Panitia Workshop
1 tahun lalu · 929 view · 4 min baca · Seni 98048_33119.jpg
Ayu Utami saat memandu Kelas Menulis. Foto: Qureta

Menulis itu bak Laku Bercinta

Di sesi Kelas Menulis, bagian dari Workshop tentang Sains dan Pemikiran Kritis Gita-Qureta di Bandung, Ayu Utami menegaskan itu. Bahwa menulis tak ubahnya seperti laku bercinta: antara penulis dan pembaca, bak sepasang pencinta yang tengah memadu kasih, keduanya harus meraih kenikmatan yang jadi tujuannya; masing-masing pihak wajib terpuaskan.

Penggambaran semacam itu kiranya cukup tepat. Terutama bagi penulis, ia harus mampu memikirkan pembacanya. Tak sekadar menuangkan ide/gagasan sebagaimana yang digelisahkannya, melainkan pula mempertimbangkan apakah kegelisahan-kegelisahannya itu adalah juga yang memang dibutuhkan oleh pembacanya.

Pertanyaannya, bagaimana menghadirkan sebuah tulisan yang demikian di mana masing-masing pihak bisa terpuaskan hasratnya? Di sesi Kelas Menulis inilah novelis kenamaan itu membeberkan jawabannya. Sebagai mentor, Ayu memberi kiat-kiat khusus yang itu bisa dijadikan para peserta semacam pedoman (alternatif) bergelut di dunia tulis-menulis.

Membangun Struktur Narasi

Umumnya, struktur narasi terdiri dari 3 (tiga) unsur, yakni pembuka/pengantar, isi/badan tulisan, dan penutup/kesimpulan. Meski tampaknya sangat sederhana, tapi upaya mensinergikan ketiga unsur tersebut tak semudah dengan menuangkan saja ide/gagasan di sebuah tulisan secara apa adanya.

“Sebab menulis itu seperti bercinta, maka ketiga unsur tersebut harus bermakna. Tiap narasi harus bisa meninggalkan kesan, momen-momen yang nantinya akan dikenang.”

Jika itu tak terpenuhi, tidak punya makna atau kesan apa-apa sebagai hasilnya, bisa dikatakan, proses bercinta itu telah gagal. Menulis menjadi sia-sia jika tak berjejak.

Ya, menulis ternyata tak sesederhana yang bisa orang bayangkan. Menulis bukan hanya soal bisa-tidaknya seseorang mencurahkan ide/gagasan dalam bentuk tulisan. Tetapi, ibarat sebuah sistem, ada hal-hal utama yang tidak boleh dilangkahi sejengkal pun.

“Sering ada tulisan yang punya alur atau struktur yang lengkap. Ada pembuka, isi, dan penutupnya. Tapi, apakah ia punya mutu, berkualitas? Ini yang selanjutnya harus dicermati. Kita boleh beropini, tapi mutunya harus kuat.”

Dalam menjelaskan ini lebih jauh, tak lupa Ayu mengingatkan para peserta bahwa telah terjadi penurunan kualitas secara massal dalam tulisan-tulisan belakangan ini. Itu sebab karena generasi masa ini, menurutnya, terpapar pada tulisan-tulisan yang buruk, yang tanpa melalui penyuntingan yang ketat.

“Ada beberapa kesalahan umum yang lumrah kita dapati di setiap tulisan. Kesalahan-kesalahan itu adalah tema terlalu luas, isi yang terlalu abstrak, fokus gagasan tidak ketat, hingga argumen dan datanya yang tidak saling menguatkan.”

Untuk meredam kesalahan-kesalahan mendasar itu, maka cara yang harus ditempuh, terang Ayu, adalah kefokusan pada tema atau ide. Selain itu, mengulasnya pun harus dengan beragam ilustrasi yang konkrit. Juga, selektif dalam memilih kata-kata.

Kalau perlu, lanjut Ayu, tiap tulisan mesti mengandung rasa humor. Tentu saja, perihal ini hanya untuk menghindari kebekuan berpikir ketika membacanya. Dan yang utama adalah harus memuat unsur logika sebagai bukti bahwa si penulis memang punya pengetahuan yang cukup tentang apa yang dituliskannya.

