BANYAKNYA aspirasi untuk menulis adalah hal positif yang perlu didukung. Sekarang ini, berjubel jumlah orang yang menampakkan minatnya untuk menghasilkan karya besar. Dukungan internet dan media sosial, ditambah lagi kemudahan penerbitan minor dan indie (self publishing) berpengaruh dominan dalam pertumbuhan minat yang terlihat. Akan tetapi, semangat saja tidaklah cukup.

Menulis bukan sekedar mengetikkan huruf-huruf di atas kertas atau layar gawai. Banyak hal yang dibutuhkan agar mampu menulis dengan baik, belum lagi untuk menjadi penulis yang baik.

Tulisan ini membentangkan beberapa poin prioritas yang tak berbelit-belit dalam peta proses mulai menulis itu.

Contoh Buruk

Sekarang ini sangat sering ditemukan tulisan, bahkan buku, yang rendah kualitas. Bukan saja dari soal isi, tetapi juga ketepatan presentasi teknis bahasanya.

Pelanggaran biasa ditemukan menyangkut ejaan penulisan, tata bahasa, pilihan kata baku dan beberapa hal lain yang sifatnya teknis dalam berbahasa yang baik dan benar. Ini bisa ditemukan pada produk media cetak mapan berupa berita atau buku. Kasusnya lebih serius lagi jika dihasilkan media berkategori minor atau independen.

Contoh-contoh ketidaktelitian penulisan ini cukup beragam. Kadang teras aneh juga bahwa kesalahan kecil seperti itu bisa dan biasa terjadi. Misalnya, kesalahan menggunakan kata sebutan 'sebuah' yang seharusnya untuk semua benda mati, justru dipakaikan kepada orang. Ketika seharusnya menulis 'seorang politisi', yang ditulis 'sebuah politisi'. Penulisan kata milik 'ku' yang harus selalu disatukan dengan kata di depannya atau di belakangnya, justru dibuat terpisah.

Kesalahan yang paling umum justru menyangkut kata 'di' yang sering terbalik-balik, mana yang sebagai keterangan tempat dan/atau awalan kata kerja pasif. Ketika seharusnya ditulis 'dimakan', yang tertulis justru 'di makan'; sedangkan yang seharusnya 'di rumah', malah ditulis 'dirumah'.

Kesalahan-kesalahan biasa yang merusak bahasa seperti ini bertaburan di mana-mana, apa pun mediumnya. Penulis senior saja bisa melakukan kesilapan, apatah lagi yang masih pemula. Jangan-jangan, saking biasanya ditemukan, banyak peminat pemula dunia tulis-menulis  tidak menyadarinya sebagai kesalahan, sehingga ikut-ikutan mencontohnya.

Penulis Sekedar Koki

Sering kita jumpai orang yang punya semangat besar ingin mengarang, berhasrat menghasilkan karya besar. Tak cukup sekedar cerita mini atau cerpen, bahkan berupa novel yang lebih intensif. Tetapi, tak enaknya, dari semua pemula yang menggebu-gebu itu ada 70-90% yang tak memiliki dasar teknis penguasaan ejaan dan tata bahasa. Mereka enggan menyimak EYD/PUEBI. Mereka menulis hanya dengan modal semangat, tak hirau bahwa yang dihasilkannya semerawut dan tak menarik, padahal itu baru sekedar pada tataran presentasi, belum kualitas isi.

Kalau ingin menulis, hal pertama yang harus dibenahi adalah menyangkut dasar-dasar teknis presentasi ini. Sebagai amsal sederhana arti penting presentasi cukup dengan mengamati bagaimana sebuah hidangan disajikan seorang koki.

Ada dua elemen penting yang tak akan dilewatkan seorang koki, yaitu rasa dan presentasi. Koki tahu betul bahwa seenak apa pun rasa masakannya, ketika disajikan berlepotan di sana-sini, maka otomatis akan gagal mengundang selera. Itu sebabnya, setelah seluruh bahan dan bumbu dimasak menjadi menu eksotik, koki akan menatanya di atas piring serapi mungkin, dihias, disajikan dengan cara elegan. Presentasi sangatlah penting.

Pada dasarnya, penulis pun seorang koki yang mencampur bahan ide dan bumbu kata, memasaknya menjadi sebuah sajian karangan kaya rasa. Agar karya itu menarik selera, maka presentasinya perlu serapi mungkin, tepat ejaan dan tata bahasa. Hanya setelah itulah baru ide besar yang menjadi rasa itu nyaman dicecap lidah, terasa gurih, gampang dicerna. Ketepatan berbahasa tidak boleh disepelekan.

