31758_49919.jpg
Tips & Trick · 4 menit baca

Menulis Tak Sesulit yang Kita Bayangkan
Darimana Ide Berasal

Menulis merupakan pekerjaan mudah. Sangat mudah bahkan. Cukup siapkan seperangkat alat untuk menulis, lalu menulislah. Setiap kita punya seperangkat alat tulis.

Kita tau, semua hal dimulai dari kemauan. Mau itu, mau ini dan seterusnya. Nah, sekarang, sudahkah kita mau menulis? Jangan-jangan kita belum "mau"?

Oke, jika sudah ada kemauan untuk menulis, tinggal lanjut ke fase berikutnya yakni memilih jenis tulisan sesuai selera dan hati masing-masing. Apakah fiksi atau non-fiksi. Setelah dipilih dan kita benar-benar mau, maka lakukanlah.

Berikutnya adalah semangat dan komitmen. Banyak orang yang mau menulis, tapi tidak punya semangat yang bisa membuat kemauannya terus dilakukan. Ya, siapa saja kadang punya kemauan untuk menulis. Tapi tidak semua orang bisa mempertahankan kemauan itu. 

Kemauan untuk menulis boleh saja tinggi, tapi upaya untuk mencapainya kadang masih kurang. Kenapa? Tentu karena tidak semangat. Kenapa tidak semangat? Jawabannya adalah karena tidak punya komitmen. Kenapa tidak komitmen? Banyak hal yang membuat orang tidak komitmen, salah satunya adalah penyakit "malas" dan penyakit pikiran lainnya.

Jangan tanya saya kenapa kita masing-masing bisa kena penyakit malas. Obatnya ada dalam diri masing-masing. Cobalah renungkan!

Setelah kita punya kemauan, telah memilih jenis tulisan, selanjutnya; bersemangat dan berkomitmenlah. Biasanya, sesuatu yang dipilih sendiri lebih nikmat rasanya dan lebih semangat digeluti. Seperangkat alat tulis itu; mau, memilih, semangat dan komitmen.

Apa itu komitmen? Perlu saya jelaskan? Yakin perlu saya jelaskan?

Oke, komitmen itu konsistensi atau keterus-menerusan. Penulis selalu punya komitmen menulis. Saya setiap hari menulis di wall facebook. Kadang menulis esai, opini, penggalan cerpen, puisi dan lain sebagainya. Setiap hari. Itu komitmen namanya. Sudahkah kita komitmen menulis? Atau hanya komitmen pada kekasih?

Darimana Ide Tulisan Berasal?

1. Dari bahan bacaan.

Kita tahu, apa yang kita baca adalah tulisan. Semakin kita sering baca tulisan, maka kita akan semakin sering tergoda untuk menulis.

Makanya, salah menurut saya, jika ada orang bercita-cita ingin jadi penulis tapi tak suka baca, tak suka cari pengalaman. Apalagi tak suka nulis.

Membaca itu menggeluti tulisan. Mencerna makna. Memahami selaksa diksi. Memahami pola-pola paragraf. Memahami background tulisan.

Ya, kalau mau jadi penulis ya harus menggeluti tulisan. Buku yang anda baca, kan, tulisan?

2. Dari pengalaman.

Pengalaman indah seringkali membuat kita ingin mengabadikannya melalui tulisan. Ya, penulis handal, selain membaca, ia juga menemukan alam bagi dirinya dan mengalaminya melalui dirinya sendiri dan itulah pengalaman. 

Dari pengalaman, rasa dari tulisan itu berasal. Penulis berpengalaman lebih pandai merangkai rasa pada tulisan daripada yang tidak berpengalaman.

Begitupun pengalaman pahit, cenderung kita abadikan dengan tulisan yang pahit pula. Menjadi cerita pendek atau puisi satir dan seterusnya.

