Sekarang aku benar-benar lagi berada pada fase krisis, krisis ide dan gagasan, tentu intelektual. Krisis semacam ini bagiku melebihi krisis apa pun di dunia ini, termasuk krisis ekonomi. Aku yang lazim menulis meskipun tidak setiap hari, minimal tiga sampai empat kali dalam seminggu, kini sedang dilanda kebingungan, apa kiranya yang hendak aku tulis. Ah, aku benar-benar bingung.

Jika orang-orang hari ini ribut-ribut dan bingung kenapa harga telur, bahan bakar minyak dan beberapa kebutuhan lainnya pada naik, sumpah, aku lebih bingung daripada mereka. Karena dalam keyakinanku menulis itu jauh lebih berharga daripada harga sebutir telur.

Anda tahu tidak, kalau menulis itu bikin anda abadi, seabadi alam yang baqa’ ini. Siapa yang tidak tertarik dengan keabadian? Semua orang tak terkecuali mengidamkannya, meskipun semua orang sudah pada mafhum kalau hidup abadi itu adalah melanggar kadrat kita. Kebadian itu sungguh sangat menggoda dan suka bikin orang jadi majhul. 

Anda tahu, bagaiamana uyut kita, Nabi Adam beserta istrinya tergoda dengan pohon keabadian (syajaratul khuldi) yang mengakibatkan dirinya dilempar ke bumi dan harus rela hidup berpisah berpuluh-tahun di bumi. Iya, keabadaian itu sungguh sangat didambakan oleh siapa pun, termasuk Anda, dan tentu juga saya.

Begini saja, jika Anda memang benar-benar ingin hidup abadi, menulislah! Itu kata opa Pram (Pramoedya Ananta Toer) 

Oh iya, kini otakku serasa kering kerontang layaknya bumi yang tak pernah tersentuh hujan. Kini, aku seakan lupa bagaimana mencari gagasan, membangun ide dan menuliskannya dalam beragam bentuk tulisan, yang aku sendiri tidak paham, bentuk macam apa tulisan aku ini. Kadang orang bingung membacanya. Tapi tidak apa-apa, yang penting aku menulis. terserah orang lain mau bilang apa, I don’t care.

Sungguh aku menulis dengan bebas. Orang lain bebas menyebutnya apa saja, semaunya, bebas, sebebas aku menulisnya. Dan bahkan aku abai dengan kaidah-kaidah kepenulisan yang baku, yang baik, dan yang jamak digunakan oleh banyak penulis masyhur. maaf, bukannya aku sok pinter, atau bahkan sok nyentrik. Tidak. Hanya saja aku lebih nyaman dan merasa lebih lepas membangun ide dengan gaya menulis semauku.

Sungguh, aku tidak lagi paham dengan diriku yang sekarang. Aku merasa asing dengan diriku sendiri. Aku yang tidak lagi bisa menulis seperti hari-hari kemarin. Aku yang tidak lagi piawai merangkai kata. Aku yang tidak lagi lincah membuat jamariku menaribebas di atas keyboard laptopku. Aku yang lagi masgyul menkonstruksi sebuah tulisan. 

Krisis dan kebingungan semacam ini acapkali menimpaku sejak Ramadhan usai. Aku sadar apa yang menjadi ihwal dan awal mula aku dilanda kebingunan semacam ini. Yaitu karena aku tak lagi membaca dan menulis. Bermula sejak bulan Ramadhan kemarin, aku nyaris tak pernah bersentuhan dengan buku, juga tak menulis kecuali satu artikel yang dimuat di geotimes.co.id.

Lantas aku yang pembaca dan penulis pemula acapkali dilanda kebingungan setiap kali ingin menulis. Sampai hari ini hanya satu tulisan yang aku hasilkan. Sungguh ini adalah kondisi di mana kadang kala aku merasa tidak pantas menjadi penulis. “aku ingin berhenti menulis,” pikirku pada suatu malam yang pekat.

Sebenarnya banyak ide yang ingin kutulis, tetapi aku bingung menuliskannya, dan bahkan acapkali tulisanku terputus tak terselesaikan. Kondisi yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Ini benar-benar kondisi yang sulit bagiku.

Sekarang aku hanya bisa menyesal, kenapa aku lama tidak membaca dan menulis, hingga aku benar-benar dilanda kebingungan yang akut. Memang benar petuah orang tua kita dulu, “tade’ tabuuh bettes e budi,” artinya penyesalan itu ada di belakang, kira-kira begitulah maksudnya.

Sekarang aku hanya bisa memberikan saran kepada Anda yag berhajat ingin menjadi penulis, jadilah pembaca yang baik sebelum menjadi penulis. Karena dari membaca Anda akan menemukan ide, kaya akan inspirasi dan teori. Dengan membaca Anda akan tahu apa yang akan Anda tulis, dan akan tahu bagaimana cara menulis yang benar. 

Jika Anda sudah menjadi pembaca, maka silahkan menjadi penulis. Dan perlu Anda ingat, menjadi penulis itu harus konsisten. Jika mampu menulislah setiap hari, terutama bagi penulis pemula. Karena semakin sering Anda menulis maka akan semakin berkualitas tulisan Anda.

Menulis itu tidak butuh banyak metode apalagi teori. Ia hanya butuh konsistensi membaca dan menulis. itu saja, cukup. Jadi bagi Anda yang ingin menjadi penulis berhentilah bertanya, “bagaimana caranya menjadi penulis atau merengek-rengek meminta diajari menulis beserta teori-teorinya. Percayalah, itu bukan awal dan cara yang tepat untuk menjadi penulis. Karena satu-satunya teori menulis yang baik itu adala menulis.

Sekali lagi aku ingatkan, jika ingin menjadi penulis, maka membacalah dan menulislah. Jika Anda bukan pembaca, jangan bermimpi akan menjadi penulis! Maaf, bukan sok mau menggurui, hanya saja aku tidak rela jika Anda bernasib sial, sama seperti aku yang hari ini sedang kebingungan “menulis”.