1 tahun lalu · 394 view · 5 min baca · Perempuan 31994_95824.jpg
Sumber: pribadi.

Menulis bagi Perempuan

Jika menulis itu mudah, pasti sudah banyak perempuan yang jadi kolumnis, jurnalis, atau profesi lainnya yang menuntut keterampilan ini. Menulis tidak pernah segampang hal-hal teknis seperti yang diungkapkan Ongky Arista UA, terlebih bagi perempuan.

Dalam buku berjudul Jejak Jurnalis Perempuan, jumlah jurnalis perempuan ternyata hanya sekitar 18,6 persen dari 1.868 anggota Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Bahkan dalam obrolan santai saya dengan Prof. Dr. Musdah Mulia, jumlah profesor perempuan di Indonesia kurang dari 10 persen.

Tendensi perempuan yang saya bicarakan di sini tentu berkaitan erat dengan konteks urban. Hal ini perlu saya jelaskan dari awal karena perbedaan tingkat pendidikan, kebutuhan, tuntutan sosial, dan akses informasi memiliki dampak yang berbeda pada sosio-psikologis perempuan.

Bagi perempuan, menulis merupakan ruang ekspresi dalam kebisuannya. Sejak kecil, anak perempuan dilarang menampakkan emosi, kesenangan, dan gairahnya. Tertawa tak boleh terbahak-bahak. Mengemukakan pendapat pun dilarang. Apalagi menunjukan rasa suka pada seseorang, sudah pasti kena tegur. Berbagai emosi terpendam itu langsung berubah jadi tulisan, biasanya terhimpun dalam bentuk buku harian.

Saat saya masih duduk di bangku SMA, kebanyakan remaja putri selalu memiliki buku harian. Saya rasa hal ini masih berlaku sampai sekarang. Buktinya, hampir di semua toko peralatan sekolah menjual buku harian. Buku-buku harian itu sengaja dirancang semenarik dan seimut mungkin. Hal ini jelas karena pasar buku harian adalah anak perempuan.

Dalam buku harian itulah perempuan akan mencurahkan isi hati dan pikirannya; kekesalannya pada semua larangan yang ditimpakan padanya; rasa penasaran pada laki-laki yang ia sukai; dan berbagai perasaan lainnya yang tabu untuk diungkapkan.


Sewaktu remaja, saya sendiri memiliki dua jenis buku harian, untuk pribadi dan kelompok. Jika buku harian pribadi lebih seperti pengalaman sehari-hari. Sedangkan buku kelompok lebih seperti percakapan grup WhatsApp. Tiap akhir tahun, saya dan sahabat-sahabat saya bertukar buku harian pribadi dan membacanya semalaman sambil menunggu detik-detik pergantian tahun.

Tidak hanya soal buku harian, antusiasme perempuan juga tak kalah dengan laki-laki. Berdasarkan pengalaman saya selama mengoordinasi dua kali lokakarya penulisan kreatif di Megawati Institute, perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan yang mengikuti acara tersebut terbilang hampir sama. Lalu, mengapa jumlah kolumnis ataupun profesor perempuan di negeri ini lebih sedikit dibanding laki-laki?

Semakin bertambah usia seorang perempuan, ekspektasi sosial yang ditimpakan padanya semakin bertambah. Gairah perempuan untuk menulis pun kian memudar seiring besarnya tekanan untuk memenuhi tuntutan sosial tersebut. Salah satu tuntutan ini adalah menikah.

Tuntutan menikah pada perempuan lebih besar dua kali lipat dibanding laki-laki. Hal ini karena masyarakat kita tidak hanya memandang perempuan dari aspek reproduksinya saja. Masyarakat juga melihat perempuan sebagai makhluk yang tak pernah utuh dan biang fitnah yang ditanggapi gagap melalui seruan menikah sesegera mungkin.

Pada akhirnya, orientasi perempuan hanya berkutat tentang pernikahan seolah-olah itu satu-satunya tujuan hidup yang harus dicapai. Aspek ini pula yang membatasi perempuan untuk meraih capaian yang lebih tinggi lagi. Pada banyak wawancara kerja contohnya, pertanyaan-pertanyaan seputar pacar dan rencana menikah lebih banyak dilontarkan pada perempuan. Hal ini dianggap sebagai patokan untuk mengukur lama waktu kinerja perempuan akan optimal.

Semua kondisi tersebut menempatkan perempuan pada dilema apakah menikah atau mengejar impian terlebih dahulu. Pandangan macam ini tentu kontraproduktif dengan semangat emansipasi di mana perempuan seharusnya menjadi makhluk merdeka.

