Di antara pelajaran yang paling saya senangi sejak duduk bangku di Madrasah Ibtidaiyah adalah Bahasa Indonesia. Sebab, di samping pelajaran ini menurut saya amatlah mudah, saya juga merasa sangat beruntung telah diampu oleh para guru yang menyenangkan selama mendampingi proses belajar saya.

Saya sebut saja di antara guru Bahasa Indonesia yang menurut saya sangat menyenangkan dan paling berkesan dalam hati saya. Mereka antara lain adalah Bu Siti yang mendampingi saya saat duduk di bangku MI, Pak Sutari almarhum saat saya berada di jenjang MTs, dan Bu Hardiyanti almarhumah sewaktu saya belajar di tingkat SMA.

Kesan yang menyenangkan untuk Bu Siti menurut saya adalah mengenai pengalaman beliau dalam mendampingi peserta didik. Saat mendampingi saya belajar bersama dengan kawan-kawan lainnya di bangku ibtidaiyah, beliau dapat membawakannya dengan penuh keakraban pada kami. Serasa hubungan kami adalah ibarat hubungan ibu dan anak. 

Belakangan setelah beberapa bulan beliau mengajari kami, saya mengetahui bahwa selain beliau mengajar di sekolah kami, beliau juga aktif mengajar di Taman Kanak-Kanak Al-Hidayah dekat sekolah saya dan selain itu juga mengampu di SMP yang berlokasi di kecamatan saya.

Jam terbang mengajar beliau yang begitu tinggi, menjadikan beliau sangat profesional dan berpengalaman dalam memahami psikologi para peserta didik. Bayangkan saja, beliau mampu mengimbangi psikologi anak-anak yang duduk di bangku TK, MI, SMP, dengan tingkat kelabilan masing-masing. 

Berbekal kemampuan mengajar beliau yang luar biasa ini, menjadikan saya tidak pernah merasa bosan sekali pun manakala diampu oleh beliau. Persisnya, kehadiran beliau adalah saat ditunggu-tunggu bagi saya beserta kawan-kawan sekelas lainnya.

Lain Bu Siti lain lagi Pak Sutari almarhum. Hal yang menurut saya sangat menyenangkan saat diampu oleh Pak Sutari adalah karena sikap rileks yang selalu mampu beliau suguhkan dalam mendampingi kami, anak-anak didiknya. Khususnya pada saat beliau memberi kami tugas.

Ada satu pengalaman unik yang membuat saya sangat berkesan dengan beliau pada saat itu, yakni pada saat beliau memberikan tugas pada saya beserta teman kelas lainnya untuk mengerjakan tugas membuat kalimat. Kebetulan saja saya menemukan kata ‘tari’, kata yang harus saya bentuk menjadi sebuah kalimat dengan cara merangkainya dengan kata-kata lainnya.

Ketengilan teman sebangku saya saat membisikkan ide untuk kalimat tari ini, membuat saya berani menyusunnya dalam sebuah kalimat, “Pak Tari adalah guru Bahasa Indonesia kami”. Dan radikalnya, pada saat beliau meminta seorang relawan di antara anggota kelas kami untuk membacakan tugas kalimat ini, saya seakan menunggu kesempatan emas untuk mengungkapkan kalimat tari ini. Dan saya pun mendapatkannya. Saya membacakan kalimat tari ini dengan suara yang nyaring agar terdengar oleh seluruh isi kelas.

Beruntunglah, beliau saat itu tidak memarahi saya dan bahkan tertawa puas sendiri sambil membenarkan kalimat saya, meski teman sekelas saya saat itu sangat riuh menertawai kelancangan saya dengan kalimat itu. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau di alam sana. Semoga beliau telah berkenan memaafkan dan memaklumi kebodohan saya.

Sementara itu, ibu Hardiyanti almarhumah yang mengajar saya ketika duduk di bangku SMA selalu meminta saya beserta kawan-kawan didiknya untuk menghiasi halaman-halaman LKS pelajaran Bahasa Indonesia dengan stabilo, di samping mengerjakan tugas pada buku itu. Sebab menurut beliau, dengan adanya hiasan stabilo pada lembaran-lembaran LKS, akan menjadikannya semakin menarik untuk dibuka dan dibaca.

