Arsiparis
2 tahun lalu · 128 view · 5 menit baca · Pendidikan national_library_of_indonesia_building.jpg
Perpustakaan Nasional Indonesia (Foto: Wikipedia)

Menuju Perpustakaan Nasional Ideal

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini berlangsung sangat cepat. Keberadaan komputer sebagai sarana bantu tenaga manusia dalam mengatasi pekerjaannya semakin tak terelakkan mengingat beberapa keunggulan yang telah ditawarkannya termasuk juga sebagai media penyampai informasi.

Komputer telah mampu memberikan kecepatan  dan kemudahan  bagi para pencari informasi. Internet adalah aktivitas yang dihasilkan dari kemajuan teknologi infomasi ini. Dengan internet, seseorang bisa saling terhubung satu sama lain tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dunia sudah menjadi desa global (Global Village) di mana batas batas wilayah sudah semakin kabur, dengan kata lain internet sudah mampu mendekatkan manusia satu dengan yang lainnya sehingga mereka satu sama lain bisa saling mengetahui kejadian di belahan dunia yang lain dengan cepat. Apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa diketahui saat itu juga.

Paparan di atas menunjukkan telah terjadinya suatu tatanan masyarakat informasional. Sebagaimana yang telah dijelaskan Alvin Toffler yang dikutip oleh Sondang P Siagian, bahwa masyarakat informasional adalah masyarakat yang dipenuhi dengan informasi yang melimpah, bertipe multimedia, cepat dan dapat diakses di mana saja dan kapan saja tak terbatas ruang dan waktu.

Dengan kondisi masyarakat informasional yang demikian secara tidak langsung juga turut mengubah pola perilaku para pengguna informasi dalam menyikapi cara penyajian informasi yang semula langka, lambat dan tekstual serta statis perkembangannya berubah menjadi informasi yang melimpah, cepat, dan mempunyai mobilitas tinggi.

Di tengah perkembangan masyarakat informasional yang bermobilitas tinggi,  baik informasinya maupun pengguna informasinya, Perpustakaan Nasional sebagai salah satu lembaga penyedia informasi dan pengetahuan juga harus mengubah paradigma layanan yang selama ini dijalankan.

Hal ini karena seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang telah memunculkan dua tipe pengguna yaitu pemustaka langsung yang menggunakan koleksi perpustakaan dengan cara datang langsung ke gedung perpustakaan dan pemustaka virtual yaitu pemustaka yang menggunakan koleksi perpustakaan tidak secara langsung mendatangi perpustakaan melainkan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi yaitu internet.

Dua tipe pemustaka inilah yang menjadi obyek pelayanan jasa Perpustakaan Nasional  sehingga  tercipta perpustakaan yang ideal yang dapat melayani kebutuhan dua tipe pemustakanya tersebut secara maksimal. Walaupun kemudahan mesin pencari (search engine) di internet dalam menyediakan informasi sangat menarik bagi pencari informasi, keberadaan perpustakaan  tetaplah selalu dibutuhkan oleh penggunanya.

Ini karena informasi yang disediakan oleh perpustakaan kebanyakan berupa informasi yang berbasis pustaka dan dalam proses mengubahnya menjadi pengetahuan memerlukan proses internalisasi yang panjang. Sedangkan yang diberikan oleh internet kebanyakan informasi yang siap pakai (instant) dan tidak perlu kajian mendalam untuk memahaminya.

Strategi Perpustakaan Nasional Untuk Memenuhi Kebutuhan Pemustaka Konvensional Maupun Pemustaka Virtual

Sebelum melangkah lebih jauh mengenai strategi pengelolaan Perpustakaan Nasional untuk memenuhi dua tipe pemustaka di atas ada baiknya kita tengok pendapat James. J. Stapleton yang menguraikan langkah langkah yang diperlukan seseorang untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan yang berguna, yaitu:

  1. cari
  2. dapatkan
  3. evaluasi
  4. susun
  5. pahami
  6. analisis
  7. simpulkan
  8. sebarkan
  9. bertindaklah berbasis pengetahuan
  10. pelihara dan gabungkan

Dari sepuluh item yang diutarakan terlihat sebuah proses belajar mandiri yang harus dilakukan oleh seseorang agar bisa mengubah informasi menjadi pengetahuan. Kesepuluh langkah tersebut adalah sebuah daur hidup pengetahuan yang siklusnya selalu berulang di mana pengetahuan yang tercipta merupakan sebuah informasi baru yang akan diproses lagi untuk menjadi pengetahuan yang baru.

Gambar 1. Daur Hidup Pengetahuan

Berdasarkan gambar di atas perpustakaan bisa mengambil peran sentral karena perpustakaan adalah sumber informasi sekaligus bisa menjadi tempat proses pengubahan informasi menjadi pengetahuan baru yang akan dikaji kembali sebagai informasi yang baru.

