2 bulan lalu · 44 view · 5 menit baca · Gaya Hidup 17673_61951.jpg

Menulis Itu Mengembangkan dan Menyebarluaskan Ilmu

“Ikatlah ilmu dengan menulis.” ~ Ali bin Abi Thalib.

“Di dalam cahaya-Mu, aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu, aku belajar menulis.” ~Jalaluddin Rumi.

Dua kutipan ini menjadi salah satu sumber inspirasi bagi saya dalam menulis. Memberi motivasi dan semangat untuk terus menuliskan ide, gagasan, dan pemahaman yang menyangkut fenomena, realitas kehidupan yang disorot dalam kacamata ilmu dan pengetahuan.

Menulis erat kaitannya dengan membaca. Di dalam Alquran, kita mengenal istilah ulil albab yang artinya orang/umat yang berpikir. 

Kaitannya dengan kegemaran, semangat, atau tradisi membaca dan menulis merupakan ciri utama orang yang ulil albab. Dengan membaca, baik membaca teks maupun fenomena, kita akan memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Sedangkan dengan menulis, kita mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh sebelumnya melalui proses membaca. Membaca merupakan aktivitas menginput data dan informasi yang selanjutnya kita proses dan kita olah yang kemudian kita transformasikan dengan menulis. Melalui rangkaian proses ini, dinamika ilmu pengetahuan terus berjalan dari masa ke masa.

Dalam proses berpikir, membaca, dan menulis, manusia tidak bisa terlepas dari penggunaan bahasa. Sebagaimana yang diungkapkan dalam Alquran surat ar-Rum ayat 22, di mana di situ disebutkan bahwa diciptakannya beraneka ragam bahasa merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkannya. 

Maka dari itu, tak dapat disangsikan lagi pentingnya bahasa sebagai alat yang diciptakan oleh Allah untuk digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi dan mengomunikasikan segala sesuatu dalam hidupnya.


Dengan bahasa, terutama bahasa tulis, dapat kita gunakan sebagai investasi pahala yang terus mengalir sejak kita masih hidup sampai kita mati, dengan bentuk kontribusi berupa karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.

Dengan demikian, kemampuan membaca dan menulis dengan baik merupakan syarat utama agar seseorang memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan. 

Makanya, dalam semua jenjang pendidikan, keterampilan membaca dan menulis dengan baik harus terus diasah dan dibudayakan guna mencetak manusia-manusia yang tidak hanya mampu menjadi konsumen ilmu pengetahuan, namun juga mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan. Kemampuan baca-tulis yang baik merupakan kunci utama pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan.

Di tengah era banjir informasi seperti saat ini, sudah seharusnya kita memaksimalkan penggunaan waktu kita untuk hal-hal yang lebih produktif melalui kegiatan membaca dan menulis dengan motivasi untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman serta kemudian mentranformasikan ulang dengan berbagai temuan dan produk pemikiran yang lebih kreatif dan inovatif melalui karya tulis sebagai bentuk upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia.

Dengan membaca, akan membuat ruang otak terbuka lebar yang memberikan kesempatan kepada akal untuk mencerna dan memilih pilihan kata yang tepat karena pengetahuan tentang topik yang dikembangkan semakin luas.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa menulis adalah membaca, dan dengan membaca membuat kita bisa menulis. Inilah yang penulis katakan menulis itu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu. Karena pada dasarnya menulis itu adalah merangkai kata dalam susunan kalimat yang berbentuk bait hingga paragraf.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang bermakna. Bermaknanya sebuah tulisan karena bait demi bait, paragraf demi paragraf, memiliki pendekatan tentang topik yang dibahas. Ketika kita ingin menekankan suatu pemahaman yang kita tulis, maka perlu penguat dari luar diri kita, yaitu konsep orang lain yang bisa dikutip untuk menegaskan apa yang kita tulis dan menjadi filter apakah yang kita pikirkan itu benar atau tidak adanya.

Pada saat itulah kita dituntut untuk membaca referensi lain yang relevan dan barangkali selama ini belum kita ketahui, sehingga bertambah lagi ilmu dan pemahaman kita terhadap suatu teori dan begitulah seterusnya. 

