Kita mungkin pernah atau bahkan sering mendengar istilah bekerja dengan sepenuh hati. Yakni, bentuk pekerjaan apa saja yang dilakukan dengan menghadirkan hati kita pada saat menjalaninya, supaya ia membuahkan hasil yang maksimal.

Sampai saat ini, saya sebenarnya sepakat dengan istilah ini, yakni aktivitas apa saja yang dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan memiliki potensi untuk dapat diterima dengan hati pula oleh pihak lain. Kecuali, mungkin, untuk hal-hal tertentu saja yang sifatnya relatif dan outlier.

Saya kira, bekerja dengan hati ini pun dapat kita lakukan pada kegiatan tulis-menulis. Sehingga kita akan dapat melakukannya dengan sepenuh hati.

Sebenarnya, inspirasi saya untuk menuliskan hal ini adalah sebab saya telah membaca tagline milik Pak Syukur Budiardjo di Qureta. Dalam isian biografinya itu beliau mencatat, 'Dengan suka hati menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media online, dan media sosial'.

Dan entah, ini suatu kebetulan atau tidak, ketika saya membaca karya-karya Pak Syukur, saya pun mudah menerimanya dengan hati saya. Mungkin saja, ini karena beliau telah menuliskannya dengan suka hati.

Barangkali, pembaca bisa saja menganggap saya terlalu mengada-ada. Akan tetapi, yang jelas, saya belum kenal dengan Pak Syukur. Dan demikian pula Pak Syukur, sudah pasti beliau tidak mengenal saya. Sebab, memang kami belum pernah saling bertemu sebelumnya. Namun, berkat tulisan-tulisan beliau yang telah terbit di Qureta, entah kenapa, saya merasa seakan ada hubungan spiritual yang dekat dengannya.

Mungkin saja, inilah yang disebut dengan ukhuwah katibiyyah, rasa persaudaraan yang timbul antar sesama penulis. Rasa kedekatan yang muncul karena membaca karya tulis satu sama lain.

Saya telah banyak membaca karya-karya Pak Syukur di laman Qureta ini. Dan saya tidak tahu, apakah Pak Syukur juga membaca karya kaleng-kaleng saya. Namun, jika saya boleh menyarankan, sebaiknya beliau tidak usah membacanya saja. Sebab karya-karya saya itu terlalu buruk untuk beliau baca. Hehe.

Saya selalu mengakui karya tulis saya ini buruk sehingga merekomendasikan siapa saja untuk skip, melewatinya, dan tidak usah membacanya saja. Namun, karena alasan keburukan itulah saya menjadi bersemangat untuk terus belajar dan siap untuk menerima pelajaran dari siapa saja yang berpeluang akan memperbaiki karya-karya saya.

Dalam proses belajar menulis ini, saya benar-benar bersyukur dan berterima kasih sebab dapat bertemu dengan Qureta. Pertemuan  yang sebenarnya boleh dikatakan terjadi secara tidak disengaja. Saya mulai tahu dengan Qureta ini sebab penasaran dengan karya-karya apik dari Mbak Dini N. Rizeki yang telah terbit di media lainnya. Dan rupanya, setelah saya membaca karya-karya Mbak Dini ini, saya pun tertarik untuk menelusuri karya-karya fenomenal Mbak Dini lainnya, yang pada akhirnya saya temukan ada di sini.

Setelah membaca karya Mbak Dini dan para penulis lainnya yang ada di Qureta, saya menjadi penasaran untuk ikut bergabung, dan bahkan ingin menulis di Qureta ini.

Saya mencoba untuk mendaftarkan diri menjadi anggotanya dan mengirimkan naskah saya. Beberapa naskah awal saya yang telah saya kirimkan sebelumnya, sempat dikembalikan oleh editor. Ini berarti, naskah saya itu belum layak muat sebab adanya kesalahan. Kesalahan yang timbul, baik karena isinya, ejaannya, maupun tata bahasanya. Namun, hal itu tidaklah menyurutkan minat saya untuk memperbaikinya dan mengirimkan naskah-naskah berikutnya.

Dan alhamdulillah, setelah melalui beberapa proses belajar dan perbaikan ini, naskah-naskah saya bisa terbit dan menjadi lebih mudah untuk terbit di Qureta.

Dan tentu saja, saya secara pribadi tidak lupa untuk mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Qureta (khususnya para editornya) yang berkenan memberikan kesempatan pada saya untuk menulis di sini. Semoga kesempatan dan kepercayaan ini dapat saya bayar dengan karya-karya tulis lainnya yang akan bermanfaat untuk saya pribadi maupun pembaca lainnya.

