Berdengung-dengung di kepala saya nama makanan yang bahan baku utamanya adalah kedelai. Tempe. Nama masakan yang kabarnya tertulis dalam Serat Centhini pada 1814.

Kedelai dan tempe, dua sejoli tak terpisahkan. Ong Hok Ham menyatakan penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia.

Tempe, dengan sub tema dan sub-sub tema yang menyertainya, bersama asosiasi pikiran yang melingkupinya, bagi masyarakat dewasa ini bukan bahan diskusi yang menarik. Berhadapan dengan tempe mohon ingat pula kedelai, import kedelai, regulasi eksport import, petani dan nasibnya, sawah, lahan produktif yang beralih fungsi menjadi tanaman bangunan beton, dan seterusnya.

Pikiran kita disesaki oleh tema-tema diskusi pro-kontra yang tidak bersangkut paut dengan tempe. Pilkada, penistaan agama, pemisahan politik dan agama, berita hoax, viral media sosial—tema yang memacu nafsu kita untuk tidak pernah absen meramaikannya.

Di tengah riuh rendah pergolakan dan situasi serba viral, tempe terselip di antara derap kaki para pendemo. Tempe menjadi salah satu lauk yang tidak perlu diperhatikan atau sekadar diingat sekalipun. Tempe bukan viral yang seksi sehingga nyaris tidak pernah disebut jasa-jasanya, walaupun kandungan proteinnya menolong lekuk perkasa tubuh laki-laki.  

Mental Tempe dan Ketangguhan Saat Ditindas

Yang melekat di ingatan kita adalah mental tempe—ejekan untuk menohok mentalitas terjajah, melarat, tidak memiliki inisiatif untuk maju.

Mental tempe identik dengan mentalitas orang-orang kelas bawah, terbelakang, susah diatur, keras kepala yang bertahan untuk membela martabat dan harga diri. Membela yang saya maksud tidak terkait dengan tema-tema yang mewah dan gagah. Martabat dan harga diri itu kadang berurusan dengan sedumuk bathuk senyari bumi.

Mereka yang bermental tempe, lihatlah, nyaris tak pernah mati. Ditindas dan dijajah sedemikian rupa—dimiskinkan kesejahteraan ekonominya, dihadang akses pendidikannya, diusir, digusur, disalahkan, dan dimobilisasi untuk tlundakan menduduki kursi kekuasaan dengan imbalan beberapa recehan rupiah.

Bermental tempe adalah menghidupi anak istri dengan jualan beberapa botol minuman, mengamen di bus, mengumpulkan barang rongsokan, berkerumun di gunung sampah—yang semua aktivitas itu dijalani dengan sesekali tertawa lepas bersama sesama rekan bermental tempe.

Bermental tempe adalah ketika penindasan telah mencapai puncak kepedihan sehingga menerbitkan kegembiraan tiada tara, dan yang ditindas justru berteriak: “Hanya seperti ini kesanggupanmu menindas!”—lalu penindas akhirnya capek sendiri.

Bermental tempe adalah ketika pemerkosaan telah mencapai puncak keperihan sehingga yang terasa bukan perkosaan lagi, dan yang diperkosa malah nantang: “Ayo, panggil seratus, seribu, sejuta bromocorah dan para pemerkosa di muka bumi!”—hingga pemerkosa akhirnya loyo sendiri.

Bermental tempe adalah ketika pendidikan telah mencapai lembah kebodohan paling bodoh sehingga kebodohan yang paling hewan adalah puncak kepandaian itu sendiri, dan yang dibodohkan malah berpidato: “Begini ini pendidikan? Begini ini pembodohan? Tidak bisakah kalian menyelenggarakan pendidikan yang bukan pendidikan ini secara lebih bodoh lagi?”—lalu pemegang regulasi pendidikan itu puyeng sendiri.

Mental tempe adalah mental rakyat Indonesia yang karib dengan penindasan, sejak berabad yang lalu, hingga kini. Dan mereka tetap survive dalam konotasi negara yang kehilangan makna denotatifnya.

Formula Peradaban Tempe

Sesungguhnya kita sedang memerlukan formula peradaban pembuatan tempe: mensterilisasi cara berpikir, me-ragi-kan peran pemimpin, men-fermentasi pola pergaulan berbangsa dengan menjaga suhu konflik supaya tidak memanas.

Peradaban tempe dan mentalitas tempe dalam konotasi positif merupakan peradaban yang dibangun para leluhur bangsa ini—dan kita dengan gagah perkasa melakukan diskontinuitas sejarah itu.

Yang kita kerjakan adalah membangun peradaban junk food, menelannya mentah-mentah tanpa adopsi dan adaptasi. Alih-alih menyambung tali kontinuasi DNA sejarah khas bangsa Nusantara, kita justru memutusnya dengan formula materialisme modernisasi dan demokratisasi.

Warisan adiluhung peradaban tempe dikesankan ndeso, pinggiran, ketinggalan zaman. Sedangkan kebudayaan junk food, dengan makna, skala, ruang lingkup, ragam dan jenisnya yang menjebak dan menelikung kesadaran otentik sebagai bangsa Nusantara, diberi tempat di panggung utama.

Tentu saja, yang saya maksud bukan sekadar makanan—secara konotatif junk food adalah mentalitas dan setting berpikir yang gampang digiring ke dalam kotak pro dan kontra. Otak kita disuapi informasi sampah, setiap detik, setiap menit, sehingga kesanggupan kita yang utama adalah mem-pro-kan kelompok kita sendiri seraya meng-kontra-kan kelompok lain.

Adapun pihak yang kita kontra-kan bisa dipastikan adalah mereka yang mem-pro-kan diri seraya mengepalkan tangan kepada kita sebagai pihak yang kontra. Kita hidup dalam sekat-sekat yang kita ciptakan sendiri agar menemukan lawan tanding yang tak lain adalah saudara sebangsa.

Liberal, kapitalis, garis kanan, garis kiri, garis tengah, garis lurus, garis bengkok, fundamentalis, wahabi, salafi, madzhab pedagang kaki lima—semua itu adalah stempel yang gampang melekat pada orang atau kelompok. Seolah-olah Tuhan sengaja menciptakan manusia dalam kapling-kapling label. Masing-masing kapling hidup dengan aroma kebenaran mereka sendiri, yang pasti akan disalah-salahkan oleh penghuni kapling sebelah.

Efek peradaban junk food sedemikian dahsyat menghantam nalar sehat. Martabat dan harga diri peradaban tempe kita buang-buang ke masa silam. Kita adalah garuda yang belajar terbang layaknya seekor burung emprit.

Tidak heran kalau tempe dan peradaban yang menyertainya tidak menjadi salah satu formula untuk menegakkan pilar martabat dan harga diri kebangsaan. Padahal di luar sana, tempe adalah magic food atau heaven food. Makanan surga yang dilahirkan oleh peradaban surga, yang para pelaku sejarahnya adalah manusia penghuni masa depan yang akan mengayomi, memangku, menjunjung bangsa-bangsa lain di dunia.

Tempe, apa kabarmu?