Keretek merupakan sebuah perpaduan antara rajangan tembakau asli disertai cacahan cengkeh kering yang dibalut kertas—untuk kemudian dibakar dan dihisap. Sudah sejak lama keretek menjadi komoditas andalan untuk diperjual-belikan. Tak tanggung-tanggung kehadiran keretek mampu menjadi tiang penyangga perekonomian keluarga bahkan negara.

Mengkeretek biasanya dilakukan oleh para pria—baik yang masih muda maupun lanjut usia. Hal tersebut menjadi lumrah dilakukan dalam menjalani segala kesibukan rutinitas keseharian.

Dalam waktu sehari saja terkadang para penikmat keretek mampu menghabiskan hingga dua belas lintingan. Bahkan jumlah tersebut dapat bertambah sewaktu-waktu.

Kegiatan tersebut bukan merupakan sesuatu yang serampangan bagi mereka. Akan tetapi tindakan menyesap asap keretek adalah sebuah ritual penenang batin. Maklum saja, dalam lintingan keretek tersebut terkandung zat adiktif yang dapat merilekskan tubuh.

Sebagian orang beranggapan bahwa mengkeretek merupakan tindakan merusak kesehatan. Hal tersebut dipicu oleh adanya senyawa kimia yang dihasilkan dalam proses pembakaran keretek. Padahal tanaman semacam tembakau diusahakan terutama dimanfaatkan untuk dirokok. Asap yang dihasilkan diproyeksikan mampu memberikan kenikmatan bagi penggunanya.

Lain hal nya jika tindakan mengkeretek atau merokok ini dilakukan oleh kaum perempuan. Di bawah sistem patriarki, perempuan selalu diposisikan paling rendah derajatnya dengan pria. Banyak sekali sikap diskriminatif menyasar perempuan keretek. Tak bisa dipungkiri bahwa ada banyak hal yang kemudian menjadi tidak pantas jika dilakukan oleh seorang perempuan.

Seolah-olah mereka berada dalam ruangan yang mempunyai garis demarkasi antara pantas dan tidak pantas dilakukan. Nahas, yang tidak pantas dilakukan oleh perempuan dapat dengan leluasa ditunaikan kaum pria tanpa ada pandangan miring menyertainya. [1]

Pemersatu Gender                        

Di zaman kiwari ini sikap alot dan kaku sudah tidak laku. Berbagai dogma justru terbantahkan dengan logika dan kisah nyata. Sehingga sikap menyudutkan perokok perempuan tentu bukan hal baik yang harus dikukuhkan.

Memberikan ruang untuk bertukar pendapat dan memaparkan alasan, justru lebih bijaksana daripada menggunakan unsur pemaksaan.

Kebiasaan merokok acap kali disandingkan dengan tindakan kriminal. Padahal yang tidak merokok pun memiliki kesempatan untuk melakukan keburukan. Tidak ada jaminan bagi yang tidak merokok akan bebas dari melakukan tindak kejahatan.

Terlebih kegiatan merokok tidak ada kausalitas dengan kualitas kepribadian seseorang. Ketika seorang perempuan atau pria perokok memiliki kepribadian yang baik—meskipun merokok mereka tetap akan berkelakuan baik.

Bahkan perokok diidentikan sebagai nasabah rumah sakit. Yang kapan waktu siap untuk sakit. Pandangan semacam itu muncul dipelopori oleh kampanye tentang kesehatan.

Sementara itu mereka mengabaikan kejahatan korporasi besar penyumbang ancaman kesehatan berupa: pencemaran air, perusakan hutan dan lahan, bahkan polusi dari asap pabrik yang pekat.

Bila saja mereka tahu akan bahaya besar jika hal tersebut terus dibiarkan. Maka, tidak akan terjadi penolakan lantang seputar: rokok, perokok atau merokok. Tentu mereka akan bersatu melawan monster perusak kesehatan dan lingkungan yang sesungguhnya.

Terlepas penyesap keretek pria atau perempuan. Sebenarnya keduanya sama-sama diuntungkan. Jarang sekali mereka menyadari bahwa munculnya keretek mampu menjadi alat pemersatu.

Misal saja saat berada di tempat angkringan, baik sebagai teman ataupun pasangan tentu akan memunculkan kemistri—karena sama-sama menikmati kepulan asap rokok. Diskusi pun tercairkan bahkan problematika kehidupan dapat teruraikan.

Hal serupa tidak berlaku apabila salah satu teman atau pasangan tidak menyukai aroma asap rokok—dan sebaiknya tidak terlalu dekat atau mematikan rokok ketika sedang bersama. Sebagai alat pemersatu (rokok) pengguna wajib menyadari etika dalam lingkup merokok.