Jika pada media yang lain, mungkin ada apresiasi dalam bentuk komisi atau honor untuk para penulisnya, maka di Qureta pun sebenarnya ada. Namun, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Dan sebenarnya, menurut saya, bukan hanya persoalan komisi atau materi ini saja yang menjadi apresiasi bagi para penulis. Namun, ia juga dapat berupa apresiasi dalam bentuk yang lain.

Banyaknya pembaca yang dapat menikmati, memanfaatkan, atau bahkan mungkin terinspirasi dari karya kita ini, bagi saya secara pribadi sudah merupakan apresiasi yang luar biasa.

Untuk alasan itulah, yang mungkin secara tidak sengaja telah menjadi cikal bakal lahirnya tulisan saya yang berjudul 'Menulis Kapan Saja dan di Mana Saja'.

Entahlah, pada akhir-akhir ini semangat menulis saya menjadi kian menggebu. Mungkin saja, hal ini disebabkan oleh cara menulis saya dengan media yang baru. Yakni, saat ini, saya mulai terbiasa menulis atau mengetik pada gawai, yang sebelumnya selalu saya lakukan melalui laptop saya.

Berbekal gawai yang saya gunakan untuk menulis ini, saya menjadi lebih mudah untuk melakukannya di mana saja dan kapan saja. Sehingga, saya merasakan seolah-olah jalan saya untuk menulis menjadi jauh lebih mudah. Dan bahkan menimbulkan persepsi tersendiri bagi saya bahwa tidak ada alasan untuk tidak menulis.

Usai menulis, saya biasa membaca-baca kembali naskah tulisan saya. Saya mengulanginya sebanyak dua kali pada layar gawai saya. Dan membacanya sekali lagi pada laptop saya. Kemudian, untuk yang terakhir kalinya, saya mengecek kemungkinan kesalahan pengetikannya pada badan surel.

Pada setiap pembacaan naskah saya ini, tentu saja, saya juga menyelinginya dengan kegiatan menyunting untuk memperhatikan koherensi antar-kalimat, menyempurnakan diksi, dan menghindari salah pengetikan, typo.

Namun, lagi-lagi saya hanyalah manusia dan penulis biasa yang tak luput dari keterbatasan dan kesalahan. Dari kegiatan menyusun artikel yang menurut saya sudah cukup ketat ini, saya tetap saja menemukan ketidaksempurnaan pada karya saya, setelah membacanya untuk yang kesekian kali.

Dan, jika ada di antara penulis yang mencoba memberikan saran perbaikan, kritik, atau sanggahan atas karya saya, saya rasa itu sangat wajar. Sebab, saya sendiri pun juga tidak selalu membenarkan karya-karya saya. Secara logika, jika saya sendiri saja tidak mampu untuk selalu membenarkan (karya saya), apalagi orang lain.

Karya saya seakan-akan tidak berhenti berproses untuk mencari dan menjadi yang lebih benar dari karya-karya sebelumnya. Berproses menjadi kebenaran yang termutakhir dan bukan akhir dari segala kebenaran. Sebab, ia akan terus berproses untuk mencari kebenaran yang sejati yang penuh dengan perjuangan dan misteri itu.

Saya hanya berharap semoga karya-karya saya ini akan mampu untuk makin mengantarkan saya untuk mendekati kebenaran-kebenaran sejati yang telah dimaksudkan oleh Tuhan.

Kebenaran yang karena kemurahan-Nya, Dia pun berkenan untuk mewahyukan dan mengilhamkannya pada hamba-hamba-Nya yang terpilih pada masa terdahulu. Dan semoga kita pun termasuk generasi-generasi setelahnya yang mampu untuk memahami dan menjalankan kebenaran-kebenaran ini.

Oleh sebab itu, mungkin saja, tulisan saya ini hanya akan menjadi sebuah pengantar perjalanan untuk berproses mencari kebenaran yang penuh lika-liku dan misteri yang perlu untuk diungkap.

Dan selama proses belajar dan pencarian ini, maka tidak ada pilihan lain bagi saya, supaya lebih mudah dalam menapakinya, kecuali dengan cara menulis dengan sepenuh hati. Semoga saja catatan dari hati yang saya buat sambil berebahan ini juga akan sampai pada hati siapa saja yang membacanya.