Kembali ke soal struktur narasi, Ayu juga sangat mewanti-wanti untuk meminimalisir pengulangan kata sifat dalam satu kalimat. Yang penting, imbaunya, adalah soal kematangan ide di tiap paragrafnya.

“Panjang dan pendek baris tidak ada patokan. Satu paragraf, maksimal lima kalimat untuk konsentrasi yang agak pas-pasan. Itu standar rata-rata saja. Ukuran paling penting adalah matangnya ide.”

Dalam pembuka, setidaknya ada 4 (empat) model menarik yang mungkin patut dicatat. Pertama, pembuka tulisan bisa menggunakan kisah-kisah tokoh inspiratif. Bisa juga dengan mengutip pendapat atau pernyataan yang kuat. Juga bisa dengan memulainya dengan sesuatu yang membuat orang jadi penasaran. Atau, suasana yang dirasa cukup menyentuh sisi emosi pihak pembaca.

“Empat model itu bukan batasan, tapi alat bantu saja kalau lagi mentok.”

Dan, yang juga penting untuk dicatat di sini, sebagai isi tulisan, adalah jangan sekali-sekali menulis untuk menampakkan diri sebagai yang pintar. Kata Ayu, menulislah untuk membantu orang (pembaca) agar bisa memahami apa yang ingin kita sampaikan.

“Membuat pembaca memahami kompleksitas, ini lebih bagus. Menulislah dengan bahasa yang mudah dimengerti. Tidak perlu banyak mengutip jika bisa menuliskannya dengan redaksi sendiri, jika kita bisa menyampaikan maksud. Beranilah berpendapat.”

Hal itu berarti bahwa sebuah tulisan akan ternilai gagal jika tak mampu membuat pembacanya paham. Ilmu sama sekali tidak akan bernilai jika akhirnya tak bisa jua dipahami oleh pembacanya.

“Untuk itu, berilah selalu contoh-contoh di setiap tulisan yang lebih dekat dengan pembaca, berikut data-data yang relevan. Jika menulis dalam bahasa Indonesia, misalnya, maka contohnya pun harus dari Indonesia.”

Adapun soal penutup, papar Ayu kembali, setidaknya harus bisa mengapresiasi pendapat yang jadi ide utama dalam tulisan, baik itu menolak atau menegasi pendapat yang ada. Dan, yang utama juga adalah penutup harus mampu menyatakan kompleksitas sekaligus menawarkan solusi.

***

Terlepas dari struktur narasi, Ayu menegaskan bahwa menulis adalah juga laku berpikir. Kerja-kerja berkarya ini mesti melibatkan kegelisahan si penulis sebagai raison d’etre-nya.

Meski kegelisahan itu terkesan subjektif, tapi subjektivitas tetap dimungkinkan jadi bahan tulisan. Tentu dengan syarat: menghantar penulis juga pembaca ke arah empati dan solidaritas, bukan kepada kebencian atau eksklusivitas.

“Tidak usah takut menjadi subjektif. Kalau yang subjektif itu mengarah pada solidaritas, maka tulisan itu menjadi bermakna. Karena itu, esai memberi tempat untuk tulisan yang mengandung rasa, bukan yang klise seperti mengasihani orang lain dan tidak berani menggugat tuhan.”

Terakhir, yang juga jadi titik tekan Ayu dalam Kelas Menulis ini, tiap penulis harus pula mampu menampilkan hasil bercintanya tanpa cacat. Sebab menulis adalah proses mencipta, maka sebisa mungkin harus menghasilkan ciptaan tanpa kesalahan-kesalahan mendasar sekecil apa pun, seperti di aspek tata bahasa atau ejaan.

“Tulisan yang masih banyak kesalahan eja dan tata bahasanya, itu tak jauh beda dengan orang yang belum sikat gigi. Banyak jigongnya.”

Untuk itu, Ayu pun mewanti-wanti betul persoalan ini, terlebih naskah tulisan yang ingin dikirimkan ke media massa yang nantinya jadi konsumsi publik secara luas.

“Jangan sekali-sekali menyuruh editor memperbaiki tulisan Anda. Jadilah editor untuk diri sendiri. Baca dan edit kembali tulisan sebelum dikirimkan. Sikat gigilah sebelum bertemu editor.”

Artikel Terkait