3. Dari kreatifitas

Setiap manusia itu kreatif atau setiap manusia adalah pencipta dan penemu. Dalam diri setiap manusia terdapat keunikan. Dari keunikan ini, kreatifitas itu berasal. Setiap kita bisa menulis dengan ide dan simpul berbeda. Tulisan berasal dari kreatifitas yang kita punyai itu.

Kreatifitas sudah tertanam sejak dini, hanya saja, diantara kita tak ada yang sadar akan hal itu. Sehingga kreatifitas tersebut nganggur dan tidak terasah sama sekali. Jangan sampai kreatifitas dibiarkan berkarat.

Kreatifitas itu bisa juga berasal dari olahan bahan bacaan dan pengalaman. Jika hasil bacaan dan pengalaman diolah dalam pikiran kita yang unik, biasanya muncul ide atau tulisan baru yang khas, se khas inner-writing dalam diri kita masing-masing 

Apakah setiap kita bisa jadi penulis? Tentu bisa. Jika kita bisa membaca, kita tentu bisa menulis. Jika kita bisa jadi pembaca, kita tentu bisa jadi penulis.

4. Diskusi

Jangan lupa, jika kita hendak berdiskusi, bawalah seperangkat alat untuk menulis. Apa yang kita diskusikan pastilah bisa ditulis. Banyak ide-ide tak terduga muncul saat sedang berdiskusi. Maka tulislah segera sebelum hilang ditelan waktu. Waktu bisa menelan banyak hal.

5. Kebiasaan

Oke, yang ini sedikit rumit saya jelaskan. Tapi akan saya coba permudah. Kita tahu Seno Gumira. Cerpenis terbaik di Negeri ini, versi Kompas. Kalau belum tahu, cek di Google, lihat gambarnya, lalu cari tulisan-tulisannya. Kata-katanya yang terkenal;

"BOLEH BISA APA SAJA, TERMASUK MENULIS. BOLEH TIDAK BISA APA SAJA, KECUALI MENULIS"

Jika kita biasa menulis, ide akan datang sendiri. Jika kita tak biasa menulis, ide harus kita panggil dengan pengeras suara (usaha) dan belum tentu idenya datang.

Ide tulisan selalu melekat pada seseorang yang telah men-"subscribe" kemauan dirinya untuk menulis. Keseringan kita menulis, keseringan ide itu datang. Cobalah, jika tidak mempan, datangi saya. Saya akan bawa anda ke dukun untuk belajar menulis.

O ya, satu lagi, jika kita ingin menulis tapi tak ada ide sama sekali, cari ide. Kalau tetap tidak ada, paksalah cari, siapa tahu ketemu. Jika tetap tidak bisa, saya mau tanya; anda sudah baca banyak buku, ngumpulin banyak pengalaman, ngasah kreatifitas, diskusi dan biasa menulis apa belum?

O ya, dua lagi, nambah, menulis itu tidak sesulit mencari pasangan setia. Cukup tulis, tulis dan tulis.

Untuk penulis pemula, wajar jika mengalami banyak kesulitan, namanya saja pemula. Ya kalau penulis pemula langsung bisa menulis seperti Seno Gumira, Agus Noor, Budi Darma, Sapardi, Oddang dll, mana bisa?

Untuk penulis pemula, pesan singkat saya (anggap SMS); lewatilah setiap permualaan itu dengan baik, jangan absen pada proses. Untuk menjadi apa saja, kita harus memulai sebuah permulaan.

Permulaan memang selalu sulit. Sebetulnya, kesulitan itu pintu masuknya. Jika kita tak mendekat ke pintu masuk, lalu mau lewat mana?

"Bahkan, saat sandal kita hilang, kita harus menulis, mengecam pencurinya. Menjelaskan rasa dalam diri kita yang berkecemuk karena kesal dan lain semacamnya"

Sekian, Terimakasih!

____

*Tulisan ini pernah disampaikan oleh penulis dalam pelatihan menulis di Kampung Literasi. Sumenep, 25 Nopember 2017.