Ide

Kita hidup untuk menyelesaikan banyak masalah. Kita butuh ide untuk itu.

Barangkali menyebut ide itu tidaklah asing. Agar tidak terlalu berat pembahasan mengenai ide, saya akan mengambil definisi paling ringan. Ide itu adalah rancangan atau susunan pikir manusia. Ide ini sifatnya alami. Setiap manusia bisa berpikir. Setiap yang berpikir pastilah punya ide.

Lebih lanjut, ide muncul dari gesekan antara nalar dan realitas sosial. Gesekan yang dimaksud adalah ketika Anda dihadapkan dengan problem sosial, Anda berpikir. Atau Anda terus-terus berpikir, maka lahirlah ide sebagai solusi masalah.

Jika Anda pernah punya suatu rancangan dalam pikir Anda, maka itu bisa disebut ide.

Seringkali ada pernyataan dan pertanyaan begini: [Saya punya ide] atau, [Apakah kamu punya ide untuk persoalan ini?]

Dua statemen ini, jika dipahami pelan-pelan, maka makna ide bisa lebih jelas. Bahwa ide itu adalah kerangka pikir atau suatu energi yang bisa menggerakkan akal dalam menghadapi suatu persoalan. Apakah ide bisa dipakai untuk memulai kritik sosial? Sangat bisa. Apa fungsi kritik sosial?—mikir sendiri, ya!

Apa itu persoalan? Berasal dari kata “soal”. Persoalan itu semacam “tanya-jawab”. Jadi, sering-seringlah bertanya banyak hal pada diri sendiri dan jawablah sendiri. Di sini ide bisa muncul. Kalau Anda mau dapat ide banyak, carilah beberapa persoalan. Kunci utama. Catet!

Fungsi Ide

Fungsi ide tidak lain sebagai energi untuk hidup sebagaimana fungsi berpikir bagi hidup manusia. Manusia hidup dengan idenya. Segala aktivitasnya dikendalikan ide-idenya.

Keberlangsungan sosialnya juga dikendalikan idenya. Bisa dibayangkan betapa ide bisa membangun sebuah peradaban besar. Dunia ini diproduksi oleh kumpulan ide.

Manusia berpikir, lahirlah ide!

Rahim Ide

Ide lahir dari gudang wawasan. Wawasan itu semacam ruang bagi akal untuk hidup dan terus berlangsung hidup. Wawasan itu ditempuh dari dua hal:

  1. Pembacaan (membaca teks atau membaca—meneliti—lingkungan sosial). Membaca bisa menghidupkan akal yang tentu juga sangat bisa memproduksi ide. Bacalah banyak buku yang membuat Anda tahu banyak hal. Itu bisa membantu Anda memiliki banyak ide.
  2. Pengalaman (keterlibatan akal pada dunia yang empirik). Pengalaman itu simpelnya adalah terlibatnya akal secara langsung pada dunia. Misal, Anda terlibat langsung sebagai korban longsor. Itu pengalaman. Anda terlibat langsung di sana. Itu jauh berbeda ketika Anda sekadar membaca berita terkait bencana tersebut.

Lebih kuat mana pengaruh bacaan teks dan pengalaman dalam proses menulis? Setiap orang punya kecenderungan berbeda. Maka tak perlu bertanya pertanyaan bodoh ini.

Tapi, jika Anda maksa untuk bertanya itu, maka saya jawab: kedua-duanya [pengalaman dan pembacaan teks] sama-sama berperan penting. Baca banyak buku dan carilah banyak pengalaman.

Jangan banyak tanya untuk sekadar basa-basi.

Ide dan Realitas

Realitas itu dunia yang kita jangkau hari ini. Atau, realitas itu bisa disebut fakta-fakta (sesuatu yang benar-benar ada). Atau, realitas itu adalah sesuatu yang nyata. Bukan khayal, bukan angan, bukan mimpi dan imajinasi. Intinya, realitas itu fakta.

Ide dan realitas punya hubungan yang sangat dekat. Contoh:

Realitas: Ada sepasang sandal jepit.

Ide: Pikiran Anda mungkin akan mengatakan, “Sandal itu gunanya dipakai kaki!”

Ini adalah ide atau energi akal yang kemudian bergerak karena menemukan realitas.

Ide lain: “Sandal itu dipakai banyak orang. Saya akan membuka toko untuk menjual sandal!”

Artinya, ide itu bisa berubah sesuai wawasan yang Anda miliki. Sesuai pikiran Anda. Lahirnya ide adalah dari gesekan nalar dan realitas tersebut. Banyak realitas materi yang bisa membuat kita melahirkan banyak ide. Tentu juga butuh melakukan dua langkah di atas untuk menambah wawasan.

Kita hidup dengan berlapis-lapis fakta. Kita tinggal pilih yang mana yang akan kita tulis sebagai cerita.

