Jangan ragu untuk menuliskan hal-hal baik, karena kebaikan akan datang kepada kita juga. Dan walau kita hanya dapat menulis sedikit-sedikit, pastikan kita tidak berhenti, karena untuk bisa harus terlatih untuk membiasakannya. ~ Yusrin Ahmad Tosepu

Bagi Dosen, mahasiswa dan masyarakat yang hobi menulis, patut berbahagia karena di era digital hobi menulis bukan lagi dunia yang sepi. Sepuluh tahun yang lalu, hobi menulis selalu identik dengan dunia sepi, terhalang dari riuhnya dunia luar. Namun, kemajuan teknologi informasi mengubah banyak hal termasuk tradisi menulis.

Ketika hobi menulis pada masa itu merupakan dunia sunyi yang tersembunyi di balik diary dan korespondensi. Hobi menulis pada masa itu sebagian besar berkutat pada dua media itu. Hanya sebagian kecil saja dari penulis yang berhasil menembus sekat sunyi ini, dan berhasil mempublikasikan tulisannya ke khalayak ramai.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melaju begitu cepat bak kilat mengubah semuanya. Akses internet yang semakin luas, memuat dunia hanya selebar monitor PC, laptop, notebook. 

Situs jaringan sosial media memberi peluang bagi siapapun terhubung satu sama lain. Saling berbagi kabar dan cerita melalui tulisan pendek hingga panjang. Hobi menulis yang awalnya terkungkung di dunia sepi bermigrasi ke dunia online yang ramai yang tak bertepi.

Menulis di era digital terasa lebih hidup dan mengasyikkan. Mengapa? Karena di sini kita tidak lagi menguatak atik sendiri merangkai kata demi kata. Ada media sosial yang mempublikasikan sependek apapun ocehan kita. Ada blog yang siap menjadi diari online tempat menulis curahan hati hingga media online untuk berbagi opini.

Semua tulisan yang diposting tidak lagi menjadi konsumsi pribadi, akan tetapi akan menjadi konsumsi publik. Siapa saja yang membaca bisa memberikan komentarnya. Sebagai seorang penulis harus siap dengan semua tanggapan itu. Karena ini era digital, siapapun bisa menulis, siapapun bisa membaca dan siapapun bisa menanggapi. Dunia kata adalah dunia kita.

Menulis di era digital merupakan aktivitas untuk memancing diskusi hingga perdebatan. Inilah warna berbeda yang ditawarkan oleh era digital pada penulis. Jika Ingin eksis di era digital melalui tulisan? Bersiaplah dengan perubahan dinamika pergaulan era digital yang jauh dari kata ‘sepi’, sekalipun hanya nongkrong di sudut kamar. Konsekuensinya, kita harus benar-benar selektif dalam memilih kata dan mempublikasikan tulisan.

Setiap kata dan tulisan di media online sangat mungkin menjadi bumerang bagi penulisnya. Banyak kepala yang membaca, banyak persepsi yang tercipta. Bukan hal yang mustahil persepsi yang muncul adalah persepsi yang jauh berbeda dari apa yang kita inginkan. Menulislah dengan gaya, tapi tetap bersahaja dan waspada. Karena bumerang bisa muncul dari mana saja.

Mulai dari sekarang!

Media online menjadi sasaran bagi masyarakat di seluruh dunia dalam melakukan banyak hal. Adanya media online membuat setiap orang bergantung pada gadged-nya dan dengan adanya media online ini baik sosial media, dan media online lainnya menjadikan banyak orang yang berkarya di dalamnya. Salah satunya adalah menulis. 

Banyak sekali media sosial saat ini yang keseluruhan isinya membuat para penggunanya untuk menulis. Dan menulis di media online menjadi minat terbesar, karena masyarakat saat ini banyak menggunakan gadget-nya sehingga memungkinkan memiliki banyak pembaca.

Ada banyak orang yang dengan mudahnya menulis di sosial medianya, namun juga ada yang kesulitan untuk menulis. Adapun juga yang di dalam dirinya memiliki keinginan untuk menulis namun terkadang terhenti dan tak memiliki semangat untuk menulis.  Ada yang memiliki keinginan dan kemampuan dalam menulis namun malas untuk menulis.

Bagaimana mungkin kita melewatkan zaman yang serba canggih ini untuk tidak memanfaatkan kemampuan kita dalam menulis? Sarananya banyak, ada blogger, tumbler, wordpress, dan lainnya. Dan dari semua itu dapat menjadikan sebuah karya yang bisa nantinya dijadikan buku.

Ada beberapa hal yang perlu kita tahu untuk menciptakan semangat untuk menulis.Pertama, menulis menjadikan kita dikenal oleh dunia.  Dengan menulis akan ada sedikit demi sedikit pembacanya yang nantinya akan terus memiliki banyak pembacanya. 

Karena dengan menulis, karya tulismu akan abadi dan pembacamu akan menyebarkan tulisan-tulisan itu sehingga banyak yang menyukainya dan menjadikan semakin banyak yang mengenalmu.

Kedua, Menulis merupakan ladang pahala. Dengan kita menulis hal-hal baik yang bermanfaat dan setelah itu tulisan kita dijadikan pembelajaran untuk pembacanya sehingga bermanfaat bagi pembacanya, maka kita mendapatkan pahala kebaikan. Karena tulisan kita bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

Adapun jika kita menuliskan tentang ilmu dan ilmu yang kita tulis dilakukan oleh pembaca, maka pahala itu sampai pada kita juga dan menjadikan amal jariyah atas apa yang kita tulis. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia itu telah mati maka terputuslah dari semua amalnya, kecuali tiga perkara yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh” (HR. Muslim).

Ketiga, mMenulis menjadikan ilmu itu akan terus tersimpan. Dengan menulis kita menyimpan sebuah ilmu yang kita dapat, sehingga menjadikan kita memiliki banyak ilmu. Karena tiap ilmu yang didapat kita langsung tuliskan dan dapat menjadi bahan tulisan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya” (HR. Ahmad).

Adapun perkataan Imam Asy Safi’i rahimahullah yaitu, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan jika engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”.

Semoga catatan ini dapat menyemangati kita untuk terus menulis. Mari terus semangat untuk menuliskan hal-hal baik, karena kebaikan akan datang kepada kita juga. Dan walau kita hanya dapat menulis sedikit-sedikit pastikan kita tidak berhenti, karena untuk bisa harus terlatih untuk membiasakannya. Semoga!