Vaksin itu peluang untuk keluar dari rimba pandemi Covid-19. Jika peluang, mari kita berusaha meringankannya, memberi jalan, dan membangun kerja sama. Kita berharap, tahap demi tahap dari proses vaksinasi bisa berjalan dengan baik. Jangan memberi label “tantangan” pada upaya vaksinasi.

Ketika label tantangan disematkan pada proses vaksinasi, itu artinya kita pesimis bahwa vaksin mampu menjadi senjata bersama melawan pandemi Covid-19. Dalam kenyataannya, jika ditakar dari persediaan dosis vaksin, agaknya proses vaksinasi Covid-19 tidak mudah dilakukan. Jumlah penduduk Indonesia dan jumlah dosis vaksin tersedia seperti memudarkan harapan untuk mencapai target vaksinasi secara keseluruhan.

Upaya memerdekakan diri dari gebukan pandemi Covid-19 hanya akan menjadi slogan utopia jika semua warga negara menaruh cemas. Jika mondar-mandir di beberapa portal media, rencana proses vaksinasi kedua seperti dikawal rasa pesimis. Banyak orang menaruh perhatian pada tantangan ketimbang peluang dari ketersediaan vaksin itu sendiri. Jika kita terus-menerus pesimis, bagaimana proses vaksinasi itu sendiri bisa berjalan dengan baik?

Kita akan memulai proses vaksinasi tahap kedua. Data proses vaksinasi pun diturunkan dari meja Kementerian Kesehatan. Menurut data Kementerian Kesehatan masih ada 181,5 juta orang yang akan menjadi target vaksinasi kedua. Perlukah kita optimis dengan rencana vaksinasi kedua?

Menuju proses vaksinasi kedua, kita butuh daya tambahan. Daya ini tidak melulu dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat secara umum. Untuk saat ini, hampir 50 persen masyarakat Indonesia telah divaksin. Itu artinya, optimistis menuju upaya keluar dari jeruji pandemi Covid-19 sudah sedikit memuaskan. Untuk proses vaksinasi tahap kedua, diperlukan kerja sama yang solid antar-semua warga negara.

Menuju vaksinasi jilid dua, khusus untuk masyarakat umum, tentunya dibutuhkan bekal dosis vaksin yang memadai. Untuk saat ini, masih ada 181,5 juta orang yang belum divaksin. Angka ini merupakan data total sasaran vaksin Covid-19 yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan. Dengan angka ini, Indonesia sebetulnya masih memerlukan sekitar 426 juta dosis vaksin, termasuk cadangan. Jika angka ini bisa digapai, maka optimistis kita menuju keberhasilan perang melawan pandemi virus corona bisa berhasil.

Kendala dosis vaksin yang tersedia memang menjadi tantangan utama dalam proses vaksin tahap kedua. Ketika dipadankan dengan jumlah warga negara yang belum divaksin, jumlah dosis vaksin hampir tak menyentuh optimistis. Hingga saat ini, jumlah dosis vaksin Covid-19 yang tiba di Indonesia baru mencapai 75 juta dosis. 

Itu artinya, Indonesia masih membutuhkan sekitar 351 juta dosis vaksin untuk menyentuh rasa optimistis keberhasilan vaksin (Republika, 19/05/2021). Jumlah dosis yang demikian, sejatinya tidak mudah untuk diperoleh mengingat ada banyak negara yang saat ini masih berusaha dan berlomba-lomba mendapatkan vaksin.

Lalu, bagaimana dengan keberhasilan proses vaksinasi nantinya? Apakah dengan perbandingan angka (jumlah warga yang belum divaksin dan jumlah dosis vaksin yang tak memenuhi target) yang demikian kita pun berhenti berangan-angan untuk optimis melawan pandemi virus corona? Apakah dosis yang tidak terlalu cukup memastikan rasa pesimis proses vaksinasi tahap kedua?

Hemat saya, ketersediaan dosis vaksin dan target vaksinasi yang cukup banyak tidak menjadi alasan bagi semua warga negara untuk pesimis dengan proses vaksinasi tahap kedua. Dalam hal ini, jumlah dosis bukanlah satu-satunya target primer keberhasilan. Ketertiban dan kedisiplinan dalam menaati protokol kesehatan, tetap menjadi vaksin abadi yang tidak bisa diganti.

Sambil menunggu proses vaksinasi tahap kedua dan kedatangan dosis vaksin berikutnya, kita semua tetap menjaga pilar-pilar utama melawan pandemi Covid-19 dengan tetap memakai masker, menjauhi kerumunan, mencuci tangan, menjaga jarak, dan minimalisir mobilitas pergerakan di luar rumah. Lima pilar ini harus tetap dijaga menyongsong proses vaksinasi tahap kedua.

Vaksin bukanlah satu-satunya pil penenang carut-marutnya kehidupan kita melawan pandemi Covid-19. Vaksin hanya menjadi pilar kekuatan komunal nantinya, jika semua warga negara sudah berhasil divaksin. Jika kita semua sudah divaksin, kita tetap diwajibkan untuk menaati protokol kesehatan sampai pandemi ini benar-benar berakhir. Euforia-euforia yang sifatnya kebelet dan sesaat perlu ditahan sedemikian mungkin agar varian baru Covid-19 tak lagi mendera kesehatan dan keselamatan bangsa.

Dalam perencanaannya, pemerintah akan menarget kategori masyarakat yang akan divaksin. Pemetaannya, antara lain dilihat dari aspek geospasial. Peta geospasial ini berarti target vaksinasi tahap kedua akan menyasar mereka yang secara geografis sangat rentan atau angka penularannya sangat tinggi. Selain aspek geospasial, target vaksinasi tahap kedua akan menyasar masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, masyarakat kurang beruntung termasuk penyandang disabilitas, dan kelompok orang dengan gangguan jiwa.

Maka dari itu, kita tetap optimis bahwa proses vaksinasi tahap kedua bisa berjalan dengan lancar. Dukungan dan kerja sama yang solid antar-pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Mari kita tetap menaati protokol kesehatan sambil menunggu kedatangan dosis baru vaksin Covid-19. Jaga diri dan keluarga dengan tetap memakai masker, hindari kerumunan, dan cuci tangan!