Saya yang berlatar belakang punya hobi menggambar seakan terapresiasi betul dengan inisiatif beliau ini. Saya hiasi halaman LKS saya dengan gambar bunga hingga kaligrafi amatir karya saya. Dan ajaibnya, nilai bahasa Indonesia saya selalu baik berkat tugas yang saya kerja ditambah hiasan-hiasan stabilo saya ini.

Sewaktu saya duduk di bangku kuliah, kesan saya untuk hal tulis menulis terus terang sangatlah kurang baik, lantaran kegiatan menulis saya anggap menjadi lebih rumit dibandingkan keadaan sebelumnya. Hal itu dikarenakan saya harus mengadaptasikan kemampuan menulis saya dengan kemampuan mengetik. Dengan latar belakang saya yang minim pengalaman dalam hal ketik mengetik ini menjadikan hal tersebut sebagai aktivitas yang memicu kepenatan.

Untunglah, teman-teman kuliah saya selalu punya inisiatif untuk membagi tugas-tugas makalah yang harus diketik oleh masing-masing anggota kelompok, sehingga dengan adanya pembagian ini menjadikan payahnya mengetik menjadikan terasa lebih ringan bagi kami, eh, saya maksudnya.

Kebiasaan gaya menulis saya yang jadul pada lembaran kertas tidak saya tinggalkan pada saat saya kuliah. Saya tetap rajin mencatat penjelasan dari dosen saya pada lembaran kertas binder, yang mungkin, kalau kondisinya ada di zaman sekarang, akan saya catat pada smartphone saya. 

Penjelasan dari para dosen yang menurut saya penting akan senantiasa saya catat. Dan berbekal kebiasaan menulis saya pada binder ini menjadikan saya cukup mudah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau saat ujian yang dampak berikutnya adalah IPK saya menjadi selalu baik.

Di sela-sela kesibukan saya sebagai seorang mahasiswa, kawan saya yang tinggal satu asrama dan satu kamar dengan saya pernah menyentil saya untuk menulis tentang hal-hal aktual yang terjadi, terutama yang berkaitan dengan sudut pandang disiplin keilmuan yang saya pelajari saat itu, yakni ekonomi dan manajemen.

Entah kenapa, saat menerima tantangan dari kawan saya itu, saya menjadi sangat minder dengan kemampuan menulis saya sendiri yang saya anggap masih jauh dari kata baik. Terutama jika saya membandingkan diri saya dengan kawan lainnya yang di antara artikelnya telah tembus di berbagai media massa maupun mereka yang pernah memenangi lomba karya tulis ilmiah. Kian ciutlah nyali saya untuk menulis itu.

Guyonan teman saya untuk menulis seakan menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk membuka aib kebodohan diri. Request teman saya ini bak permintaan untuk membuka tabir kebodohan saya untuk ihwal kepenulisan.

Namun tantangan dari teman saya untuk menulis itu terus saya pendam dengan terus mengharap adanya peluang. Barangkali akan ada masanya tulisan saya akan berkembang dan bertransformasi menjadi lebih baik lagi. Untuk itulah, secara diam-diam saya terus mengasah kemampuan menulis saya. Saya terus meningkatkan kemampuan mengetik saya, meskipun saat itu saya belum memiliki komputer sendiri.

Selain berlatih menulis, saya juga mengimbanginya dengan lebih rajin membaca opini, membaca cerpen, membaca novel, dan membaca berita-berita di koran sebagai bekal teknik kepenulisan yang dapat saya warisi dari penulis-penulis kawakan yang artikelnya telah malang melintang menghiasi media massa.

Saya mulai belajar untuk menyusun opini dengan 850 kata, menulis cerpen yang berisi 2.000-an kata, yang waktu itu rasanya sangat berat. Sebab saya belum punya banyak pengalaman dan belum begitu paham dengan teknik untuk membangun koherensi antar kalimat sehingga perpindahan antar kalimat dan antar paragrafnya dapat begitu nyambung, runtut, dan nyaman saat dibaca.

Hal lain yang menurut saya sangat menggelikan tentang pengalaman menulis saya adalah sewaktu saya diajak oleh senior saya, Mbak Barroh, untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah Al-Quran tingkat Propinsi Jawa Timur pada tahun 2013 lalu untuk mewakili kontingen dari kota Malang. Saya benar-benar tidak tahu, apa alasan Mbak Barrroh itu mau-maunya mengajak saya mengikuti lomba ini, meski saya sudah merekomendasikan kawan saya yang jauh lebih cerdas, seperti Cak Muhammad Faruq dan Kang Zamroni.

