Liberal Arts? Adakah kaitannya dengan ideologi Liberal?

Kamus Daring Oxford mendefinisikan sebagai: subjects of study that develop students’ general knowledge and ability to think, rather than their technical skills.

Dengan sedikit usil menghilangkan kata majemuk “Seni Liberal” menjadi Liberal saja, KBBI Daring memberi arti: bersifat bebas atau berpandangan bebas (luas dan terbuka).

Nah, tak satu pun menyinggung ideologi. Sejatinya, “Liberal” adalah hal alamiah. 

Untuk memperkuat, satu lagi definisi “Liberal Arts” dari Merriam Webster Online Dictionary memberi definisi: 

the medieval studies comprising the trivium and quadrivium atau college or university studies (such as language, philosophy, literature, abstract science) intended to provide chiefly general knowledge and to develop general intellectual capacities (such as reason and judgment) as opposed to professional or vocational skills.

Liberal arts Education atau Pendidikan Seni Liberal menurut asosiasi pengembangnya, semisal Association of American Colleges and Universities, sebagai:

pendidikan yang mengembangkan siswa sebagai pribadi individu, dibekali dengan pengetahuan yang luas maupun pengetahuan yang mendalam, serta kemampuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata yang kompleks, beragam, dan penuh perubahan.

Kolokasi pengertian di atas menunjuk pada padanan yang paling dekat adalah Seni Liberal atau jurusan yang mempelajari ilmu yang dianggap sebagai pengetahuan mendasar di bidang alam, sosial, dan kemanusiaan, yang mencakup sejarah, agama, filsafat, dan seni dan lainnya. 

Pokoknya komplit, plit! Jauh dari pengertian “Liberal” yang terlalu diributkan di Indonesia. Berasa di era arkais ketika meributkan liberalisme di Indonesia. Kuno.

Kenapa menulis kreatif senjata ampuh Liberal Arts? Ini tak ada hubungannya dengan model menulis kreatif yang sering ditemui berseliweran di medsos ataupun portal-portal daring lainnya.

Kenapa? Ya, tentunya menulis kreatif ala Liberal Arts berbasis kemampuan yang didapat dari pengampuan mata kuliah yang bejibun itu. Jelas beda, dong, daya ledaknya. Kekuatan critical thinking-nya jelas tajam. 

Menulis kreatif ala Liberal Arts merupakan jenis penulisan yang dikategorikan sebagai penulisan sastra pada umumnya. Namun, kualitas dan kuantitas riset cukup tinggi. Walaupun tetap dihantarkan secara populer agar enak dan ringan dibaca. 

Tiap mahasiswa yang mengambil kurikulum Liberal Arts mendapatkan pengetahuan yang luas tentang creative writing tersebut. 

Tujuan menulis kreatif dalam Pendidikan Liberal Arts adalah untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang luas dan mendalam (generalis namun tak membuang kepakaran). Di samping itu, juga membangun kemampuan untuk berpikir kritis (critical thinking) dan ketajaman pemecahan masalah pada pengetahuan yang kompleks dan beragam.

Secara filsafat, Liberal Arts adalah salah satu model pendidikan tertua di dunia. Di masa Yunani kuno, pendidikan ini menandai seseorang yang dianggap terdidik. Tujuannya, mencetak pribadi yang etis dan bersikap mulia, berwawasan luas serta mampu merangkum pokok-pokok pikiran yang kompleks ke dalam bahasa sederhana.

Kemampuan generalis namun tanpa mengurangi rasa kepakaran inilah yang tumbuh ketika mempelajari Liberal Art Education. Mereka yang hidup di abad pertengahan (medieval) atau abad Renaissance, seperti Leonardo Da Vinci, Michelangelo Buonarroti, René Descartes, dan masih banyak lagi, adalah para pakar Liberal Arts di masanya. 

Dalam Pendidikan Liberal Arts kuno tersebut, mahasiswa dituntut untuk mempelajari berbagai hal, seperti Matematika, Fisika, Kimia, Ekonomi, Musik, Teater, Seni Menulis, Seni Melukis, Retorika, Sastra, Sejarah, Bahasa Asing dan sebagainya.

Liberal Arts telah dikembangkan oleh filsuf-filsuf kira-kira 2400 atau 2500 tahun yang lalu, kemudian diteruskan dalam tradisi Roman Society hingga saat ini. 

Sekali lagi, Pendidikan Liberal Arts tidak dididik untuk menjadi seorang spesialis, tapi menjadi generalis yang tak melupakan kepakaran serta tidak mengandung unsur untuk merendahkan kepakaran.

Kemampuan critical thinking dan problem solver adalah dua berharga yang paling banyak dibutuhkan oleh lapangan kerja.

Kemampuan menulis kreatif juga menggenjot skil komunikasi yang juga menjadi keunggulan lulusan Pendidikan Liberal Arts. Mereka ditempatkan di bidang-bidang yang banyak memanfaatkan Artificial Intelligence (AI), seperti bidang periklanan, pemasaran, keuangan, politik, public relation, media, pendidikan, militer, dan lain-lain.

Banyak penulis jebolan Pendidikan Liberal Arts seperti beberapa novelis antara lain: Megan Abbott dan Diana Abu Jaber. 

Urgensinya, dengan menulis kreatif, seseorang belajar untuk melihat fenomena secara utuh dan berpikir interkonektif, mereka juga harus membiasakan berpikir kritis dan mampu dan sukses menyelesaikan masalah. Ia tumbuh sebagai manusia yang bisa berpikir kritis serta mendorong pikiran seseorang agar tetap memandang siapa saja sebagai manusia.

Liberal Art Education berperan dalam melahirkan orang-orang yang kritis. Tak heran jika umumnya para kreator, entrepreneur, dan pemikir lahir dari kalangan generalis. 

Ciri khasnya, mereka mempunyai kemampuan berpikir logis dan kritis, kekuatan problem solving, mampu berkomunikasi secara efektif, bernegosiasi, serta mampu beradaptasi dengan berbagai situasi. Mereka juga mempunyai kemampuan teamwork yang sangat kuat. 

Merekalah yang sebetulnya yang membuat wadah bagi para spesialis untuk menyalurkan ilmunya. Soft skills dan wawasan mereka sangat luas dan sangat banyak dibutuhkan dunia kerja.

Pada dasarnya, konsep Pendidikan Liberal Arts tidak lekang oleh waktu dan teknologi. Dengan begitu, hasil dari Pendidikan Liberal Arts bisa dimanfaatkan dan dirasakan terus. 

Wawasan yang luas memudahkan mereka bekerja sama dengan berbagai pihak dan di semua lapangan serta bidang keilmuan. Dengan kemampuan berpikir lintas ilmu, melewati batas-batas dan sekat, mereka bisa melihat dunia dan manusia dari berbagai sudut pandang.

Salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat yang menyediakan Pendidikan Liberal Arts adalah Williams College di Massachusetts. Adapun di belahan Eropa, Universitas yang menyelenggarakan Pendidikan Liberal Arts adalah Utrecht University, Belanda. 

Bagaimana di Indonesia? Tentunya belum ada. Tugas para Akademisi Libertarian muda Indonesia untuk mewujudkan tentunya. 

Loh? Kok, Libertarian?