Keretek dan Berdikari Ekonomi

Pandangan baik atau buruk soal kretek tentu masih akan berlangsung. Namun, perlu diketahui bahwa kretek atau rokok memiliki andil besar dalam membantu masyarakat umum. Bantuan yang diberikan pun bukan hanya menyasar perokok. Akan tetapi, yang tidak merokok juga merasakan dampak positifnya.

Dampak positif dapat dijabarkan sebagai berikut: terciptanya lapangan pekerjaan, mengurangi angka kemiskinan, petani tembakau menjadi sejahtera, hingga kas negara terisi oleh bea cukai yang dibebankan kepada produsen serta konsumen keretek. Yang nantinya penerimaan cukai tersebut digunakan negara untuk menunjang kesejahteraan masyarakat.

Bukan hal umum lagi jika penerimaan negara melalui sektor cukai hasil tembakau (CHT) mengalami peningkatan pesat. Tercatat penerimaan cukai hingga akhir tahun 2019 tumbuh 8% dari tahun sebelumya. Kemudian, di tahun 2020 penerimaan cukai rokok juga mengalami pertumbuhan sekitar 9,74%. [2]

Kendati demikian keberadaan rokok terus dilemahkan, sepeti kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementrian Keuangan bahwa di tahun 2021 bea cukai rokok naik 12,8%. Kenaikan harga cukai rokok tersebut diperkuat dengan dalih agar angka perokok mengalami penurun. [3]

Tentu regulasi semacam itu akan mengancam keberlanjutan usaha rumahan keretek. Yang terjadi adalah bertumbuh besarnya korporasi rokok kapital yang cenderung kebal. Meskipun biaya cukai naik tak terkendali. Hingga maraknya rokok illegal tanpa pita cukai.

Meluasnya pembangunan pabrik pencetak rokok tentu berpengaruh baik bagi perekonomian masyarakat. Terserapnya tenaga kerja menjadi peluang untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Para tenaga kerja yang acap kali teralienasi oleh negera yang tidak memfasilitasi kesempatan untuk mendapat kerja—dapat terus melanjutkan impian dan harapan.

Terlihat dari rerata gaji yang didapat oleh pekerja pabrik rokok adalah sesuai dengan upah minimum—baik regional maupun kabupaten/kota. Dibuktikan melalui situs qerja.com, untuk bagian staff saja di pabrik rokok Gudang Garam Tbk PT mendapat gaji sekira 3,4 juta/bulan. [4]

Tidak menutup kemungkinan masih terdapat banyak sekali pekerja yang jauh dari kata sejahtera. Banyak korporasi besar tidak memedulikan kesejahteraan karyawannya mulai dari: upah yang diterima rendah, pengurangan cuti atau bahkan pemecatan sepihak tanpa membayar pesangon.

Adanya tuntutan untuk terus bekerja meskipun upah tak sebarapa—membuat mereka mengamini begitu saja keadaan yang terjadi.

Dapat dibayangkan jika para pengrajin keretek rumahan dengan skala kecil ikut diberdayakan. Salah satunya lewat keberadaan perempuan keretek dan kebijakan pemerintah pro-rakyat.

Tentu akan menghasilkan sebuah persaingan sehat dan ketahanan ekonomi kerakyatan yang kuat. Bahkan, pembagian hasil penjualan dengan jumlah tenaga yang dikeluarkan pun akan sangat adil.

Sehingga petani tembakau dan ladangnya tidak hanya menjadi bahan eksploitasi guna memenuhi kebutuhan perusahaan rokok asing. Terlebih melimpahnya tembakau tidak hanya menjadi bahan privatisasi kapital semata. Berdikari ekonomi secara gradual dipastikan mampu mensejaterakan masyarakat.

Pilihan Hidup Sehat

Dengan segala perselisihan di dalamnya tidak salah jika keretek menjadi alat ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan. Karena keretek merupakan sesuatu universal yang melampaui batasan gender dan bidang-bidang lainnya.

Manusia sebagai makhluk yang merdeka diberikan kebebasan dalam menentukan pilihan. Memilih sehat tanpa rokok atau sehat dengan rokok adalah pilihan masing-masing individu.

Tidak pantas jika mensematkan keburukan kepada perempuan yang merokok tanpa alasan yang cukup. Sebab, kretek tak berhenti hanya pada gulungan tembakau asli dan cengkeh kering. Namun juga sudah menjelma dan berbaur bersama kepercayaan, politik, adat istiadat, seni dan segala sisi kehidupan masyarakat di Indonesia.

Daftar Referensi :

[1] Abmi Handayani, dkk. 2012. Perempuan Berbicara Kretek. Jakarta: Indonesia Berdikari.

[2] https://money.kompas.com/read/2020/12/22/112800026/ada-pandemi-penerimaan-cukai-hasil-tembakau-tetap-tumbuh-9-7-persen-

[3] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210201080120-532-600679/cukai-rokok-naik-rata-rata-125-persen-mulai-hari-ini

[4] https://www.qerja.com/salary?keyword=gudang+garam