Menurut dugaan saya, mungkin saja yang menjadi alasan dari Mbak Baroh waktu itu adalah karena mengetahui bocoran kabar kalau saya termasuk mahasiswa yang ‘beruntung’ menjadi mahasiswa terbaik di Fakultas Ekonomi pada tahun 2010, yang sebenarnya untuk masalah kompetensinya masih perlu untuk diragukan, khususnya untuk saya sendiri. 

Sampai saat ini pun saya selalu bertanya-tanya, kenapa saya kok bisa menjadi yang terbaik? Padahal menurut angan-angan saya, masih banyak diantara kawan-kawan lainnya yang jauh lebih mumpuni kadar keilmuannya ketimbang saya.

Dan rupanya dugaan saya ini benar. Berkat penunjukan Mbak Barroh atas saya untuk mewakili kontingen dari Kota Malang yang saya anggap asal-asalan itu, pada akhirnya saya babak belur dan gagal menjuarai lomba karya tulis ilmiah Alquran ini untuk kategori peserta putra dengan raihan peringkat ke-8. Sementara Mbak Baroh, berhasil menuntaskan misinya dengan sempurna dengan meraih peringkat pertama. Selamat atas kemenangannya yang dulu Mbak Baroh, dan mohon maaf atas kedunguan adikmu ini.

Selama menyiapkan bekal materi sebelum mengikuti lomba karya ilmiah Alquran ini, sebenarnya saya jauh-jauh hari sudah berfirasat buruk, tidak akan bisa memenangkan perlombaan, mengingat minimnya bekal pengalaman dan ilmu yang saya miliki di bidang kepenulisan ilmiah. 

Namun, Dr Yusuf Hanafi, coach yang selalu mendampingi saya selama belajar menulis, telah berhasil menenangkan hati saya dengan kalimatnya, “Mas Adib, mungkin saat ini Mas Adib belum bisa membuat karya yang bagus. Namun saya yakin, suatu saat nanti pasti akan tiba masanya Mas Adib akan bisa menghasilkan karya yang semakin bagus asalkan terus mau mengasah kemampuannya untuk terus menulis.”

Motivasi dari ustadz Yusuf ini begitu meresap dalam hati saya dan terus mengiang dalam angan-angan saya sehingga semangat saya untuk maju mengikuti perlombaan tetap menggelora meski saya tahu akan ada bayang-bayang kekalahan yang telah menanti di depan saya.

Melalui motivasi dari ustadz Yusuf ini saya pun dapat menyimpulkan bahwa aktivitas menulis ini ibarat hal yang sama dengan perihal yang telah dilakukan oleh Bu Siti, guru Bahasa Indonesia saya tadi. Yakni butuh jam terbang yang tinggi agar mampu menguasai dengan baik tentang dunianya.

Berkat motivasi dari beliau itu, hingga saat ini saya pun tetap menulis dan mengirimkan beberapa artikel saya pada beberapa media, seperti di Mojok dan Qureta. Dan alhamudulillah, beberapa tulisan saya ada yang cocok dengan chemistry para editornya sehingga dapat diterbitkan. Dan manakala tulisan saya ini dirasa masih belum klik dengan standardisasi mereka, maka saya pun tidak segan-segan untuk terus menyuntingnya sebagai ajang latihan untuk memperbaiki kemampuan diri.

Saya tidak lagi malu dengan cacat pada tulisan-tulisan saya, sebab catat yang terus dibenahi akan mengantarkan pada kesempurnaan. Saya tidak lagi malu dengan kebodohan-kebodohan saya, sebab kebodohan yang terus diiiringi dengan pembelajaran akan dapat berubah menjadi pengetahuan.

Bagaimana saya akan tahu dengan baik-buruknya tulisan saya itu jika saya tidak menulis? Bagaimana saya akan tahu akan kebodohan-kebodohan saya jika saya tidak bersinggungan dengan mereka mereka yang lebih pintar dibandingkan saya yang akan menolak, mengkritik, dan menelanjangi pengetahuan saya?

Penolakan dan kritikan dari mereka yang kepakarannya melampaui saya itu adalah kesempatan emas bagi saya untuk memperbaiki kebodohan saya, agar minimal saya memiliki pengetahuan dan kearifan yang sama tingkatannya dengan mereka yang pernah menolak dan mengkritik saya. Dan untuk alasan itulah, saya tidak segan-segan lagi menulis untuk mendeklarasikan kebodohan diri.