Mahasiswa
1 tahun lalu · 115 view · 2 menit baca · Pendidikan 94385_56146.jpg

Menulis untuk Keabadian

Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka menulislah. ~ Imam Ghazali

Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Seiring dengan perkembangan zaman, hal itu tak hanya sekadar kata-kata, akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, tanpa terkecuali).

Realitasnya, menulis merupakan hal yang urgent dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi, ilmu dan wawasan orang lain.

Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otaknya sekaligus sebagai luapan emosinya.

Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Selain itu, tulisan juga dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Penulis-penulis seperti Ahmad Fuadi, Tere liye, Asma Nadia dll yang melalui karya-karyanya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang.


Hal itu pasti menambah kebahagiaan tersendiri bagi penulis. Karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain juga bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Oleh karena itu, seorang penulis disadari ataupun tidak telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya.

Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga memang sudah tiada, tapi kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa.

Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag yang merupakan dosen Ushuluddin berkata bahwa tulisan dapat memberikan motivasi dan inspirasi orang, yang pada akhirnya pembaca akan menemukan secercah cahaya kesadaran meski sedetik namun menggugah jiwa raganya itu lebih berharga nan bermakna daripada pengalaman seumur hidupnya yang hanya membekas dalam memori otaknya tanpa menghasilkan perubahan dalam hidupnya.

Banyak orang yang mengetahui manfaat dari menulis, akan tetapi belum merefleksikan dalam diri pribadinya sehingga berimplikasi pada rendahnya rasa ingin tahu, mencoba, dan berkarya. Bukankah untuk mewujudkan sesuatu hal yang besar harus diawali dengan sesuatu hal yang sederhana?


Banyak orang berpendapat mengapa dari dulu hingga sekarang Indonesia merupakan negera yang berkembang? Tidakkah sadar bahwa aktivitas membaca dan menulis merupakan modal pertama bagi suatu bangsa untuk memajukan negaranya? Seandainya masyarakat Indonesia paham akan pentingnya membaca dan menulis, tentu Indonesia lebih dulu maju daripada Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Berdasar pada penelitian UNESCO yang mengatakan bahwa minat membaca orang Indonesia sangat rendah, bisa dijadikan sebagai acuan (referensi) yang melatarbelakangi rendahnya tulis menulis. Karena kunci utama bagi seorang penulis ialah membaca, sehingga sangat relevan maqolah yang mengatakan Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, Al qiro’ah asasun najah. 

Tak dapat dipungkiri bahwa literasi merupakan jantung kehidupan bagi rakyat Indonesia dalam menghadapai tantangan era demografi. Kemajuan Indonesia bergantung pada budaya literasinya.

Menurut Penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), budaya literasi masyarakat indonesia sangat rendah. Orang-orang Indonesia harus menyadari urgensi baca tulis kemudian melestarikannya, sehingga menjadi suatu kebudayaan yang akan turun temurun dari generasi ke generasi, yang dengan itu merupakan salah satu langkah untuk membangun Negeri yang lebih baik.


Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan agent social control, mari tingkatkan diskusi dengan memperbanyak referensi dan menuliskannya sebagai permata abadi yang takkan lekang oleh waktu. Menulis untuk keabadian !

Jika tidak berkaya, lantas apa makna umur kita ini? Akhirnya, Jadilah pelaku sejarah, bukan hanya menjadi pembaca dan penikmat sejarah!

Artikel Terkait