Menulis Cerita Pendek

Cerpen itu dikategorikan fiksi. Sudah tahu, kan, apa itu fiksi?

Fiksi di sini artinya tidak nyata, bukan fakta, bukan realitas. Intinya, fiksi itu mirip angan-angan, khayalan atau lebih populer disebut kumpulan imajinasi. Imajinasi itu gambar yang dibuat-buat oleh pikiran. Bukan fakta-fakta.

Menulis cerita pendek sama saja membukukan imajinasi. Membukukan yang bukan fakta-fakta. Atau, cerita itu isinya hanya dibuat-buat/karangan belaka.

Sekarang persoalannya, apakah ide berfungsi saat menulis cerita? Padahal cerita itu fiktif atau imajinatif. Di mana fungsi ide? Apa waktu itu akal tidak aktif?—ada juga cerita yang nyata.

Urutannya begini: Manusia tidak bisa untuk tidak berpikir. Itu sudah naturalitas manusia; selalu berpikir. Bahkan, saat melakukan khayalan, akal manusia masih aktif berpikir. Lalu di mana bedanya mengkhayal dan berpikir saat otak selalu aktif bahkan termasuk saat mengkhayal?

Ibaratnya begini: Imajinasi itu ibarat gambar. Gambar ini lahir dari pecahan-pecahan pikir. Tak akan ada gambar kalau tidak ada pecahan pikir sama sekali. Anda bisa berimajinasi soal “pembunuhan” dan menulis cerita pendek tentang pembunuhan karena sebelum itu Anda mungkin tahu tentang apa itu pembunuhan.

Sedangkan untuk tahu apa itu pembunuhan, pertama-tama yang difungsikan adalah akal. Sedangkan bahannya adalah realitas; kasus pembunuhan. Atau bisa dari bahan bacaan. Saat Anda membaca, semakin jelas otak Anda aktif; sedang berpikir.

Jadi, cerita pendek, walau hanya imajinatif atau fiktif, pastilah disusun oleh ide dan kerja pikiran. Sebab tidak mungkin lahir imajinasi tanpa bahan-bahan atau realitas yang pertama-tama diterima akal.

Sampai di sini, Anda perlu bertanya;,seberapa besar kadar fiksi pada cerita pendek? Atau, apa struktur fiksi itu terpisah dengan struktur nalar dan ide? [PR]

Jelas sekali, cerita pendek, walau imajinatif, sebenarnya lahir dari realitas yang terlebih dahulu diolah oleh pikiran yang kemudian jadi ide cerita itu sendiri. Walau mungkin nanti hanya akan disebut cerita fiksi.

Kritik Sosial

Jika Anda pernah menjadi saksi kunci kasus korupsi, maka Anda pastilah tahu bagaimana praktik korupsi itu dilakukan. Akal Anda aktif. Akibatnya, Anda tahu. Jika akal Anda non-aktif, maka Anda tidak akan menangkap apa-apa walau indra Anda normal-normal saja.

Pikiran yang menangkap-nangkap fakta pada dasarnya sudah melakukan 0.1% imajinasi. Dan berpikir kadang sama jalurnya dengan berimajinasi.

Lalu Anda ingin memperingati seseorang agar tidak korupsi, agar pemerintah lebih tegas, agar orang-orang tahu bagaimana korupsi dipraktikkan, atau agar membuat orang sadar. Maka Anda perlu menulis. Bisa menulis opini, artikel, esai, dan buku.

Tapi, selain itu, Anda bisa menulis cerita pendek.

Di sana—menulis cerita pendek—Anda bisa menyisipkan nasihat. Bisa menyisipkan kritik. Bisa menyisipkan nilai agama agar tidak korupsi. Bisa memberikan wawasan melalui tulisan. Dari Cerpen tersebut. Maka, saat Anda benar-benar berhasil menulis Cerpen dengan tema korupsi di atas, maka di sana Anda telah menggabungkan beberapa hal:

  1. Ide Anda.
  2. Realitas sosial Anda.
  3. Imajinasi Anda.

Maka, sampai di sini, ternyata menulis Cerpen tidak hanya menulis angan-angan, tapi juga bisa semacam menulis hasil penelitian akal pada realitas sosial—hanya saja dikemas dengan cerita pendek yang katanya fiksi.

Maka bisa saja kemudian, cerita pendek ini menjadi peringatan atau kritik sosial yang nanti bisa membenahi segala persoalan sosial.

Cerpen semacam ini pada umumnya ada di koran-koran. Kami menyebutnya, Cerpen genre Media. Cerpen semacam ini hadir bukan sebatas hiburan, tapi sebagai kritik sosial. Maka menulis cerpen adalah jalan lain memberikan kritik atau pencerahan sosial.