Suatu hari, seorang pria terduduk bengong. Di hadapannya terdapat sebuah komputer jinjing yang sedang menyala sedari tadi. Di sampingnya terdapat segelas kopi yang sudah dingin dan dihinggapi lalat.

Mungkin sudah satu jam lebih ia menjalani aktivitas bengong di depan laptopnya itu. Entah sampai berapa lama lagi kegiatan itu akan ia lakukan. Satu hal yang selalu terbisik di hatinya, “Gue emang enggak bakat nih jadi penulis, dapat tugas bikin artikel aja gak kelar-kelar.”

Ya, pria berwajah kusut itu baru saja menulis dua kalimat dan bingung bagaimana harus melanjutkannya. Lalu, ia buru-buru menyimpulkan dirinya memang tak punya bakat menulis.

Dia merasa tidak mampu untuk menuangkan idenya ke dalam kata-kata. Dia juga merasa tak kuasa menyusun dan merangkai kata-kata dengan baik.

Setiap saat mencoba menulis di depan laptop, otaknya selalu mandek, mandek, dan mandek seperti proyek pemerintah yang kekurangan dana. Idenya macet seperti jalan di pinggiran Ibu Kota. Jari-jarinya pun seolah membeku, tak mampu menekan kibor yang teronggok di hadapannya.

Hey! Menulis itu bukan bakat. Sekali lagi, menulis itu bukan bakat!

Coba kita bayangkan ilustrasi ini. Bila saja ketika pertama kali Leonardo da Vinci melukis dan gagal, kemudian ia berpikir bahwa “Saya tak berbakat melukis”, tentu kita tidak akan ada yang mengetahui namanya, pun dengan lukisan Mona Lisa yang sangat keramat itu. Dan saya yakin pasti dia tak sekali-dua kali gagal menyelesaikan lukisannya. Pasti dia sering mengalami kegagalan ketika mencoba untuk melukis.

Bayangkan juga bila ketika pertama kali Michael Schumacer belajar menyetir mobil menganggap menjadi pembalap adalah karena bakat, kita tidak akan pernah menyaksikan ia menjadi juara balap mobil F1. Jangankan F1, jadi sopir angkot pun kayaknya gak bakalan, deh.

Contoh lainnya, coba saja, seandainya di pelosok Argentina sana, Diego Armando Maradona menganggap mendribel bola, menggocek lawan, dan menjebol gawang musuh adalah karena faktor bakat atau keturunan, kita tidak akan kenal sosoknya yang begitu besar dan melegenda di dunia sepak bola. Maradona bisa sukses melegenda di lapangan hijau karena rajin berlatih dan tentu saja selalu berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.

Ya, selayaknya melukis, menyetir mobil, dan bermain sepak bola, menulis bukanlah bakat, melainkan sebuah keterampilan.

Sepertinya ini perlu ditegaskan lagi, menulis itu bukan bakat, melainkan keterampilan. Dan keterampilan itu bukan anugerah bawaan lahir atau mukjizat yang datang dari langit begitu saja. Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk memiliki suatu keterampilan bergantung tekad dan usahanya. Ya, kuncinya adalah dijemput!

Keterampilan yang dimiliki seseorang bisa mandek, itu iya. Keterampilan bisa tidak tumbuh dalam diri seseorang, juga iya. 

Seperti tumbuhan yang ditanam di pekarangan, bila tak disiram, tak diberi pupuk berkualitas, dan tak mendapatkan cahaya matahari yang maksimal, ia akan jadi tumbuhan yang kerdil, lambat tumbuh, dan sulit berbuah. Tak percaya? Coba saja.

Keterampilan yang tidak pernah ditanamkan, disiram, dan dipupuk ya tidak akan berkembang. Keterampilan itu bisa kerdil bahkan mati bila tak dilatih secara rutin.

