Pandemi memaksa orang beradaptasi. Salah satunya dalam hal aktivitas ekonomi. Pemakaian uang tunai makin hari makin berkurang, berganti dengan uang elektronik. Kebijakan selama pandemi yang memaksa orang melakukan aktivitas dari rumah, makin menyuburkan penggunaan uang elektronik.

Uang elektronik bermacam ragamnya. Bisa berbentuk kartu seperti e-money, kartu kredit, poin yang tercatat dalam kartu frequent flyer, dll. Atau bisa juga berbentuk e-wallet seperti Go-Pay, OVO, DANA, dll. Selain itu, bisa juga tersimpan dalam bentuk digital berupa cryptocurrency seperti bitcoin, dll.

Nanti pasca pandemi, orang akan kembali bebas beraktivitas, pusat perbelanjaan buka setiap saat, pusat hiburan kembali beroperasi, seluruh aktivitas kembali ke normal baru. Saat itu penggunaan uang elektronik di Indonesia akan makin meluas. Komposisi penduduk, penetrasi internet, kemajuan teknologi, hingga manfaat yang diperoleh tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga pemerintah serta swasta, menjadi faktor yang mendukung hal itu terwujud.

Bank Indonesia mengumumkan nilai transaksi uang elektronik tumbuh pesat. Pada Desember 2020 saja nilainya mencapai Rp 22,1 triliun atau tumbuh 30,44 persen dibanding Desember 2019. Jika dikaitkan dengan komposisi penduduk Indonesia kini yang didominasi usia muda maka potensi penetrasi uang elektronik akan makin dalam. 

Data BPS menunjukkan, saat ini sebanyak 175 juta atau 64,7 persen penduduk Indonesia merupakan kelompok Milenial, Gen-Z, dan Post Gen-Z. Mereka adalah digital native, individu yang sudah mengenal digital sejak lahir. Cenderung maunya serba instan, anti ribet, dan konsumtif. Teknologi sudah mendarah daging dalam keseharian. Uang elektronik bukan hal baru buat mereka yang selama ini telah sering digunakan ketika berbelanja online untuk bermacam keperluan. 

Jumlah pengguna internet di Indonesia pun tak kalah mengagumkan. Dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Di tahun 2020, menurut We Are Social tercatat terdapat 175 juta pengguna internet di tahun 2020. Bahkan jumlah HP atau gadget yang terhubung ke internet mencapai 338,2 juta, jauh melebihi jumlah penduduk Indonesia itu sendiri.

Penggunaan uang elektronik akan makin meluas berkat ragam manfaat yang dihadirkannya. Transaksi menjadi lebih nyaman, karena praktis, cepat, dan mudah. Cukup menggunakan aplikasi mobile payment di HP saat bertransaksi. Misal ingin belanja dari rumah, maka cukup buka platform e-commerce. Tinggal klik dan barang pesanan akan dikirim. Sementara ketika berada di pusat perbelanjaan, pengguna tinggal melakukan scanning barcode dengan HP. 

Bahkan bukan hal yang mustahil kalau toko-toko kecil di sepanjang jalan pun akan memiliki fasilitas menerima pembayaran secara elektronik. Seperti yang sudah terjadi di kota-kota besar di China saat ini.

Penggunaan uang elektronik juga meminimalisir kontak. Pandemi telah mengajarkan bahwa barang-barang, termasuk uang kertas dan koin, berpotensi membawa virus. 

Dengan uang elektronik, kontak dengan uang dalam bentuk fisik menjadi minimal. Selain itu, antrian panjang sewaktu melakukan transaksi pun tak sampai terjadi. Menunggu antrian menjadi hal yang cukup menyebalkan. Uang elektronik akan mengurangi waktu antri. Contohnya saat pembayaran di pintu tol. Ketika pengemudi membayar dengan uang tunai maka diperlukan waktu sekitar 12 detik, karena ada interaksi dengan petugas pintu tol. Namun dengan e-money tiap mobil hanya perlu waktu 4 detik untuk tap and go

Risiko mengalami kejahatan perampokan menjadi berkurang. Mengingat berapapun jumlah uang yang kita bawa tidak ada satu rupiah pun berbentuk fisik uang kertas atau koin. Semua tersimpan secara elektronik, di dalam HP. Bahkan dompet pun bisa kita tinggal di rumah. 

Dari sisi keamanan akan lebih terjaga. Untuk dapat melakukan transaksi diperlukan konfirmasi hasil fingerprint atau iris mata atau face recognition. Orang lain yang tidak berhak, tidak dengan mudah untuk dapat menyalahgunakannya.

Ditambah lagi godaan baik dari platform ataupun merchant yang makin gencar melakukan strategi pemasaran turut menarik minat pembeli. Mulai dari potongan harga, beli dua gratis satu, tambahan diskon ketika pembayarannya menggunakan e-wallet tertentu, hingga bebas ongkos kirim. Berbagai hal itu akan makin meningkatkan penggunaan uang elektronik di masa mendatang. 

Sementara dari sisi pemerintah, penggunaan uang elektronik akan makin menguntungkan. Seluruh transaksi keuangan akan otomatis tercatat dalam sistem ataupun database. Pemerintah tinggal menggunakan data yang ada untuk berbagai keperluan. Mulai dari kebijakan keuangan maupun perpajakan.

Kebijakan-kebijakan bantuan dari pemerintah kepada masyarakat ataupun UMKM akan makin banyak yang berbasis online. Sinyal itu sudah bisa kita lihat saat ini. Berbagai bantuan akan diwujudkan dalam bentuk uang dan langsung dikirim ke rekening penerima. Berbagai pungutan liar yang mungkin terjadi ketika bantuan disalurkan dalam bentuk tunai menjadi dapat dihindarkan. 

Sektor keuangan yang ditopang swasta pun akan makin menggeliat. Penyedia pinjaman uang tidak lagi hanya didominasi pihak bank. Ke depan akan makin bermunculan fintech atau pinjaman online (pinjol).  Di awal tahun 2021 ini saja, terdapat 148 perusahaan pinjol resmi yang memiliki izin dari Otoritas Jasa keuangan (OJK).

Untuk mendapatkan kredit dari bank, peminjam harus melalui prosedur administratif yang tak mudah. Belum lagi agunan yang harus diserahkan ke bank agar dapat mendapatkan kredit dalam jumlah tertentu. Bagi masyarakat kecil, hal itu tentu menyulitkan. Terlebih bank konvensional belum mampu menjangkau masyarakat di pelosok wilayah. Sementara dengan pinjol, berbagai persyaratan itu tidak diperlukan lagi. Pinjol menawaran proses yang mudah dan cepat. Kebijakan pemerataan internet di seluruh perdesaan akan makin memperluas jangkauan pinjol ke pelosok. 

Tak dipungkiri, pasca pandemi lndonesia akan menuju ke era cashless society. (asa)