Terlepas dari segala keterbatasannya, perkembangan teknologi telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan umat manusia. Berbagai hal yang dulu seakan sulit untuk diwujudkan, saat ini dengan mudahnya dapat direalisasikan.

Dan seakan tidak mau ketinggalan, perkembangan teknologi ini pun telah merambah pada dunia literasi. Kita mengetahui perkembangan literasi yang paling kuno yang tertulis pada prasasti, kemudian berkembang pada kulit kayu, bertransformasi pada lembaran kertas, dan yang termutakhir adalah berinovasi pada sebuah layar gawai.

Seiring berkembangnya teknologi pada dunia literasi ini, kita pun makin merasakan kemudahan dan kenyamanan dalam menyelami dunianya. Kita menjadi lebih bebas dan mudah dalam mengakses informasi apa saja sebagai bahan bacaan kita. Dengan kian mudahnya akses bacaan ini, maka ide dan inspirasi menulis pun akan makin mudah untuk didapat.

Selanjutnya, perkembangan teknologi juga telah terbukti memberi dampak yang luar biasa bagi para penulis. Setelah sebelumnya kita akrab belajar menulis pada lembaran-lembaran kertas, dan mungkin sebagian orang ada yang mengalami perjuangan menulis dengan mesin tik, mencicipi nikmatnya menulis pada papan keyboard, sekarang kita pun masih dimanjakan dengan peranti pengetikan dalam bentuk gawai, hape.

Invensi gawai ini tentu saja akan makin memanjakan siapa saja yang menggemari kegiatan tulis-menulis itu. Ibaratnya, jika dahulu sebelum menulis, seseorang harus repot menyalakan komputer atau laptopnya, maka sekarang ia bisa melakukannya dengan cara yang lebih gampang berbekal gawai yang ada dalam genggaman.

Ini jelas suatu kemewahan tersendiri bagi para penulis, sebab mereka dapat menyalurkan ide mereka kapan saja dan di mana saja, sehingga kemungkinan inspirasi mereka itu tercecer, menguap, dan hilang begitu saja akan relatif menjadi lebih kecil.

Lebih dari itu, para penulis yang bersenjata gawai juga masih dimanjakan lagi dengan fitur automatic text sehingga waktu menulis mereka menjadi lebih ringkas dan peluang mereka melakukan kesalahan pengetikan (typo) menjadi lebih kecil.

Ini jelas merupakan anugerah dan surga tersendiri bagi para penulis, sebab minat mereka dalam tulis-menulis benar-benar akan terfasilitasi dengan penemuan dan pemanfaatan teknologi gawai ini.

Untuk itu, menurut saya, amatlah disayangkan jika karunia yang luar biasa ini disia-siakan begitu saja dengan tidak menggunakannya pada perihal yang produktif dan bermanfaat.

Melalui gawai, kita dapat merekam apa saja dalam bentuk video, gambar, suara, dan tulisan. Dengan berbekal itu semua, kita dapat berbagi konten-konten dengan konsep tertentu yang akan bermanfaat dan memberikan inspirasi tersendiri bagi orang lain.

Dengan adanya bekal konsep yang jelas, mendidik, dan mencerahkan, maka siapa saja akan dapat menghindari muatan nirfaedah yang hanya memburu klik penayangan, langganan, dan iklan.

Saat ini, banyak di antara pembuat konten (content creator) yang membuat muatan-muatan tulisan, gambar, atau video tanpa mempertimbangkan dengan jeli mengenai dampak dari apa yang telah mereka buat. Sehingga, pada akhirnya justru menimbulkan keresahan-keresahan tersendiri pada pihak tertentu. 

Biasanya, konten-konten yang itu hanya dibuat dengan mempertimbangkan asas hiburan tanpa menimbang bagaimana dampak moral dan psikologis yang akan timbul setelahnya.

Masih hangat dalam ingatan kita, beberapa pembuat konten video yang mengerjai (prank) pihak lainnya dan membenarkan kegiatannya sebab alasan objeknya adalah kaum marjinal. Dan perihal ini tidak terjadi hanya sekali, dua kali saja. Bahkan berkali-kali kita telah menemukan konten-konten kontroversial lainnya.

Biasanya, konten-konten yang rawan dengan kontroversi ini adalah yang berkaitan dengan isu-isu sosial, politik, agama, dan ras. Entah dalam bentuk apa pun kemasannya. Baik itu dalam bentuk video, gambar, maupun tulisan.

Kembali ke fokus bahasan tentang menulis, dengan berbekal gawai yang telah berada dalam genggaman kita, maka kita pun akan smakin mudah untuk menyusun konten-konten tulisan yang memberikan manfaat bagi orang lain. Kita dapat merumahkan segala ide-ide liar yang masih berlarian dalam pikiran kita. Sehingga dengan melakukan hal itu, kita akan merasakan secara perlahan ide-ide kita itu menjadi lebih jinak dan mudah dipahami oleh siapa saja.

Menulis tidak kalah serunya dengan para cowboy yang tengah berjuang untuk menaklukkan kuda. Tidak kalah menegangkan dengan para joki karapan yang mengendalikan laju sapi mereka. Ia penuh dengan tantangan pada saat berusaha menjinakkan angan-angan yang mendesir dalam benak kita.

Angan-angan yang mungkin saja ketika tidak segera kita jinakkan akan terus meronta-ronta dan melahirkan kepenatan dalam isi kepala kita. Oleh sebab itulah, untuk merehabilitasi angan-angan liar itu, kita membutuhkan "ruangan" tersendiri yang bernama tulisan.

Dengan menulis, maka kita akan berpeluang untuk meluruskan segala misteri pertanyaan yang ada dalam benak kita sambil berupaya untuk mengudarnya sehingga ia menjadi jawaban-jawaban yang menghadirkan ketenangan.

Untuk itu, jika segala angan-angan dan ide-ide itu mulai muncul dalam benak kita, maka alangkah baiknya jika kita segara mewadahinya dengan cara menuliskannya kapan saja dan di mana saja.

Selamat menulis!