Dari sinilah lahir tantangan sesungguhnya keberadaan lembaga perpustakaan bagaimana sebuah perpustakaan menjadi katalisator yang mempermudah proses daur hidup pengetahuan supaya bisa berlangsung terus menerus sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat (life long education).

Ada tiga elemen penting yang dapat membuat perpustakaan mempermudah pemustaka dalam proses mengubah informasi menjadi pengetahuan. Ketiga elemen tersebut hasil penyederhanaan dari enam elemen standar yang harus digunakan oleh perpustakaan yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan yaitu:

  1. Standar Koleksi Perpustakaan
  2. Standar Sarana dan Prasarana
  3. Standar Pelayanan Perpustakaan
  4. Standar Tenaga Perpustakaan
  5. Standar Penyelenggaraan
  6. Standar Pengelolaan

Keenamnya bisa kita sederhanakan menjadi tiga elemen yaitu;

  1. Kelengkapan Koleksi
  2. Kemudahan Akses
  3. Smart Building Community (komunitas gedung pembelajaran)

1.1 Kelengkapan Koleksi

Koleksi perpustakaan sebagian besar adalah bahan pustaka hal ini mengingat informasi yang dikelola oleh perpustakaan adalah informasi yang berbasis pustaka. Agar koleksi bisa diakses oleh dua tipe pemustaka seperti yang tersebut di atas maka perlu diadakan alih media terhadap seluru khasanah koleksi tekstual menjadi koleksi digital (E book).

Pengalihmediaan ini mutlak dilaksanakan karena koleksi tekstual diperuntukkan bagi pemustaka konvensional saja sedangkan koleksi hasil alih media ditujukan untuk pemustaka virtual di dunia maya (via internet).

Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan deposit harus menginventarisir seluruh koleksi perpustakaan di daerah terutama untuk manuskrip kuno yang mengandung kearifan lokal agar bisa digunakan oleh pemustaka di seluruh nusantara dengan mengalihmediakan naskah tersebut ke dalam bentuk digitalsehingga tujuan Perpustakaan Nasional untuk menjadi perpustakaan deposit bisa terlaksana. 

2.1 Kemudahan Akses

Akan menjadi mubazir apabila kelengkapan koleksi tidak dibarengi kemudahan akses dari koleksi tersebut. Untuk itu diperlukan sebuah system pelayanan yang berbasis teknologi informasi (on line). Sistim Informasi Koleksi Pustaka (SIKP) yang mengelola pengkatalogan yang menghasilkan peta lokasi pustaka tekstual dan E book.

SIKP ini bekerja secara online sehingga pemustaka virtual juga bisa mengakses informasi Perpustakaan Nasional yang berbentuk digital walaupun secara fisik, koleksi tersebut masih berada di Perpustakaan Nasional namun   informasinya bisa diakses oleh pemustaka virtual tersebut.

Selain itu SIKP juga dilengkapi sarana Tunjuk Silang (Cross Refferece) yang berkenaan dengan isi koleksi yang diakses misalnya, apabila yang sedang diakses oleh pemustaka adalah buku budaya maka tunjuk silangnya akan menunjukkan lokasi keberadaan benda-benda budaya yang ada dalam buku tersebut.

Dalam hal ini SIKP bisa merujuk pada koleksi yang dimiliki oleh Museun Nasional ataupun Galeri Nasional yang menyimpan benda tersebut sehingga pemustaka akan lebih menghayati pengalaman belajarnya.

1.3 Learning Community Building (gedung komunitas pembelajar)

Poin terakhir dari ketiga elemen pembentuk perpustakaan ideal adalah gedung. perpustakaan. Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan induk harus bisa menciptakan kondisi gedung perpustakaan yang bisa menjadi wadah bagi sebuah komunitas pembelajar yang berbasis pengetahuan.

Hal ini diwujudkan dengan pemberian sarana-sarana pembelajaran di lingkungan Perpustakaan Nasional. Sarana pembelajaran itu bisa berupa beberapa sarana bermain kreatif yang berada di luar gedung, tempat riset/ruang baca disertai sarana untuk menulis, dan ruang audio visual.

Penutup

Kemajuan teknologi informasi memang tidak bisa dihindari. Perpustakaan sebagai bagian dari komunitas informasi juga dituntut harus bisa mengubah pola fikir (mindset) agar tidak tertinggal jauh dengan saudara sepupunya (internet). Era kecepatan dan kemudahan informasi baik tipe tekstual dan maupun digital, menuntut sebuah hadirnya perpustakaan yang ideal yang mampu mengimbanginya.

Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan pembina bisa mengambil langkah lebih dulu dengan melakukan langkah sebagai berikut:

  1. melengkapi koleksi dalam dua bentuk yaitu tekstual dan digital;
  2. memberikan sarana kemudahan akses informasi dengan membuat suatu sistim informasi koleksi kearsipan (SIKP);
  3. membangun suatu gedung yang dapat mendorong terciptanya suatu komunitas pembelajaran;

Semoga arah menuju ke sana segera terlaksana. Amin.