Lantas, apa kaitan pernikahan dengan minat menulis pada perempuan? Dewi Candraningrum dalam Jurnal Perempuan menyebutkan, perempuan yang menikah akan dinilai berdasarkan seberapa besar pengabdiannya pada suami dan anak. Dia tak akan dinilai dari prestasi dan keahliannya seperti menulis.


Pada kondisi demikian, hasrat perempuan untuk menulis terkubur oleh kerja-kerja domestik dan pengasuhan anak. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang berstatus mahasiswa yang harus menulis karya ilmiah. Bahkan, teman saya yang berprofesi sebagai dosen sempat mengeluhkan kebanyakan mahasiswanya yang mangkir bimbingan skripsi setelah statusnya resmi menikah.

Dari sini jelas bahwa hal yang dibutuhkan perempuan dalam menulis adalah dukungan sosial (social support). Dukungan sosial tidak hanya menciptakan suasana hati yang kondusif bagi perempuan untuk kembali menulis, tetapi juga memperkuat komitmen untuk tetap menulis.

Lalu dari mana perempuan bisa mendapatkan dukungan sosial? Dukungan sosial seperti apa yang dibutuhkan perempuan? Setidaknya ada tiga relasi sosial yang memungkinkan perempuan untuk memperoleh dukungan sosial, yaitu keluarga, teman, dan komunitas.

Keluarga memang relasi sosial terdekat yang mengidentifikasi diri perempuan. Namun, tidak sedikit pula perempuan yang kesulitan mendapatkan dukungan dari keluarganya, terlebih pada hal-hal yang berkaitan dengan gairah hidup mereka.

Meski keluarga mendukung hasrat perempuan untuk menulis, hal ini sering kali hanya sebatas retorika. Dukungan yang diberikan laki-laki kepada pasangannya ataupun anggota keluarganya yang perempuan tidak sejalan dengan kesediaan mereka untuk berbagi beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak secara konsisten.

Dalam tradisi kita, perempuan masih menanggung semua tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak. Kondisi ini tidak hanya berlaku pada ibu sebagai perempuan tertua pada keluarga batih. Anak perempuan pun menerima beban tersebut karena kelak ia diharapkan mampu membantu ibunya agar di kemudian hari dapat menjadi ibu yang baik.

Lagi-lagi, kondisi tersebut menjelaskan bahwa emansipasi di negeri ini memang lebih fasih diucapkan dibanding dipraktikkan. Masalahnya, emansipasi bukan sekadar persamaan hak untuk mendapat pendidikan atau berkiprah di ruang publik. Emansipasi juga merupakan kesediaan semua untuk berbagi kewajiban di ranah domestik.

Karena itu, dukungan sosial yang diperlukan dalam keluarga adalah pembagian tanggung jawab yang berimbang sehingga perempuan memiliki ruang untuk berekspresi dalam menulis. Selain itu, keluarga perlu memberikan pembelaan dan perlindungan.

Pasalnya, penulis perempuan yang membuat tulisan kritis rentan menjadi sasaran misoginis. Mereka lebih mudah mendapat ancaman dan fitnah. Kondisi itu sempat saya alami setelah menulis esai “The Power of Emak-emak dalam Narasi Radikalisme”. Tanpa dukungan dan pembelaan dari suami saya, saya bisa jadi akan berhenti menulis.


Dukungan sosial berikutnya berasal dari relasi pertemanan. Pada usia yang lebih matang, perempuan memiliki hubungan pertemanan yang lebih sedikit. Hal ini disebabkan terbatasnya ruang gerak dan persamaan pengalaman kognitif yang mereka alami.

Meski demikian, relasi ini tidak jarang diwarnai dengan komentar peyoratif atas karya tulis yang dibuat penulis perempuan. Padahal, perempuan tidak butuh tambahan penilaian (judgement) yang mengecilkan semangat. Apa yang mereka butuhkan adalah apresiasi, saran, dan kritik atas karya tulis yang dibuat.

Selanjutnya, perempuan bisa memperoleh dukungan sosial dengan bergabung dalam komunitas yang sesuai dengan kesenangannya. Bergabung dalam komunitas penulis, misalnya, dapat mendorong konsistensi perempuan untuk menulis.

Komunitas juga memberikan informasi, tips dan trik yang dibutuhkan penulis perempuan. Secara pribadi, bergabung dalam komunitas penulis Qureta membuat saya merasa selalu diingatkan untuk menulis lagi dan lagi.

Artikel Terkait