Ada sebuah percakapan. Seorang perempuan bertanya pada seorang laki-laki, "Di manaki?" Dalam bahasa Makassar yang berarti "Anda di mana?"

Dijawab oleh laki-laki, "Di hatimu." (Wow)

Percakapan ini dilakukan oleh sepasang kekasih yang mungkin lagi kasmaran. Karena ketika perempuan bertanya pada laki-laki di manakah (sang) pujaan hati berada, dan dijawab dengan kalimat yang sangat kena di hati, di hatimu. Laki-laki itu tepat berada di hati si perempuan. Eaaa.

Percakapakan tentang "hati" bukan hanya itu, tetapi juga seperti ini:

Ana: Sudah ketemu sang pangeran, belum?

Ani: Belum, nih?

Ana: Nyarinya pakai hati dong, bukan cuma mata doang.

Inti dari percakapan ini adalah ketika seseorang belum menemukan pujaan hatinya, sebaiknya dia mencari seseorang, baik itu pacar maupun suami, lewat hati (batin), bukan hanya memuaskan mata (lahir) saja. Jadi bukan mencari seseorang karena fisiknya, tapi juga non-fisiknya.

Membahas soal hati bukan hanya tentang perasaan, cinta. Namun dia hadir dalam segala hal, seperti:

A. Masak itu pakai hati, biar makanannya jadi enak. Padahal maksudnya, agar bisa menambahkan bumbu rempah-rempah yang pas.

B. Makan itu pakai hati, biar tidak keselak. Padahal maksudnya, makanan dikunyah dengan pelan-pelan, coy.

C. Bicara itu pakai hati, biar yang dengar jadi tersentuh. Padahal maksudnya, jangan asal ngomong agar tidak ada yang tersungging, eh tersinggung.

D. Bawa kendaraan itu pakai hati, biar tidak menabrak sesuatu. Padahal maksudnya, slowly but sure biar lambat asal selamat.

E. Mandi itu pakai hati, biar air tidak terbuang percuma. Sekarang lagi musim kemarau, banyak orang yang sumurnya kekeringan harus berhati-hati memakai air.

F. Kuliah itu pakai hati, biar jadi pintar. Maksudnya, biar cepat lulus dan wisuda. 

G. Kerja itu pakai hati, biar dapat uang yang banyak. Kerjaan bagus harusnya gaji juga bagus.

H. Ambil uang di ATM itu pakai hati, biar uangnya tidak cepat habis. Padahal maksudnya, jangan boros.

I. Keluar rumah itu hati-hati, kalau tidak hati-hati nanti kena hipnotis (tatut!). 

J. Pacaran itu jangan pakai hati karena kalau sakit hati bisa parah (hadeh!).

K. Menulis itu pakai hati, biar orang yang membaca tulisanmu jadi jatuh cinta. 

Wow, menulis pakai hati? Bukannya menulis itu pakai pulpen (nyambung tidak, sih?).

What do you mean?

Aku pernah ditanya oleh seseorang yang suka membaca cerita pendek (cerpen) di suatu platform. "Mengapa ada cerpen yang plotnya sedih yang membuat saya bisa menangis?" tanyanya.

Jawabku waktu itu, mungkin cerita yang dibuat itu berdasarkan pengalaman pribadinya, misalnya patah hati. Sehingga ceritanya jadi sedih karena perasaannya lagi nyambung dengan tulisan mereka.

Mungkin intinya karena mereka menulis dengan memakai hati, menulis pakai hati. Bukan sekadar patah hati.

Sepenuh hati

Menulis pakai hati apalagi sepenuh hati akan menghasilkan tulisan-tulisan yang jujur, apa adanya, dan asli yang tidak ada jaim-jaimnya (jaga imej, citra).

Aku pribadi, misalnya, jika menulis yang to the point sesuai dengan pikiranku, tanpa takut salah ataupun dikritik, aku merasa tulisanku benar-benar mencerminkan diriku. 

Diriku di sini mencakup kemanpuanku dalam mengeluarkan ide dan gagasan yang seada-adanya aku walau tulisanku jadi sangat simpel, sederhana tanpa harus menjadi orang lain yang lebih menguasai banyak kosakata yang bagus atau istilah-istilah keren lainnya.

Aku merasakannya sendiri, ketika menulis tanpa pakai hati, tapi pakai referensi dari searching di internet. Aku jadi merasa "kecerdasanku" dibuat-dibuat, tidak menjadi diriku sendiri. 

Sesekali, bahkan mungkin berkali-kali, aku juga suka melirik (gaya) penulisan orang lain. Sehingga aku terkadang berpikir: terlalu banyak membaca teori atau pemikiran orang lain, pemikiranku jadi berwarna, terbawa arus pemikiran orang yang kubaca.

Namun, jika tidak membaca tulisan orang lain juga jadi seakan tak punya warna juga.

Ketika ini kupertanyakan, "jika pikiranku terwarnai ketika membaca tulisan orang lain, dan jika tidak membaca tulisan orang lain juga seakan tidak punya warna atau rujukan." 

Hal ini ditanggapi oleh temanku. Katanya: sebagian orang berkata bahwa teori atau tulisan orang lain adalah cara pandang yang mereka, yang mereka dapatkan dari pengalaman. Walaupun kita tidak membaca tulisan orang lain, kita pun bisa melukiskan warna dari diri kita sendiri berdasarkan pengalaman (hidup) kita.

Namun, kita tetap butuh rujukan, tulisan dari orang lain sebagai pembanding saja. Dan membaca tulisan orang lain juga harus pakai hati biar kita mengerti dari sudut pandang si penulis.

Menulislah dengan membuka hati dan pikiran, sehingga yang membaca juga tergerak hati dan pikirannya.

Nah, apa pun yang kamu tulis (aku aja kali?), tulislah dengan memakai hati. Apalagi katakan, cinta harus pakai hati... Suittt.