Ya, sejatinya keterampilan itu bisa diasah dan dikembangkan. Dengan apa? Ya dengan niat dan latihan. Bukan dengan meratapi ketidakmampuan diri seperti lelaki yang sedang bengong di depan komputer jinjing tadi. Sampai kapan pun, seseorang tidak akan bisa menyelesaikan sebuah tulisan bila menganggap bahwa semua itu bersumber dari bakat yang dipahami sebagai kemampuan yang datang secara ujug-ujug.

Tanam dan tumbuhkan kebiasaan menulis

Lalu pertanyaanya, bagaimana caranya agar keterampilan menulis itu bisa tumbuh dan bersemai dalam diri kita?

Pertama, keterampilan menulis mesti ditanamkan dalam diri kita. Selayaknya sebuah tanaman, keterampilan menulis bisa lahir karena kita menanamkan bibitnya dalam diri kita. Bagaimana caranya? Ya dengan memulainya.

Mulailah menulis, seburuk apa pun hasilnya. Bila kamu kesulitan untuk memulai menulis, kamu bisa menggunakan beberapa cara sederhana, misalnya dengan mulai menulis apa yang kamu gemari, menulis apa yang kamu pahami, menulis apa yang kamu rasakan, dan menulis sesuatu hal yang dekat dengan kehidupanmu. Bisa tentang benda, jalan, atau orang yang ada di sekitarmu.

Karena sejatinya semua hal yang ada di sekitar kita adalah objek yang bisa kita abadikan dalam bentuk tulisan. Benda-benda mulai dari batu, daun, kursi, bahkan debu merupakan benda-benda yang bisa kita bahas dalam tulisan. Kita bisa merekam berbagai hal dengan rangkaian kata-kata dengan beragam bentuknya, bisa menjadi catatan harian atau diary, caption pada postingan Instagram, status Facebook, atau esai, cerita pendek, bahkan puisi. Cara ini sangat bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Butuh keahlian? Bisa jadi iya, tapi yang paling pasti adalah butuh kemauan.

Nah, untuk menulis juga, salah satu bibit yang mesti kita tanamkan dalam diri kita adalah kepekaan. Ya, menulis butuh banget kepekaan. Entah itu peka kepada diri sendiri maupun terhadap lingkungan sekitar.

Sekarang, kamu bisa mulai menganalisis diri sendiri tentang apa yang kamu sukai, rasakan, dan apa yang kamu inginkan terjadi di masa depan dengan hadirnya tulisanmu. Dan tentu saja mencoba peka terhadap lingkungan. Kamu bisa melihat kehidupan yang berjalan di sekitarmu dan mencoba mengangkatnya ke dalam catatan-catatan sederhana. Timbulkanlah keresahanmu dan tuangkan itu dalam tulisan.

Kedua, ibarat tanaman di pekarangan rumah, keterampilan menulis mesti selalu kita sirami, yaitu dengan latihan dan pembiasaan. Aktivitas latihan menulis tentu saja kegiatan yang melatih kita untuk berpikir dan menyusun kata-kata, baik dengan menuliskannya di buku, smartphone, atau laptop.

Dengan menyiram keterampilan itu dengan banyak latihan dan pembiasaan, lama-kelamaan keterampilan menulis akan menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Apabila tanaman terus disiram secara rutin dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup, ia akan tumbuh lebat, daunnya rindang, dan subur. Bila ia tanaman hias, dari dahannya akan tumbuh bunga-bunga. Bila ia tanaman produktif, akan menghasilkan buah-buah yang segar dan sehat.

Begitu pun menulis. Bila ia dilatih secara rutin ia akan tumbuh subur, rindang, dan berbuah. Artinya, memberikan manfaat kepada lingkungan di sekitarnya. Yang jadi pertanyaan, bagaimana cara latihan yang efektif?

Sebenarnya banyak lho cara kita untuk melatih diri dalam menulis. Mulai dari latihan dengan rutin menulis catatan harian buku diary, ngeblog, sampai memanfaatkan postingan di media sosial.

