Beberapa hari belakangan ini, hampir semua media massa baik online maupun offline membicarakan mengenai vaksin. Tetapi bukan soal perkembangan sejauh mana kelanjutan program vaksinasi. Melainkan kisruh tentang vaksin ‘cap dalam negeri’ yang menjadi topik utama bahasan hampir seluruh media.

Berbagai tulisan di beberapa media pun turut ambil bagian dalam membahas perdebatan vaksin yang diklaim sebagai karya anak bangsa. Sebagian menganggap ini persoalan mengenai antara nasionalisme dan tidak nasionalis. Sementara sebagian menduga kisruh ini kental dengan aroma politisasi karena melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Pemerintah dan TNI. Kisruh ini membawa saya dalam sudut pandang lain bahwa ini bukan hanya soal nasionalisme dan politik tetapi juga soal mentalitas.

Sejatinya masalah vaksin ini cukup sederhana. Tidak rumit seperti yang kita saksikan saat ini. Vaksin Nusantara ini diperuntukkan sebagai vaksin alternatif Covid-19 saat ini yaitu vaksin Sinovac yang berasal dari Cina dan vaksin AstraZeneca dari Inggris.

Namun vaksin Nusantara ini dalam perjalanannya tidak mengikuti standar scientific atau kaidah ilmiah. Logikanya jika dalam pembuatannya saja sudah tidak sesuai dengan standar baku pembuatan vaksin maka tentu saja vaksin ini secara otomatis tidak bisa digunakan. Tidak ada tawar menawar lagi di titik tersebut.

Dalam praktiknya nyatanya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Apalagi dibumbui dengan aroma politisasi tentunya makin menjadi runyam. Keterlibatan banyak tokoh anggota DPR, Dahlan Iskan, Gatot Nurmantyo, Aburizal Bakrie hingga mantan Menteri Kesehatan Terawan sekaligus promotor vaksin Nusantara membuat benang kusut menjadi lebih kusut.

Narasi yang dibangun adalah semangat nasionalisme. Vaksin ini buatan anak bangsa maka patut kita dukung sepenuhnya. Jika tidak mendukung, berarti anda sekalian termasuk dalam kelompok tidak nasionalis. Tidak menghargai karya anak bangsa yang sudah mengeluarkan segala upaya untuk dapat memproduksi vaksin sendiri.

Sebenarnya akar masalahnya bukan tidak nasionalisme. Tidak bermaksud untuk tidak memberi dukungan terhadap hasil karya dalam negeri. Tetapi jika seluruh prosesnya dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan dan melalui prinsip kaidah ilmiah maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung.

Cuma yang menjadi pertanyaan apakah kisruh ini hanya mengenai pertentangan antara nasionalisme dengan politik? Saya kok ragu jika kedua hal tersebut menjadi alasan utamanya. Menurut saya ini lebih disebabkan karena mentalitas kita yang ingin serba cepat dan instan.

Dalam proses pembuatan vaksin secara umum ada lima tahap antara lain fase praklinis, uji klinik fase I, fase II, fase III dan fase IV. Nah untuk kasus vaksin Nusantara, belum bukti uji praklinis tetapi sudah melompat ke fase I dan II. Padahal uji praklinis ini penting untuk mengukur tingkat efektifitas dan keamanan dari calon vaksin tersebut.

Studi praklinis ini ibaratnya uji coba pendahuluan. Pada tahap awal penelitian ini calon vaksin akan disuntikkan kepada hewan coba. Biasanya hewan coba yang digunakan adalah mencit, tikus, kelinci dan monyet. Setelah disuntikkan, maka akan dikaji apakah calon vaksin layak untuk digunakan dan apakah memiliki efek samping tertentu.

Sekarang coba kita bayangkan jika tahapan ini dilewati atau tidak dilakukan. Pastinya sangat berisiko bagi para sukarelawan yang akan disuntikkan calon vaksin tersebut.

Ibaratnya seorang pengemudi yang baru memiliki Surat Ijin Mengemudi disuruh untuk mengendarai kendaraan di lokasi yang belum diketahui kondisi medannya. Sangat berisiko pastinya karena menyangkut urusan keselamatan.

Kendati demikian, nyatanya banyak juga masyarakat yang mendukung vaksin ini. Dukungan ini berasal dari berbagai kalangan mulai dari politisi, gubernur, tokoh masyarakat hingga masyarakat umum. Hal ini bisa terlihat dari jumlah sukarelawan dalam uji klinis fase I pada Desember 2020 hingga akhir januari 2021. Meskipun belum melalui fase praklinis, sebanyak 27 orang bersedia untuk diambil sampel darah dan disuntik vaksin.

Belum lagi dukungan dari masyarakat umum. Contohnya bisa dilihat dalam komentar tulisan kolom dari Kang Hasanudin Abdurakhman pada minggu lalu. Meski ada pro-kontra tetapi ada sebagian masyarakat yang menyatakan dukungannya terhadap vaksin nusantara ini. Alasannya pun sama yaitu vaksin ini karya anak bangsa sehingga wajib mendapat dukungan penuh.

Contoh kedua adalah GeNose karya Universitas Gajah Mada (UGM) untuk deteksi Covid-19. Seingat saya hanya dalam beberapa bulan saja alat ini sudah diresmikan oleh Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan saat ini. Bahkan saat ini digunakan sebagai screening test Covid-19 di beberapa stasiun dan bandara.

Lagi-lagi bukannya saya tidak nasionalis untuk karya anak bangsa. Cuma sejauh pengetahuan saya, alat ini belum teruji terkait validitas efektifnya dalam mendeteksi Covid-19. Bahkan World Health Organization (WHO) sejauh ini masih hanya merekomendasikan PCR sebagai golden way untuk deteksi virus corona.

Dari sini tentu kita seharusnya memahami bahwa masyarakat Indonesia memiliki mentalitas yang ingin semuanya serba instan dan cepat. Kita tidak ingin berlama-lama untuk menikmati sebuah proses. Di mindset kita lebih banyak proporsinya mengenai hasil, hasil dan hasil.

Seakan kita ingin cepat melompati tangga-tangga yang ada di atas untuk dapat segera menikmati hasilnya. Kita ingin segera merasakan euphoria dan pengakuan oleh berbagai pihak meskipun dengan cara yang tidak sepatutnya untuk dilakukan. Apalagi jika dapat membahayakan bagi orang lain.

Kisruh vaksin Nusantara ini seharusnya membuat kita terbuka. Bahwa ini tidak hanya mengenai ideologi dan politik tetapi juga menyangkut dengan karakter dan mentalitas kita sebagai suatu bangsa. Tentu akan sangat membanggakan jika karya anak bangsa dapat berkontribusi dalam memerangi pandemi ini. Akan tetapi, tetap perlu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.