Apabila Anda kebetulan penuh semangat ingin berkecimpung dalam arus tulis-menulis ini, maka 20-30 % dari semangat itu seharunya digunakan untuk bersabar mempelajari terlebih dahulu dan membiasakan tata penulisan yang benar. Yakinlah, modal teknis itu akan membantu sekali dalam proses mendaras dan memasak ide besar yang dimiliki menjadi sebuah karya yang Anda banggakan.

Menulis Menuntut Komitmen

Semangat menggebu untuk menghasilkan sebuah karya tak jarang hanya bertahan sampai titik awal atau sekedar melewati pintu gerbang saja. Setelah kesulitan-kesulitan bermunculan, semangat bisa pelan-pelan memudar. Akibatnya, banyak orang yang cepat berhenti tanpa bisa menyelesaikan. Di sinilah letak perlunya komitmen. Seperti semua pekerjaan, selalu dituntut adanya komitmen untuk gigih bertahan sampai titik terakhir.

Apabila dalam memulai, Anda telah membekali diri dengan kesiapan teknis di atas, peluang untuk mampu mempertahankan komitmen biasanya akan lebih baik. Sebabnya, tak lain, karena Anda telah memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat. Ketika Anda menguasai teknis bahasa, maka kemampuan untuk menjinakkan inspirasi ide akan lebih solid.

Betul, bahwa ada banyak tantangan lain untuk mendaratkan ide besar menjadi sebuah karya yang baik. Tidak ada yang instan di dunia ini; tak ada yang punya tongkat ajaib. Tulisan memang bisa menyihir, tetapi sedikit sekali penulis yang mampu jadi penyihir.

Sebagian besar kita hanyalah tukang, kalau bukan koki, yang bekerja menggunakan alat-alat teknis menukangi kata-kata menjadi kursi atau meja karya. Paculah terus semangat yang dimiliki, tetapkan komitmen mencapai titik akhir, dan terus melangkah. Anda toh sudah punya perkakas teknis kata-kata, apalagi punya ide besar yang ingin dilahirkan.

Penulis = Pembaca > Penulis

Nah, sekarang Anda mulai menulis, lalu bertanya mengapa banyak tulisan atau buku yang rendah kualitasnya? Seorang teman pernah dengan gamblang mengatakan membuang dan membakar buku rendah mutu di tangannya. Tetapi, yang demikian itu tetap saja bermunculan dan berterbitan lagi.

Tanpa harus merujuk pendapat pakar A, B atau C, pertanyaan ini mudah dijawab, tak lain karena penulisnya hanya bermodalkan syahwat, tetapi enggan membaca. Padahal, seorang penulis yang baik seharusnya adalah seorang pembaca yang baik pula. Seorang penyair hebat pun tak cukup bermodal angan-angan, tetapi setelah ditempa proses latihan diri dengan rajin membaca dan menghormati karya orang lain.

Betul bahwa banyak sekali penggemar baca yang tidak menulis dan itu disayangkan. Padahal tulisan yang lahir dari tangan penggemar baca berpotensi besar menjadi karya yang berisi. Sementara realitas yang lazim tampak, tulisan dan buku justru buah karya dari orang yang terbatas sekali bacaannya, kalau bukan sama sekali tidak membaca. Jadi, wajar saja kalau kualitasnya rendah dan patut dipertanyakan.

Sepatutnya, menulis itu diharamkan bagi mereka yang tak membaca. Kalau Anda menjadi penulis hanya karena ambisi besar, dana cukup, koneksi baik, tetapi tidak banyak membaca, maka sebaiknya berhentilah. Jangan menambahi lagi sampah-sampah yang tak perlu. Jangan menyesatkan orang-orang atas kedangkalan pengetahuan dirimu. Kecuali Anda bersedia mengubah diri menjadi pembaca serius terlebih dahulu, maka menulis pun menjadi hakmu. Kecuali kalau Anda punya pengalaman luar biasa yang punya manfaat bagi pembaca. Kecuali Anda punya sesuatu yang lebih, dan itu bukan sebatas semangat narsistik.

Sebagai penutup, perlu dikatakan bahwa meningkatnya semangat menulis di tengah masyarakat adalah hal yang positif. Tetapi, semua itu sepatutnya berjalan pada rel yang wajar, mengikuti jalur teknis dan jalan praktek yang tepat. Tidak cukup hanya karena syahwat.

Menulislah, karena menulis itu menyenangkan.

Untuk itu, (1) cermati tata penulisan dan tata bahasa, (2) pertahankan komitmen menulis, dan (3) dahulukan dan perbanyak membaca. And then, you are set to fly...