Benarkah di Arab niqab atau cadar kini malah sudah ditinggalkan? Setidaknya begitu menurut keterangan Menteri Agama yang beredar di media massa.

Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. 

Iya, tapi Arab yang mana dulu. Di Saudi maksudnya? Di kota-kota besar seperti di Jeddah, itu betul. Generasi-generasi muda di sana banyak yang meninggalkan cadar. Berganti dengan yang lebih modern. Bahkan yang tidak berjilbab pun banyak ditemui.

Bisa juga jawabannya tidak. Di Mekkah dan Madinah, perempuan pakai cadar masih banyak. Bahkan sudah umum. Di kedua tempat ini rata-rata wanita Arab memakai itu. Bisa ramai kalau ada wanita yang tidak pakai jilbab. Dilihat oleh semua orang.

Satu argumen, bahkan satu fakta, bisa didekati dari dua perspektif bahkan lebih. Di dunia nyata, iya dan tidak bergantung pada masalah rasa. Bukan dari objeknya itu sendiri. Manusia diciptakan bukan melulu soal benar atau salah, tetapi masalah rasa.

Rasa adalah masalah etika dan estetika. Dua hal ini yang tidak dimiliki makhluk mana pun. Hanya makhluk yang bernama manusia yang dibekali rasa. Jika patokannya adalah kebenaran, robot lebih paham tentang kebenaran. Dia tidak bisa berbohong.

Saat kita hendak bayar tol non-tunai, misalnya, kemudian sisa saldo di kartu e-toll kurang hanya 5 rupiah, pintu pembatas tol jelas tidak akan terbuka. Karena mesin pintu tol adalah robot. Ia hanya tahu kebenaran. Tidak mengerti etika.

Berbeda jika yang jaga adalah manusia. Dengan etika yang dimiliki, ada kemungkinan masih bisa terbuka pintu itu. Entah karena penjaga tolnya kasihan atau dicarikan alternatif lain: pakai kartu miliknya dan kita bayar kekurangannya ke penjaga.

Ini masalah etika. Manusia tidak diciptakan untuk menguasai kebenaran. Tidak pernah. Justru yang ditekankan adalah bagaimana manusia menguasai rasa. Rasa jauh di atas kebenaran. Rasa jauh di atas nalar. Rasa lebih mulia dari sekadar ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan hanya berbicara masalah benar dan salah. A adalah benar dan B adalah salah. Argumen A adalah benar dibuktikan dengan setumpuk argumentasi yang disajikan melalui berbagai data dan fakta. Dan B adalah tidak benar karena bertentangan dengan A. Itu inti ilmu pengetahuan.

Tidak mungkin ada dua kebenaran ketika dua hal yang bertentangan bersatu. Ini dasar ilmu logika sebagai basis ilmu pengetahuan.

Rasa jauh di atas itu. Ketika kita tahu A adalah benar, di saat mendapati B yang bertentangan dengan A, ia tidak lantas mengatakan B adalah salah. Karena ia memiliki rasa. Etika. Budi pekerti. Hanya manusialah yang punya sifat itu.

Dalam situasi tertentu, manusia mulia bahkan tidak akan mendahulukan kebenaran. Yang ia dahulukan adalah etika. Rasa itu tadi.

Banyak contoh. Nabi Saw ketika melihat seorang Arab baduy (maaf) kencing di dalam masjid, apakah Nabi lantas mengatakan itu salah? Apakah Nabi Saw langsung melarang orang itu? 

Tidak. Nabi saw lebih mengedepankan rasa daripada kebenaran. Dibiarkannya Arab Baduy itu selesai dan diperintahkan shahabat membersihkan. Lalu Nabi baru memberikan pengertian padanya.

Itulah agama rasa. Agama cinta kalau menurut Rumi. Maulana Jalaluddin Rumi (ulama sufi) mengatakan:

“Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti.”

Dengan cinta kita bisa mentolerir kekurangan atau kesalahan seseorang. Seorang suami-istri dalam ikatan cinta, bukan berarti keduanya tidak tahu kekurangan masing-masing. Bukan tidak tahu kesalahan masing-masing.

Mereka tahu dan paham. Tetapi, cintalah yang membuatnya bisa menerima kekurangan. Cintalah yang bisa memaafkan kesalahan masing-masing.

Begitu pun dengan orang tua. Orang tua bukan tidak tahu ketika anaknya nakal. Bukan berarti suka ketika anaknya melanggar. Mereka tahu dan tidak suka. Namun, cintalah yang bisa meredam emosi orang tua pada anaknya. Bagaimana pun anak berbuat salah, selalu terbuka lebar pintu maaf bagi anak. Itulah kekuatan cinta. Kekuatan rasa. Kekuatan etika.

Orang yang mengedepankan rasa, sangat paham dengan kalimat apa ia berujar pada si A, dan dengan kalimat apa ia harus berkata pada si B. Seperti seorang pelukis yang sangat paham harus dengan kuas dan cat apa saat hendak membentuk suatu warna atau pola pada kanvas. Itulah kekuatan estetika.

Kita rindu dengan para sosok pendakwah yang lebih mendahulukan rasa daripada kebenaran. Kita rindu terhadap para pemimpin yang mengedepankan cinta daripada murka. 

Kita rindu akan para muballigh yang mengikuti jejak para Wali Songo yang lebih mengedepankan pendekatan kultural daripada pendekatan vokal.

Kementerian Agama harus berada sebagai lembaga negara yang berada di posisi menumbuhkan dan menyuburkan sosok-sosok yang dirindukan masyarakat itu, bukan justru menjelma menjadi Lembaga yang mengikis harapan tersebut. Menjelma sebagai mesin yang dengan jemawa seakan menguasai kebenaran. Bukan itu yang diharapkan dari Kementerian Agama.

Agama menjadi pembunuh massa jika ia dibawa tanpa rasa. Tanpa cinta. Di tangan orang yang berbeda, agama menjadi sesuatu yang mengerikan. Di tangan orang yang memiliki rasa, agama menjadi penyejuk di kala masyarakat dahaga akan nilai-nilai kemanusiaan.

Jangan sekali-kali padamkan rasa ketika beragama. Ia adalah lentera penerang di saat logika tak mampu membawa kita pada hal yang disepakati. Matikan sejenak nalar pembawa kekeruhan, dan nyalakan rasa yang akan membawa pada kebeningan hati. Begitu ujar Al-Ghazali.