Pelajar
11 bulan lalu · 296 view · 6 min baca · Budaya 91801_98946.jpg
http://kakanwar1332.blogspot.com

Menuju Indonesia Suram

Hilangnya Harga Diri dan Karakter Bangsa

Di era globalisasi seperti saat ini, banyak perilaku remaja-remaja Indonesia yang diadaptasi dari budaya luar. Seperti halnya koin, globalisasi memiliki 2 sisi: sisi positif dan sisi negatif.

Jika berbicara tentang globalisasi, tentu saja kita akan memiliki perspektif dan pendapat masing-masing.

Menurut Wikipedia, globalisasi adalah proses integrasi nasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Dari kata integrasi nasional tersebut, kita tahu bahwa globalisasi disebabkan oleh adanya interaksi yang dibawa oleh oknum yang memiliki pengaruh terhadap sekitarnya.

Berkembangnya zaman menimbulkan pola hidup masyarakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih kebudayaan yang dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal. Perubahan ini dirasakan oleh hampir semua manusia dalam masyarakat Indonesia. Budaya yang selalu ingin praktis menjadi faktornya.

Minat membaca yang rendah, misalnya. Jangankan membaca, bahkan menonton video juga sama seperti itu. Hanya menanggapi lewat judulnya tanpa ingin meluangkan waktu untuk menyimak. Kemudian dengan sifat yang seperti itulah munculnya berita hoax, berita yang tidak diketahui jelas keasliannya.

Globalisasi menimbulkan salah satu event yang unik di berbagai tempat di Indonesia. Event yang terjadi setiap liburan semester tib adalah event "bule kesasar". Anak muda Indonesia yang dengan pedenya mewarna-warnikan rambut mereka tanpa memikirkan kecocokan warna tersebut dengan warna kulit mereka. Bisa dibayangkan bagaimana perpaduan antara kulit sawo matang dengan rambut warna kuning pisang susu.

Makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia juga terpengaruh budaya luar. Banyak masyarakat yang lebih memilih burger, pizza, starbucks, dan masih banyak lainnya. Tanpa disadari, hal ini menyebabkan langkanya makanan tradisional lantaran kurangnya minat pada makanan tradisional. Jika begini, bagaimana kita dapat mempertahankan makanan tradisional jika selera makan makanan tradisional saja tidak ada?


Tentu saja bahasa juga ikut berubah. Ada masyarakat yang berbahasa Inggris, Jerman, Korea, dan lain-lain yang selalu menggunakan bahasa asing tersebut untuk sekadar sebagai ajang pamer dan bergaya-gaya. Yang parahnya lagi, ajang pamer tersebut diikutkan dengan sifat alay. “Hw r u?” misalnya. Bahasa apa pun itu, akan aneh jika disingkat. Bukan malah dianggap keren, malah akan dianggap norak.

Yang tentu perlu diluruskan, penggunaan kata gue-elo bukanlah bahasa gaul yang dikarenakan globalisasi. Gue-elo merupakan bahasa Betawi yang kebetulan terletak di kota metropolitan kita, Jakarta. Bahasa tersebut lazim digunakan di kota Jakarta yang merupakan kota yang paling cepat mengalami globalisasi.

Sehingga salah kaprahlah tentang gue-elo yang mengatakan gue-elo merupakan bahasa gaul. Bukankah dengan menggunakan bahasa daerah, kita bisa tetap melestarikan bahasa daerah kita? Setidaknya kita tahu kapan dan di mana saat yang tepat menggunakannya.

Berbicara tentang metropolitan juga berbicara tentang masyarakat dinamis dan masyarakat statis. Tentu saja masyarakat dinamis yang terlebih dahulu mengalami perubahan-perubahan dibandingkan dengan masyarakat statis

Masyarakat dinamis dinilai lebih gaul, lebih keren, lebih ter-update, sedangkan masyarakat statis dinilai kuper, kudet, cupu, dan sebagainya. Akibatnya, timbullah kesenjangan antara masyarakat dinamis dengan masyarakat statis. Bisa hanya dari perbedaan pendapat, timbullah konflik yang bisa berujung dengan kerusuhan.

Globalisasi menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi konsumerisme. Selebriti-selebriti mancanegara dan lokal menjadi panutan masyarakat Indonesia. Mulai dari brand yang dipakai maupun di-endorse, kata-kata yang diucapkan, maupun gaya kehidupan yang selalu dilahap oleh masyarakat Indonesia. Banyak hal yang sebenarnya yang tidak terlalu penting untuk dipenuhi, namun karena demi gengsi, akhirnya dipenuhi juga.

Masyarakat pecinta K-Pop, K-Drama, K-People, maupun hal-hal yang berbau Korea juga merupakan dampak globalisasi yang dapat kita temukan di mana saja. Mereka sangat suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton Marathon K-Drama. Menghabiskan uang ratusan ribu hingga jutaan untuk mengoleksi Official Merchandise Idol mereka. Dan yang pasti menghabiskan banyak uang untuk membeli kuota untuk selalu update berita idolanya.

