Jika pada beberapa hari ini saya telah menulis dan alhamdulillah juga diterbitkan oleh Qureta, maka ini tidaklah berarti saya adalah orang yang produktif, apalagi sampai menganggap saya sebagai calon penulis beken. Sejujurnya, saya adalah orang masih terlalu jauh dari fase itu.

Di Qureta ini, saya masih menelusuri setapak demi setapak jalan kepenulisan saya yang entah sampai di mana titik ujungnya.

Saya masih berada pada fase belajar, di mana pade fase ini saya sungguh beruntung telah memperoleh kesempatan untuk belajar dan bersandingan tulisan dengan karya-karya para penulis senior itu. Saya menganggap karya mereka memang sungguh amat hebat, luar biasa.

Dan secara tidak langsung, saya telah menganggap karya tulis para penulis kawakan itu sebagai sumber inspirasi bagi tulisan-tulisan saya. Ada sosok seperti Eyang Goenawan Mohamad, Hamid Basyaib, AS Laksana, Hasanuddin Abdurrahman, dan seterusnya yang tidak mungkin saya tulis semuanya di sini.

Mereka semua adalah senior, begawan, dan pakar dalam dunia kepenulisan. Sungguh beruntung sekali, siapa saja yang dapat menimba ilmu dari mereka.

Saya menulis satu atau dua artikel dalam sehari ini bukan karena saya memiliki inspirasi yang melimpah ruah. Dan bukan pula memiliki anak buah yang saya suruh untuk mengerjakan pekerjaan menulis saya. Saya bukanlah orang yang seperti itu.

Saya hanya orang biasa yang memiliki ide dan inspirasi yang terbatas. Dan sebab keterbatasan itulah saya tidak ragu untuk tetap menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dan sebagai konsekuensinya, bisa jadi tulisan ini akan menjadi sebuah karya yang nekat, yang taruhannya adalah potensi untuk mendeklarasikan kebodohan diri.

Namun, saya abai terhadap perihal semacam itu. Sehingga saya biarkan saja mereka akan tahu kebodohan saya, mengorek-oreknya dan bahkan menghakiminya. Tentu saja, saya akan membiarkan mereka, sebab saya tidak memiliki daya dan kewenangan sedikit pun untuk melarang hal itu.

Suatu kali, saya pernah membaca sebuah artikel yang berjudul 'Menulislah Meskipun Kamu Tidak Ingin Menulis'. Artikel ini adalah karya dari salah seorang penulis sekaligus rektor yang sangat aktif dan produktif dalam dunia literasi.

Artikel beliau ini, menurut saya, sangat inspiratif dan mampu melecutkan semangat siapa saja untuk menulis, khususnya untuk diri saya. Menurut beliau, alasan utama bagi seseorang untuk tetap menulis meskipun sebenarnya ia sedang tidak ingin menulis adalah sebab hal ini berkaitan dengan konsistensi atau ke-istiqamah-an.

Dengan tetap menulis, maka setidaknya seseorang akan tetap memiliki sebuah karya tulis, meski mereka pada kondisi yang terekstrem untuk menyalurkan gagasan. Hal inilah yang mungkin biasa ditakutkan oleh para penulis itu sebagai penghambat penulis (writer's block).

Entah apa pun bentuknya dan bagaimanapun bobotnya, karya tulis tetaplah karya tulis. Ia akan mewakili ide, imajinasi, dan emosi dari mereka yang menuangkannya. Dan bisa jadi, karya yang dianggap remeh dan sepele oleh si penulis, pada suatu ketika justru akan dianggap berharga oleh pembaca tulisannya. Lagi-lagi, ini adalah persoalan sudut pandang dan relativitas.

Dan lebih dari itu, menulis juga dapat dijadikan sebagai alat untuk mendokumentasikan hasil pemikiran dan perenungan. Perenungan atas apa saja yang ada. Baik yang berada di bumi maupun yang terhampar di langit. Di waktu siang ataupun malam. Baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring berebahan. Pada kesemuanya itu tetap ada kesempatan untuk melakukan sebuah perenungan.

Bukankah di dalam Al-Quran pun Allah SWT menganjurkan para manusia untuk melakukan aktivitas merenung, berzikir, dan berfikir ini? Dimana dari hasil perenungan ini, mereka akan mendapatkan sebuah hasil, baik dalam bentuk endapan pemikiran, pemahaman, kesadaran, maupun yang telah terwujud dalam tulisan.

Inilah yang barangkali disebut sebagai salah satu langkah untuk tetap menulis, meski tidak ada keinginan atau ide untuk melakukannya. Dalam kegiatan menulis itu, pada umumnya, modal utama yang diperlukan adalah ide. Dan untuk membentuk sebuah ide yang matang biasanya juga didahului oleh proses berpikir yang matang. Yang bagi sebagian orang, hal itu harus ada sebelum menulis.

Akan tetapi, selain itu, ada juga diantara penulis yang mengabaikan hal itu. Mereka menulis apa saja yang terlintas dalam benaknya. Dan sekaligus berusaha untuk mengudar masalah-masalahnya sendiri bersamaan dengan tulisan yang mereka tuangkan. Kita boleh menyebut hal ini dengan teknik mengudar masalah sambil menulis.

Mengenai mana yang lebih baik dari kedua metode ini, yakni menulis 'secara spontan' ataukah menulis dengan berpedoman konsep ilmiah yang matang, saya tidak bisa memberikan penilaian dan rekomendasi mengenai hal ini. Sebab saya khawatir akan berbenturan dengan relativitas selera, latar belakang, dan pemahaman pada masing-masing orang.

Saya mungkin hanya bisa menjawab manakala ada seseorang yang menanyai selera saya secara pribadi mengenai kedua hal ini. Jika urusannya adalah selera, maka saya akan mudah menjawab, yakni menulis sambil berpikir.

Alasan saya memilih menulis secara spontan ini adalah karena adanya kemudahan, kepraktisan, dan mungkin, sedikit lebih banyak penguasaan saya mengenai hal ini. Bahkan, ketika saya tidak ingin menuliskannya.