

Contoh lain, misalkan pengrajin tanah liat yang membuat kendi. Dari mana si pengrajin dapat membentuk tanah liat yang tidak memiliki bentuk menjadi berupa bentuk kendi? Hal itu berasal dari alam pikirannya dan diterapkan kepada tanah liat, sehingga bentuk kendi yang ada di pikirannya berpindah ke tanah liat. 

Lalu bagaimana dengan orang yang mampu menemukan atau membuat benda-benda yang tidak ada sebelumnya? Dunia ide, mereka sangat berperan dalam kasus tersebut.

Jadi, pengetahuan seseorang tentang dunia materi tidak lain merupakan bentuk ingatan yang sudah dimiliki manusia di dalam dunia ide. Segala pengetahuan sudah ada di dalam dunia ide seseorang, tinggal bagaimana caranya manusia dapat menghadirkan pengetahuan tersebut. 

Tentu, ingatan berupa pengetahuan tersebut tidak muncul begitu saja, tetapi harus dibangkitkan oleh seseorang tersebut.

Nah, bagaimana cara manusia membangkitkannya itu yang berbeda-beda. Sehingga pengetahuan seseorang terhadap sesuatu tidak selalu dalam satu pandangan. 

Ilustrasinya, jika ada tiga orang yang buta, kemudian dihadapkan ke satu hewan, misalkan gajah. Orang buta pertama memegang ekor gajah, orang buta kedua belalai gajah, dan orang buta ketiga memegang kaki gajah. 

Lalu ketiga orang buta tersebut disuruh untuk mendeskripsikan bagaimana bentuk gajah. Maka, orang pertama akan berkata bahwa gajah itu panjang dan berbulu, orang kedua akan berkata bahwa gajah itu panjang seperti ular, dan orang ketiga akan berkata bahwa gajah itu besar seperti pohon. 

Apakah ketiga orang itu salah? Tidak. Ketiga orang buta itu menerangkan gajah sesuai dengan apa yang mereka pegang, mereka benar dengan pengetahuan yang dimiliknya. Seperti itulah pengetahuan manusia sehingga menimbulkan berbagai macam pandangan dalam melihat sesuatu.

***

Kembali lagi ke persoalan berbagi ide. Menulis merupakan salah satu cara manusia untuk menuangkan idenya, mentransformasikan pengetahuan yang ada dunia ide ke dalam dunia materi yang dapat diindrai. 

Aku senang menulis sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Dari mulai menulis cerita, menulis puisi sampai menulis artikel. Dari mulai menulis yang alay sampai menulis yang ilmiah. 

Bagiku, dengan menulis, aku bisa menyalurkan ideku. Dan dengan di-publish dapat berbagi pandangan dengan orang lain. Dan dengan didiskusikan mampu memberikan pandangan baru bagiku.

Lebih dari itu, menulis dapat memberikan jejak bagiku bahwa aku pernah ada dan mampir hidup di dunia ini. Tulisan itu kekal, tidak akan dibawa mati. Jasad dapat rusak, tetapi tulisan akan tertinggal. 

Apa pun medianya, baik itu kertas atau digital, kurasa tulisan akan tetap abadi.