Dampaknya, artis-artis Indonesia menjadi bahan bandingkan dengan K-Idol. Kultur Korea lebih dibanggakan dan dihafal. Lebih suka Samyang dibandingkan Mie Ayam Paijo. Standar pasangan yang sangat tinggi, padahal tidak tahu bahwa ada yang lebih bisa mencintainya dan menjadi the special one nya, yaitu K-Amu. 

Hal-hal berbau Indonesia menjadi tidak laku karena dianggap plagiat. Dan tentunya, dampak yang paling parah adalah terjadinya pem-bully-an karena dianggap pecinta plastik, laki-laki banci, dan lain sebagainya.

Culture shock yang terjadi tentunya bukan hanya datang dari Korea saja. Banyak juga negara-negara lainnya, contoh saja Jerman, Perancis, dan Jepang. Karena dianggap memiliki budaya yang lebih bagus. Akhirnya lebih memilih untuk menetap di luar negeri. Akhirnya menganggap Menara Eiffel merupakan tempat yang romantis tanpa tahu bahwa banyak tempat di Indonesia yang tak kalah romantisnya. Raja Ampat, misalnya.

Culture shock tentunya menghilangkan keotentikan budaya-budaya di Indonesia. Contoh saja dalam hal berpakaian. Hanya karena Batik yang dikenal hingga mancanegara, bukan berarti Indonesia hanya memiliki Batik.

Karena dirasa hanya memiliki Batik, apakah orang Batak harus memakai Batik, orang Dayak harus memakai Batik, orang Papua harus memakai Batik? Haruskah begitu? Bukankah setiap suku di Indonesia memiliki ciri khas adatnya masing-masing?


Tentunya dalam hal beretika juga terserang dampak globalisasi. Mengikuti gaya kehidupan budaya asing dengan menghilangkan moral dalam berperilaku. Akhirnya munculnya sifat kurang ajar terhadap sesama, sikap yang kurang ajar, dan hilangnya budaya malu dalam masyarakat Indonesia. 

Contoh saja, banyaknya video alay dari para mussers dari aplikasi Musical.ly dan para Tiktokers dari TikTok yang tentunya mengganggu. Tanpa malunya mereka menggunggah video yang tidak senonoh ke media sosial.

Ateis atau pemikiran yang tidak percaya terhadap tuhan tentu tidak terlepas dari globalisasi. Karena di era sekarang orang yang hanya percaya terhadap yang terlihat. Mereka menganggap materi yang menjadi tolok ukur dalam banyak hal.

Meragukan tuhan bukankah juga ateis? Seperti yang Sujiwo Tejo ungkapkan, Menghina tuhan tidak perlu dengan umpatan dan membakar kitabnya. Khawatir besok tidak bisa makan saja itu sudah menghina tuhan.

Dan dampak dari semua yang telah disebutkan menyebabkan melemahnya atau terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan kebersamaan dalam diri manusia. Hal ini menghasilkan manusia-manusia yang suka merampas hak orang lain dan tidak mempedulikan nasib sesamanya. 

Individualisme telah terbentuk didalam diri masyarakat Indonesia. Mereka hanya peduli pada diri sendiri dan kelompoknya, serta apatis pada lingkungan sekitarnya. Mereka tidak lagi peduli terhadap sekitarnya karena mereka merasa terasingkan, di-bully, merasa ada kesenjangan, dan lain sebagainya.

Inilah tantangan global yang menguji kemampuan bangsa Indonesia. Apakah kita dapat menghadapi dan menyerap hal-hal yang positif dari globalisasi, atau malah sebaliknya, akan tenggelam dan masuk dalam pola hidup yang diusungnya. 


Memang sakit jika kita berbicara tentang kebenaran, namun inilah yang akan terjadi terhadap Indonesia ke depannya. Rusaknya moral Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga masa depan bangsa yang dipegang oleh anak-anak muda Indonesia akan menjadi suram jika rusaknya moral tersebut. 

Bukankah adalah juga moral yang rusak selalu menyalahkan para kaum muda tanpa memberikan contoh yang baik terlebih dahulu? Bukankah kaum tua harusnya menjadi panutan para kaum muda? Bukanlah salah kaum muda sepenuhnya jika tanpa bimbingan dan nasehat yang baik dan benar, bukan?

Kita selaku bangsa dan rakyat Indonesia harusnya sadar akan pentingnya bentuk suatu kebudayaan dan karakter bangsa. Kita harus memiliki dan meningkatkan rasa nasionalis untuk negara Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Yudi Latif:

Demikianlah para pendiri bangsa mewariskan kepada kita semangat, alasan, dan tujuan perjuangan kebangsaan sedemikian terang dan luhurnya. Kehilangan terbesar dari bangsa kita ini bukanlah kemerosotan pertumbuhan ekonomi atau kehilangan pemimpin, melainkan kehilangan karakter dan harga diri karena diabaikannya semangat dasar kehidupan bernegara.

Indonesia jangan sampai suram, juga kelam, maupun muram!

Referensi:

  • Muin Idianto. SOSIOLOGI SMA/MA Jilid 3 untuk Kelas XII. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila. Malang: Intrans Publishing
  • Wikipedia. Globalisasi, (Online), (Wikipedia.org/wiki/Globalisasi, diakses pada 25 Agustus 2018)

Artikel Terkait