Contohnya, jika penulis ingin menulis tentang topik "teknologi dan pendidikan", tentunya penulis harus baca buku yang relevan. Mau tidak mau, penulis harus banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan tentang teknologi dan pendidikan, karena ketika tidak membacanya, maka akan menghambat penulis dalam mengembangkan topik tersebut disebabkan keterbatasan ilmu dan pemahaman tentang topik yang diangkat.

Dengan menulis, dampaknya adalah kita bisa tahu tentang berbagai konsep, teori dan ilmu lebih luas lagi karena kita membaca dan memahaminya. Inilah yang penulis sebut “menulis itu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu”.


Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa makna dari judul “menulis itu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu” secara sederhana dapat disimpulkan bahwa dengan menulis, maka luaslah ilmu dan pengetahuan. Dengan tulisan tersebut, seorang penulis telah mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan.

Selain manfaat tersebut, menulis itu salah satu tujuannya adalah untuk mengabadikan diri. Ketika aku berkarya, akan menunjukkan aku pernah ada. Pemahaman ini didasari pada fakta bahwa hidup didunia tidaklah selamanya. Sampai waktunya kita akan kembali kepada sang pencipta untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan sebagai makhluk penguasa di muka bumi.

Ketika kita mati, maka terputuslah semuanya. Kecuali ada tiga hal seperti yang dijelaskan dalam agama kita, yaitu Islam. Apa itu? Di antaranya adalah sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sleh.

Dari tiga hal tersebut, sebagai bagian dari menulis adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat akan bisa memberikan manfaat dan selamanya akan bermanfaat ketika diikat dalam sebuah tulisan. Tulisan merupakan media dalam menyampaikan gagasan, ide, pemahaman tentang sebuah konsep yang kita miliki kepada orang lain yang tak akan lapuk dan hilang ditelan zaman.

Sebuah ilmu akan terputus ketika tidak dituliskan. Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah kita telah mempelajari dan menyampaikannya? Ya, betul sekali. Tetapi ingat bahwa manusia punya keterbatasan di mana sampai waktunya semua akan terlupakan.

Manusia tidak akan bisa mengingat selamanya justru seiring waktu satu per satu akan hilang di benak bagaikan pasir yang tersapu ombak di lautan. Hidup tidaklah selamanya kekal, tetapi bisa abadi ketika kita punya karya, salah satunya tulisan, sebagai rekaman ilmu yang kita sampaikan. 

Bisa bayangkan apa yang terjadi sekiranya para ilmuan terdahulu yang telah banyak melahirkan teori kehidupan tidak pernah menuliskan ilmu yang diperolehnya. Bisa jadi saat ini kita tidak akan tau tentang teori matematika, fisika, kedokteran, dan lain seperti yang ditemukan oleh para ilmuan terdahUlu.

Oleh karena itu, agar ilmu yang kita sampaikan kepada orang lain terus diingat, maka sekali lagi ikatlah ilmumu dengan sebuah tulisan yang bermanfaat. Mengikat ilmu dengan sebuah tulisan akan terus bermanfaat bagi orang lain di mana pahalanya akan mengalir tanpa batas meskipun kita telah tiada.

Jika kita hitung-hitungan berapa pahala yang akan didapat dari satu judul tulisan yang kita hasilkan. Itu baru satu judul. Bagaimana jika ktia menulis lebih dari satu judul bahkan sampai ratusan atau ribuan judul tulisan. 

Semakin banyak orang yang membaca, maka semakin banyak pulalah pahala yang akan kita terima. Tapi tentunya karya yang kita hasilkan adalah tulisan yang bernilai positif bagi orang banyak.


Inilah energi dari menulis yang tak akan habis. Menulis adalah investasi jangka panjang yang tak akan terputus di dunia melainkan sampai ke alam akhirat. Lihatlah orang yang rajin menulis itu pasti ia akan terus menulis dan menulis tentang sebuah ide dan gagasan yang ingin diikat.

Buat sahabat, rekan-rekan dosen.., ayo menulis. Menulis bukan masalah skill, namun menulis adalah bagian dari rasa tanggung jawab sosial dan moral dari seorang akademisi dalam mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan.

Skill bisa diciptakan ketika kita ada keberanian untuk melakukan. Menulislah selagi akal masih bisa mencerna dan organ tubuhmu masih segar luar biasa. Jangan jadikan waktu sebagai alasan utama untuk tidak bisa menulis, tapi menulislah di saat waktu untuk menulismu tidak ada.

Artikel Terkait