Yang biasa saya lakukan dalam latihan menulis adalah memanfaatkan WhatsApp Group yang saya beri nama “JURNALKU”. Setiap kali sebelum tidur atau kapan pun saat inspirasi itu datang, yang pertama saya buka adalah grup WA tersebut (yang tentu isinya saya seorang diri). 

Di grup itu, saya menuliskan banyak hal tentang apa-apa yang saya temukan di jalan, kantor, rumah, warung kopi, dan pasar. Tujuannya untuk menyimpan ide yang saya temukan secara tiba-tiba.

Fungsi grup WA itu adalah untuk menuliskan draf saja, yang penting poin-poin idenya tersimpan. Baru kemudian kita putuskan akan ditayangkan di mana tulisan itu. Misalnya di beranda Facebook, nah tinggal kita kembangkan draf itu menjadi tulisan yang lebih baik dan layak untuk dibaca. Kebiasaan-kebiasaan ini dibantu dengan gadget yang kita miliki, bakal lebih mudah dan efektif. Lama-lama terbiasa juga menulis.

Ketiga, yaitu dengan memberikan pupuk yang berkualitas. Kegiatan menulis bukan hanya menuangkan apa yang ada di dalam kepala ke dalam aksara tulisan. Melainkan upaya untuk mengikat ilmu.

Saya kira, banyak penulis yang sepakat bahwa kegiatan menulis itu adalah upaya untuk mengikat ilmu dari apa yang ia baca, dengar, dan lihat dari berbagai sumber. Nah, dalam konteks meningkatkan kualitas tulisan dalam kebiasaan menulis, memupuki dengan berbagai pupuk berkualitas menjadi kuncinya.

Misalnya, dengan perbanyak membaca buku, jurnal, mendengar ceramah, ikut pengajian, ikut seminar, dan berbagai sumber lainnya. Itulah yang sering saya sebut dengan kegiatan “ngisi”. Kata Mbah Sujiwo Tejo, “Mari kita ngosong biar gampang ngisi.” Itu artinya, kita harus selalu menyiapkan ruang kosong dalam kepala kita supaya gampang menyerap ilmu dari mana pun. 

Kegiatan ngisi ini penting banget lho bagi penulis. Malah, harus lebih banyak ngisinya dibanding nulisnya. Bila kepala kita kosong, apa yang mau kita tuangkan ke dalam tulisan? Maka dari itulah kita mesti rajin ngisi otak kita lebih dulu, agar yang dituang nantinya berbobot dan berkualitas.

Proses dari menanam, menyiram, dan memupuk ini amat penting untuk membuat subur keterampilan menulis kita. Percayalah, setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sudah pasti bakal menemui keberhasilan. Sebagaimana pepatah Arab berbunyi, “Man Jadda Wa Jadda.” Dan bila kamu mau jadi penulis, proses itulah yang mesti kamu lalui.

Namun, permasalahan yang kerap muncul adalah tidak adanya ghirah untuk menulis. Bagaimana solusinya? Untuk masalah yang satu ini, kita kembali ke tekad dan niat. Karena tanpa adanya tekad dan niat yang bulat untuk menulis, maka kamu akan kesulitan untuk menuangkan gagasan dalam tulisan. Apalagi, menumbuhkan kebiasaan dan keterampilan menulis. Terus, bagaimana bisa jadi penulis?

Sebagai catatan penutup. Tentu, ada banyak maskapai menuju Roma, Swedia, Peru, bahkan juga menuju Cina. Tinggal kita tentukan mau maskapai yang mana, kapan berangkatnya, dan negara apa tujuannya. Untuk menjadi penulis yang hebat, produktif berkarya, dan mampu memberikan manfaat lewat tulisan, kamu mesti menyiapkan diri. 

Menulis itu bukan bakat, menulis itu keterampilan yang bisa dilatih. Semua orang bisa menjadi penulis hebat dan punya karya yang kelak menjadi best seller. Tapi ingat, selalu ada kompetisi 'kualitas' di sana. Maka bekerja keraslah. Selamat datang (calon) penulis hebat. Selamat berjuang!