Hasil studi di Universitas Hangzhou, Cina yang menyebutkan menulis berkorelasi kuat dengan kecerdasan emosional. Semakin bagus kemampuan menulis, semakin bagus pula kecerdasan emosionalnya.

Informasi ini menarik perhatian dan memberi harapan. Setidaknya jika seseorang tidak bisa meningkatkan IQ nya ia bisa meningkatkan EQ nya. Sebentuk kecerdasan yang akan sangat mempengaruhi kesuksesan dan kebahagiaan hidup.

Menulis adalah proses berfikir yang memerlukan fokus dan latihan. Sayangnya, fokus bukanlah hal yang mudah bagi  kebanyakan perempuan. Tidak aneh jika kita ketikkan kata di mesin pencarian “penulis terkenal Indonesia” maka yang muncul kebanyakan adalah mereka yang bergender lelaki. Sebut saja Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Raditya Dika hingga Pramudya dan Agus Salim.

Sejauh ingatan jaman sekolah, ujian akhir semester mata pelajaran Bahasa Indonesia seringnya ada soal menulis cerita. Bobotnya separuh dari keseluruhan total nilai. Saya tidak tahu harus menulis apa di kertas seluas itu. Itu hal kedua yang saya takuti setelah Matematika. Bercerita itu mudah tapi menuliskannya tak semudah itu. Menulis adalah proses berlogika tapi jelas bukan Matematika. 

Konon perempuan memiliki 20.000 kata/hari untuk di ucapkan. Menulis adalah perjuangan menata 20.000 kata tersebut ke dalam pesan yang bermakna. Tantangan perempuan dalam menulis adalah mengatur apa yang perlu disampaikan. Dalam bahasa lisan seringnya semua kata keluar tanpa sistematika. Ngalor-ngidul tanpa arah, namun saat menulis kita dipaksa menata kalimatnya agar fokus pada satu tujuan. Dibaca kembali, dipikirkan dan ditata ulang sebelum diterbitkan. 

Menulis bukan bakat (saya), maka untuk memperoleh kemampuan ini butuh proses panjang. Perjuangannya luar biasa. Terlebih sebagai seorang ibu rumah tangga dengan balita. Mengajar di sekolah sambil mengurus bisnis rumah tangga dan beragam aktifitas lingkungan. Akhir pekan sibuk bakti sosial lah, arisan RT RW lah hingga majelis ta'lim pekanan. Jelas ditengah seabrek kesibukan  belajar memfokuskan pikiran adalah perjuangan tidak ringan. Justru yang diingat adalah bayar listrik, belum membuat soal ujian, ingat ikan belum digoreng, stok barang kosong belum belanja, dsb.

Menulis adalah sebuah perjuangan bagi perempuan untuk fokus. Setidaknya untuk saya dan mereka yang terwakili. Menata hati dan pikiran agar orang lain paham apa yang ingin saya sampaikan. Menyampaikan dengan clear tanpa teralihkan oleh pikiran yang meloncat kesana kemari.

Sudah mahfum perempuan pada umumnya terlalu banyak fokus dan akhirnya tulisan sering tanpa sadar membahas hal tidak relevan dengan kajian. Jelas secara mekanisme otak, lelaki lebih diuntungkan dalam proyek penulisan. Mereka mudah memfokuskan arah tulisan. Perempuan ingin menuliskan tentang hujan membuat  harga cabe naik, isi tulisannya bisa sampe artis dan nyinyirin tetangga yang beli panci baru. Tidak nyambung.

Kelas pertama yang saya ikuti untuk belajar menulis kala itu adalah kelas online tidak berbayar. KMO angkatan Tujuh (7). Feeling saya, angka tujuh adalah angka keberuntungan. Tidak rasional tapi begitulah umumnya perempuan.

Tak disangka, kelasnya sadis setengah hidup, prosentase kelulusan kurang dari 50%. Dari awal kami digojlok habis-habisan. Terlambat absen  kelas akan dikurangi poin. Tidak mengerjakan tugas poin  melayang. Kita dibekali hanya 4 poin modal. Jika habis maka dieliminasi tanpa permisi. Di remove dari grup tanpa ucapan selamat jalan. 

Presensi kelas dimulai pukul 19.30 hingga pukul 20.00. Teng. Tak boleh lebih tak boleh kurang. Hp jadul saya sering tiba-tiba mati dan saya seringnya tertidur karena kelelahan. Apapun saya lakukan sambil berdoa agar bisa bertahan di kelas.

Tugas kelas mulai dari menulis artikel sejumlah dua ratus kata hingga akhirnya menulis dua puluh lima halaman. Tugas diberi deadline pula. Ya Ampun.... kami sengaja dihabisi agar kelas itu hanya menyisakan orang yang siap berjuang. Ini bukan lagi soal bakat menulis tapi tentang survival of the fit.

Saat hari kelulusan, saya merasa terlahir sebagai orang yang berbeda. Serangkaian perjuangan itu memberikan saya motivasi hidup dan semangat untuk mengatasi segala keterbatasan. Beragam kritik pedas membuat saya kuat bertahan.

Kemudian saya belajar menulis dari mentor lainnya. Selama menulis, saya melewati proses menyusun kata-kata dan argumen. Ini menjadikan logika bekerja lebih sistematis. Menata ide, menyusun struktur argumen dan narasi cerita membentuk pola berfikir yang stabil. Jika membaca dapat meningkatkan satu level kecerdasan maka menulis mencerdaskan kita berkali-kali lipat. Begitu ujar mentor menulis saya, IAD.

Akhirnya walau menulis adalah perjuangan memfokuskan pikiran ditengah deru debu kehidupan tapi sebenarnya menulis adalah cara melepaskan segala beban. Minimal menyalurkan 20.000 kata di kepala kita yang minta dilahirkan. Lega dan membuat bahagia. Begitu tulisan terbit berasa brojol itu bayi kita. Lega dan bahagia.

Seiring waktu saya akui benarlah hasil studi tentang peran menulis mencerdaskan kita. Mengurai perasaan dengan tertata. Menulis adalah ajang memetakan belantara pikiran. Makin sibuk perempuan makin butuh menulis untuk menjaga keseimbangan jiwa. Sebaliknya makin luang waktunya makin butuh teman bicara. Menulis adalah teman melampiaskannya. Menulis menjadikan perempuan tetap cerdas dan waras.  

Ini adalah kisah saya belajar menulis. Penuh tantangan. Tulisan ini sekedar mengingatkan kita saat sedang dalam masa belajar untuk selalu gigih. Tak perlu harus berbakat asalkan bertekad. Tak perlu bakat kecerdasan asalkan terus fokus pada tujuan. Konsep dasar yang berlaku dalam pembelajaran apapun. Mahir menulis bukanlah soal bakat semata. Jadi jangan tidak menulis karena merasa tidak berbakat. Perempuan perlu menulis karena menulis itu mencerdaskan hati dan pikiran.