Penulis yang hebat adalah pembaca yang hebat pula. Ini berarti bahwa penulis hebat ini memiliki kemampuan membaca yang sudah tentu tidak usah diragukan lagi. 

Penulis serba bisa Remy Sylado (Yopi Tambayong atau Alif Danya Munsyi) adalah contohnya. Bacaan Remy Sylado menakjubkan. Buku-bukunya serumah. Semuanya dibaca seperti kalau kita mengonsumsi sembako saja.

Karena bahan bacaan yang dikelola di perpustakaan pribadinya menjadi menu makanan rohani dan jiwa yang sangat panjang dan tak pernah putus, maka puluhan—bahkan mungkin ratusan—buku telah lahir dari tangannya. 

Remy Sylado menulis buku-buku fiksi dan nonfiksi, seperti kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, naskah drama, buku-buku kebahasaan, kamus, dan buku-buku petunjuk (how to) cara menghasilkan atau mengerjakan sesuatu.

Khrashen, peneliti bahasa, dengan merujuk ke pelbagai penelitian tentang kaitan menulis dengan membaca, membuktikan bahwa tulisan yang baik hanya dapat dilahirkan dari orang yang banyak membaca (melalui Hernowo, 2003: 97). Ada dua hal penting yang dicatat oleh Khrashen dan menjadikan penelitiannya tersebut memberikan makna baru bagi aktivitas membaca dan menulis. 

Pertama, kekhasan atau kebiasaan menulis bukan dibentuk oleh aktivitas menulis, melainkan oleh aktivitas membaca. Selain itu, banyaknya menulis tidak berkaitan dengan kebermutuan menulis. 

Kedua, menulis akan membantu memecahkan pelbagai masalah dan membuat seseorang bertambah pintar. Selain itu, penguasaan bahasa berasal dari masukan (pemahaman), bukan keluaran (produksi).

***

Menurut Hernowo (2004: 43-44), kegiatan membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan. Hernowo mengistilahkan kegiatan baca-tulis yang disinergikan ini sebagai "mengikat makna". Apa pun yang kita baca, selayaknyalah kita lanjutkan dengan "pengikatan", atau menuliskan pemahaman kita atas apa yang kita raih dari kegiatan membaca tersebut.

Apabila kita memiliki keinginan menulis artikel, cerpen, atau puisi, padahal kita masih belajar atau pemula, maka selayaknya pula banyak membaca artikel, cerpen, dan puisi karya penulis lain. Melalui cara ini, kita dapat meniru dan mencontoh, tetapi bukan melakukan plagiat. 

Artikel, cerpen, atau puisi tulisan orang lain merupakan bahan pembelajaran untuk mengetahui gaya penulis yang digunakan untuk menuliskan pikiran dan perasaan ke dalam artikel, cerpen, atau puisi. Selain itu, juga dapat merangsang munculnya kreativitas, memotivasi kita dalam menulis, dan memperluas wawasan kepenulisan.

Secara tegas, Munsyi (2012) menandaskan bahwa membaca langsung contoh-contoh karya tulis orang lain lebih praktis daripada membaca teorinya. Guru penulis memang karya yang dibacanya. Dengan demikian, kita dirangsang untuk langsung menulis. 

Jika kita hendak bicara tentang teori menulis, maka teori nyang paling afdal setelah membaca karya-karya yang ada itu, adalah anjuran: langsung saja menulis dengan menggunakan rasa keindahan dan nalar kebenaran.

Itu sebabnya, sudah selayaknya kita banyak membaca artikel, cerpen, atau puisi karya penulis lain jika kita memiliki ambisi menulis artikel, cerpen, atau puisi. Jangan bermimpi mampu menulis artikel, cerpen, atau puisi jika kita tidak mau dan suka membaca artikel, cerpen, atau puisi. 

Bacalah sebanyak-banyaknya artikel, cerpen, atau puisi karya penulis lain, sehingga Anda cepat atau lambat akan mampu dan terampil menulis artikel, cerpen, atau puisi. Sebab, Anda sudah mencintai dan menyayangi ragam tulisan akademik dan kreatif, seperti artikel, cerpen, dan puisi.

***

Kita menulis karena membaca. Kita menulis status di Facebook. Kita juga membaca status di Facebook. Kita menulis artikel di majalah. Kita juga membaca artikel di majalah. Kita menulis cerpen di koran. Kita juga membaca cerpen di koran. Kita menulis puisi di website. Kita juga membaca puisi di website. 

Bahan bacaan tak mesti berupa teks atau wacana. Bisa jadi ia berbentuk gambar atau lukisan. Alam seisinya merupakan bahan bacàan yang senantiasa sangat menarik perhatian, kemudan kita abadikan dalam tulisan. 

Suatu ketika bahan bacaan yang tersimpan di dalam otak meminta diekspresikan. Kita kemudian menuliskannya. Jadilah puisi, cerpen, esai, artikel opini, novel, dan sebagainya. 

Di dalam Alquran, kata "menulis" muncul 303 kali, sedangkan kata "membaca" muncul 89 kali. Ini Jika dibandingkan dengan aspek keterampilan berbahasa yang lain, seperti membaca, berbicara, dan mendengarkan, aspek menulis keterampilan berbahasa yang paling rumit dan sangat penting.

"Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti," kata Ali bin Abi Thalib. 

Pesan yang disampaikan sahabat, sepupu, dan menantu Nabi Muhammad ini sangat jelas. Penulis layak menulis sesuatu yang membuat bahagia si penulis kelak di akhirat. Bukan menulis sesuatu yang akan membuat si penulis beduka. Menulis berkaitan dengan nilai-nilai keabadian dan kebaikan. 

"Kalau engkau bukan anak raja atau bukan anak ulama besar, jadilah penulis," kata Imam Al-Ghazali.

Pesan Imam Al-Ghazali ini pun sangat jelas bahwa menulis merupakan aktivitas berbahasa yang layak dikerjakan. Karena tulisan yang kita hasilkan akan memberikan kemanfaatan bagi upaya meninggikan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan. Selain prestise dan prestasi, menulis juga merupakan aktivitas dakwah yang layak dikerjakan.