Mungkin kita masih ingat kata-kata legendaris dari seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (Pram), yang berujar, “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kata-kata ini, dalam jangkauan saya, terlalu berlebih-lebihan dan cenderung konservatif. Sebabnya, naluri hidup abadi yang diidam-idamkan manusia memang sudah menjadi hukum alam dan banyak orang mencari-cari alasan agar ia bisa hidup secara abadi.

Biasanya, yang paling banyak memberikan janji akan kehidupan abadi itu agama. Apakah janji-janji itu benar adanya? Belum tentu.

Tulisan ini jelas bukan bermaksud membincang soal agama, apalagi soal janji-janji manis kehidupan di akhirat kelak. Justru yang ingin disoalkan dalam tulisan pendek ini lebih pada masalah apakah benar pekerjaan “menulis” bisa membuat hidup manusia jadi abadi? Apakah menulis berbanding lurus dengan sifat keabadian?

Tentu saja, yang dimaksud dengan hidup abadi ini hanyalah metafor. Bahwa bila seseorang menulis dan karyanya dibaca oleh banyak orang, tulisan itu akan terus hidup, dikenang, dan pegarangnya akan hidup abadi bersama-sama dengan pembacanya sampai waktu yang tak bisa ditentukan.

Tapi benarkah begitu? Bukankah tidak semua tulisan bisa betul-betul dinikmati pembaca? Bukankah tidak semua tulisan itu bagus?

Paling tidak, ungkapan Pram di atas mengandaikan tulisan itu minimal harus bagus dan enak dibaca agar ia senantiasa ada pembacannya, lebih-lebih bisa menginspirasi jalan hidup pembacanya dan mengubah cara pandang kita tentang dunia.

Bila tulisan macam itu yang dimaksud, saya kira tetap belum mampu memberi alasan yang logis dan rasional bahwa aktivitas menulis benar-benar sebuah pekerjaan yang akan membuat penulisnya abadi. Bila tulisan buruk bisa saja menjadi sampah bagi penulis sekaligus pembacanya, tulisan bagus pun tak bisa lepas dari sampah-sampah itu. Bagus-tidaknya sebuah tulisan tidaklah identik dengan kata “keabadian”.

Bagi saya, dan mungkin sebagian orang, tulisan adalah sebuah identitas yang independen. Artinya, ia berdiri sendiri dan lepas dari penulisnya. Maksudnya begini, ketika seseorang telah selesai menuliskan sebuah karya, tulisan itu otomatis akan menjadi sesuatu yang bukan lagi penulis. Ia sudah mewujud dalam pribadi yang bukan lagi siapa-siapa kecuali tulisan itu sendiri.

Tulisan, dengan begitu, terlepas dari penulisnya. Ia akan menjadi sebuah teks yang berdiri sendiri dan akhirnya menjalin inter-tekstualitas dengan teks-teks lain. Karenanya, jalinan antara penulis dan tulisannya sudah tidak ada. Penulis akan “tamat” ketika teks atau tulisan itu telah selesai dituliskan, apa pun alasannya.

Inilah yang menurut saya hubungan paling logis antara tulisan dan penulisnya. Bahwa tidak mungkin lagi sebuah tulisan dinisbatkan (dikorelasikan) dengan penulisnya lantaran teks itu sudah merdeka dari otak penulis. Teks itu akan memulai hidup baru sebagai rangkaian teks dan terjalin dengan teks-teks lainnya.

Lebih radikal lagi, teks itu akan benar-benar menjadi hidup bukan lantaran ada nama penulis di baliknya. Tapi semata-mata karena ada pembacanya dan pembacalah yang akan memberi penghidupan secara berkelanjutan bagi tulisan itu.

Dalam pengertian lain, teks itu akan menjadi medan penafsiran yang tak terhingga. Dan tak jarang di medan itu, ada pertempuran-pertempuran antara pembaca dan teks yang dibaca, bukan antara pembaca dan penulisnya.

Pada titik ini, penulis lenyap, tamat, dan entah ada di mana posisinya. Penulis sudah tidak lagi menjadi signifikan bagi pembaca tulisannya. Pembaca menjadi orang yang bebas untuk menafsirkan teks-teks bacaannya, tanpa dipusingkan oleh kehadiran pengarang tulisan itu. 

Hal itu bisa dimengerti lantaran teks itu hanya bisa hidup dari seorang pembaca, sementara hidupnya sebuah teks harus dihubungkan dengan semangat zamannya, bukan semangat penulisnya.

Jadi, sekali lagi, menulis bukanlah bekerja untuk keabadian. Menulis hanya sebuah pekerjaan yang sewaktu-waktu penulisnya sendiri bisa ditikam habis oleh tulisannya dan akhirnya ia dilupakan sejarah.

Meski begitu, toh menjadi terlupakan dalam sejarah bukanlah sesuatu yang selalu pahit dan tak menggembirakan. Ada nilai yang tak terhingga harganya bagi orang-orang yang terlupakan dari sebuah jasa yang tak disadari. 

Begitulah, hidup harus selalu siap dengan soal melupakan dan dilupakan, entah itu baik atau tak baik sama sekali. Bahwa kehidupan itu sendiri sudahlah sangat berharga, betapa pun singkat.

Penulis yang riwayatnya tamat melalui tulisannya sendiri bukanlah sebentuk bunuh diri intelektual, bahwa itu bukan sebuah kesalahan. Tapi memang begitulah cara kerja sebuah karya dalam suatu sejarah. Ia mengalir, hilang, dan dilupakan oleh pembacanya.

Terakhir, saya ingin mengulang sebuah kata-kata bahwa menulis jelas bukan bekerja untuk keabadian. Ketika sebuah karya selesai ditulis, ia sudah bukan lagi bagian dari penulis. Bahkan, bisa jadi tulisan itulah yang akan menikam penulisnya sendiri dan membuat penulis tamat.