“Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya doakan husnul khotimah beserta anak cucunya” Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari

Pemanfaatan teknologi yang berbasis digitalisasi di dalam lembaga dan organisasi, memang bukan menjadi hal yang baru. Dalam aktivitas keorganisasiannya, organisasi-organisasi modern lebih cenderung menggunakan teknologi digitalisasi untuk menyebarkan informasinya, seperti membuat surat dengan PDF, Pamplet, imbauan dan lain-lain.

Segala aktifitas yang dulunya dikerjakan secara manual, kini dapat dikerjakan dengan praktis. Biaya dan keringat untuk menyokong perlengkapan itu pula juga terbilang rendah.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi kemasyarakatan, dengan ciri khas kelompok islam tradisional yang melekat padanya, kini telah menjajaki teknologi digital.

Keseluruhan layanan bagi warga Nahdliyyin, kini telah di digitalisasi oleh PBNU. Selain itu, dakwah yang dulunya hanya bisa kita dapati dipanggung-panggung pengajian, lingkungan pesantren NU, dan masjid-masjid, telah bisa kita dapati diruang-ruang media social.

Munculnya pelbagai platform berbasis digitalisasi yang diluncurkan NU, sebagai bukti keseriusan NU dalam memanfaatkan serta mengoptimalisasi teknologi.

Sebagai daerah yang berkonotasi Kota, kemajuan dan pertumbuhan teknologi di Palopo terbilang sangat pesat. Sehingga, semangat transformasi digital yang digencarkan PBNU, akan cukup mudah untuk dilakukan NU Palopo.

Apalagi kalau kita lihat dari beberapa data misalnya, sebanyak 80% penduduk di Palopo menggunakan teknologi dalam aktifitas sehari-harinya, juga setiap wilayah kecamatan Palopo yang dilengkapi fasilitas seperti pemancar jaringan.

Transformasi digital tidak hanya akan menguntungkan NU sendiri untuk tetap eksis dan berkontribusi bagi kemajuan daerah, melalui hal itu pula, kalangan-kalangan elit NU Palopo yang kebanyakan dari kalangan masyarakat menengah seperti akademisi dapat mentransformasikan ilmu pengetahuannya bagi jama'ah nahdliyyin, juga bagi masyarakat umum. Selain itu, arah dakwah NU Palopo juga akan lebih terpusat, melalui media-media sosial yang dimiliki NU Palopo.

Melawan Hoax, Menebar Islam Ramah

Salah satu tantangan di era digitalisasi yang paling meresahkan yakni adanya informasi hoax. Penyebaran informasi bohong dan kampanye negatif semakin hari semakin tidak dapat terkontrol.

Konten-konten yang berseliweran diruang-ruang media sosial kita, kebanyakan mengandung ujaran kebencian, sara, ras, bahkan agama yang telah memecah bela masyarakat.

NU sebagai ormas terbesar pun juga kerap kali mendapatkan serangan dari ujaran-ujaran kebencian dan hoax tersebut, dari kelompok yang mengatasnamakan kelompok islam pembaharuan.

Kelompok-kelompok tersebut telah memanfaatkan ruang media social untuk menyebarkan pemahaman-pemahaman yang sungguh menyesatkan masyarakat karena telah melakukan klaim kebenaran yang tunggal. Hasilnya, Islam sebagai agama yang cinta damai, kini penuh dengan ujaran kebencian.

Di Kota Palopo sendiri, kelompok-kelompok demikian juga banyak ditemukan, yang tentu tiap hari akan terus bertambah jumlahnya.

Pemahaman islam yang ramah dan damai di Kota Palopo yang berakidahkan Ahlusunnah Wal Jama’ah seperti yang dianut NU juga semakin hari semakin berkurang. Tradisi-tradisi keislaman yang dulu dilakoni para pendahulu kita juga kini telah jarang kita temui.

Sebagai organisasi islam yang terus menebar islam yang ramah dan damai serta merawat tradisi, NU Palopo memiliki kewajiban untuk merebut ruang-ruang media sosial, untuk mencerahkan pemahaman beragama bagi masyarakat, juga untuk menyampaikan narasi-narasi besar Ke-NU-an, salah satunya Islam Nusantara.

Islam Nusantara sendiri telah lama menjadi konsep yang dikeluarkan NU, untuk menjawab sekaligus mempertahankan tradisi Islam khas Indonesia. Konsep Islam Nusantara yang sesuai dengan karakter dan tipologi serta nilai-nilai Islam yang dikembangkan oleh para ulama Nusantara, selama ini terpecaya mampu menginspirasi warga muslim dunia, agar bisa adaptif dengan tradisi dan budaya lokal.

Selain itu, prinsip Ahlusunnah Wal Jama'ah an Nahdliyah yang dikembangkan oleh NU sendiri yakni tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan amar ma’ruf nahi munkar, menjadikan Islam lebih dapat diterima siapa saja. Sehingga hal ini harus terus disuarakan agar Islam sebagai Rahmat bagi semesta alam dapat dirasakan masyarakat.

Menyongsong Satu abad NU

Pada tahun 2026 nanti, Nahdlatul Ulama telah mencapai usia 1 abad, atau 100 tahun sejak dideklarasikan pada 1926 di Surabaya.  Usia yang tentunya tidak lagi muda, segala rintangan dan hambatan dan pengabdian pada masyarakat telah dilalui.

Kalangan muda Nahdliyyin yang tersebar di ruang-ruang strategis, baik telah menjadi seoarang akademisi dan praktisi merupakan salah satu modal besar dalam menyongsong 1 abad Nahdlatul Ulama.

Dengan semangat dan keterlibatan kalangan muda khususnya di NU Palopo saat ini, dapat menjadi suatu kekuatan baru dalam menghadapi tantangan di era digitalisasi dan Informasi yang perkembangannya begitu pesat.

Disisi lain, memanfaatkan potensi para kader-kader muda NU Palopo, juga dapat menguatkan NU disemua bidang, sehingga NU Palopo dalam 1 abad nantinya, dapat berkontribusi lebih banyak lagi bagi masyarakat umum, khususnya masyarakat Kota Palopo. Wallahu A’alam Bish Shawab.