Lingkungan merupakan habitat asli manusia. Dimana kehidupan dan aktivitas manusia tidak terlepas dari lingkungannya. Sehingga, segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk dalam kegiatan bersosialisasi dan interaksi dengan sesama manusia. Lingkungan merupakan area sosialisasi setelah keluarga. 

Seseorang tentu sudah menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungannya sendiri. Dalam konteks bersosialisasi lingkungan meliputi lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. 

Namun, yang paling mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang yaitu lingkungan masyarakat. Karena mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka. 

Dengan demikian, pengaruh secara fisik maupun mental sangatlah besar. Lingkungan yang tidak baik dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi, begitu pula sebaliknya.

Dalam menjalani kehidupan bersama tentunya kita memerlukan adaptasi. Adaptasi terhadap hal baru bukanlah hal yang mudah. Kita dituntut untuk menyesuaikan diri di mana dan dengan siapa kita dihadapkan. 

Dalam beradaptasi tidak dapat di sama ratakan antara hal satu dengan yang lainnya. Apalagi dalam suatu pergaulan di masyarakat, di mana setiap kelompok di masyarakat tersebut memiliki tradisi sendiri. 

Antara grup satu dengan yang lainnya tidak mampu memperlakukan hal dan sikap yang sama. Pastinya ada perbedaan di dalam grup tersebut. Entah, dari cara bicara, cara bergaul, atau yang lainnya. Sehingga kita harus bisa memposisikan diri ketika berada dalam suatu grup yang berbeda.

Namun, tidak semua orang mudah berinteraksi dengan orang baru. Ada kalanya seseorang akan mengalami cultural shock ketika masuk dalam sebuah grup pergaulan yang baru. Orang orang yang kesulitan beradaptasi cenderung akan mengalami mental down. 

Sebagai contoh kecil, dari cara bicara dan segi perkataan. Seseorang yang awalnya hidup di lingkungan yang cara bicaranya halus kemudian bergaul dengan orang baru di suatu tempat yang cara bicaranya bernada tinggi dan sedikit kasar maka akan sulit memposisikan dirinya dalam circle tersebut. 

Dan yang terjadi pada orang yang sulit beradaptasi tersebut akan mengalami mental down. Ia akan mudah tersinggung dengan candaan dalam grup pergaulan itu. Sehingga, ia akan merasa minder di dalam circle pertemanan tersebut. Sikap minder inilah yang memicu bibit-bibit kesehatan mental akan terganggu.

Kesehatan mental kini tengah menjadi perbincangan hangat. Hiruk pikuk perkembangan zaman sangat berpengaruh dengan kondisi psikologis manusia, maka tidak heran jika beberapa orang mengalami keadaan mental lemah. Mental lemah atau mental down bisa terjadi pada siapa saja dan penyebabnya pun beragam. 

Banyak orang mengalami mental down dipengaruhi oleh keluarga, masyarakat, tekanan pekerjaan, dan lain sebagainya. Namun, penyebab yang paling mencolok tersebut datang dari pergaulan seseorang, karena di situlah mereka belajar beradaptasi dengan orang baru dan harus menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya. 

Bagi beberapa orang, terdapat kombinasi faktor yang rumit yang menjadi penyebab mental down sehingga kadang sulit untuk dipahami oleh orang awam. Sering kali dijumpai dalam sebuah pertemanan terdapat salah seorang yang diperlukan seperti budak.

Cara berpikir negatif menjadi salah satu penyebab mental  menjadi lemah, terutama di kalangan remaja yang sering dihadapkan dengan berbagai masalah yang selalu datang bergantian. Oleh karena itu, seharusnya kita sebagai remaja harus belajar menguatkan mental kita karena ke depannya. 

Karena kita akan lebih sering dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang ada dan kemungkinan besar dapat mengganggu aktivitas dalam sehari-hari.

Kondisi mental dapat  berpengaruh pada emosi kemudian membuat suasana hati menjadi buruk dan mengubah perilaku seseorang, maka dari itu kita harus mengelola emosi kita agar kesehatan mental kita juga dapat terjaga.

Ada berbagai macam cara untuk membantu menguatkan mentalitas kita agar kehidupan sehari-hari kita dapat berjalan dengan lancar.

1.  Dengan mengelola stres. Biasanya kita akan dihadapkan dengan berbagai masalah yang sangat berat sehingga membebani baik secara emosi maupun mental kita. 

Seseorang yang stres akan mudah gelisah dalam situasi apapun sehingga, kadang salah dalam mengambil keputusan. Stres juga membuat kita menjadi mudah tersinggung dengan perkataan ataupun perilaku orang lain yang sekiranya tidak sesuai dengan keinginan kita.

2.  Memperbaiki suasana hati. Suasana hati dapat berganti-ganti tergantung dengan apa yang kita alami. Suasana hati terbagi dalam dua macam yaitu senang dan juga sedih. 

Suasana hati yang senang memang dapat membantu dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita. Namun, bila suasana hati sedang sedih membuat kita menderita dan bahkan bisa sampai berlarut-larut bisa membuat seseorang menjadi depresi dan akhirnya dapat mempengaruhi emosi yang dapat mengganggu aktivitas kita sehari-harinya. 

3. Selalu berpikir dengan positif dan tenang. Banyak sekali kegiatan yang kita lakukan sehari-hari yang membebani pikiran kita sehingga, membuat kita lelah dan membuat pikiran kita menjadi kacau. Maka kita perlu berpikir positif dalam melaksanakan berbagai kegiatan, hal tersebut dimaksudkan untuk membantu pikiran kita menjadi lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih. 

Karena pentingnya lingkungan yang mendukung untuk kesehatan mental maka, kita harus senantiasa untuk selalu selektif dalam bergaul. 

Karena setiap pergaulan pasti memiliki sisi negatif contohnya dari segi perkataan yang kadang terasa menyakitkan bila kita terlalu memasukkannya ke dalam hati. 

Melatih mental diperlukan agar senantiasa kuat dan tidak mudah terpengaruh perkataan orang lain. Anggap perkataan mereka sebagai semangat dan motivasi ke depannya agar berkembang menjadi lebih baik. 

Tidak hanya itu, dukungan dari orang lain juga diperlukan dalam memperkuat mental. Seperti selalu memberi support dalam keadaan apapun kepada seseorang. Siapa tahu dengan kepedulian yang kita beri dapat mengubah kehidupan orang tersebut. 

Contoh kecil dari kepedulian yang dapat diterapkan yakni sharing. Sharing atau curhat kepada orang terdekat untuk mengurangi beban yang kita milik, hal tersebut juga dapat menyehatkan mental kita karena selalu berpikir positif dan merasa memiliki seseorang yang senantiasa menjadi teman berbicara.