2 bulan lalu · 3734 view · 3 menit baca · Media 86698_31518.jpg

Mental Sok Suci dan Sesat Pikir Afi Nihaya

Tanggapan Afi Nihaya Faradisa tentang kasus prostitusi Vanessa Angel tergolong bagus. Tulisannya mampu menarik ribuan reaksi. Ratusan komentar dan shares-nya pun memukau. Itu terhitung sejak catatan ini sedang saya ketik.

Aspek kebagusannya yang lain, yakni potret kemampuan Vanessa melampui hukum pasar. Ia berhasil mencipta pasarnya sendiri. Ia yang pegang kontrol dan otoritas (penuh) atas nilai atau harga dirinya, bukan konsumennya.

Dalam aktivitas ekonomi, ini satu syarat mutlak yang harus ada selain absennya negara. Tetapi Vanessa tetap patut hati-hati. Meski penting, ia tak boleh gegabah. Jangan sampai ramalan Karl Marx malah terwujud. Makin barang dagangan mahal, makin berpotensi menggali kubur sendiri.

Lepas darinya, saya tidak penasaran seperti Afi tentang bagaimana Vanessa membangun nilai jual; tentang kenapa orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Karena Vanessa memang cukup memiliki syarat-syarat layaknya produk Apple Inc. atau tas Hermes yang Afi jadikan perbandingan.

Menjadi tepat jika kebanyakan ibu rumah tangga Afi sebut jauh lebih “murahan”. Ya, dibanding Vanessa yang katanya punya harga diri 80 juta rupiah sekali kencan, seorang istri—entah istri siapa yang Afi maksud—cuma mendapat uang bulanan 10 juta. Itu pun harus merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, yang juga bikin tulisan Afi itu bagus di mata saya adalah perkara ketimpangan gender.

Memang, dalam masyarakat kita, patriarki masih jadi raja. Apa-apa (umumnya) salah perempuan. Pemerkosaan? Salah perempuan. KDRT? Salah perempuan. Poligami? Salah perempuan. Suami selingkuh? Salah perempuan. Hamil di luar nikah? Salah perempuan. Prostitusi? Salah perempuan juga.

Mengapa bisa? Kata Afi, “Karena masyarakat kita masih jahat terhadap perempuan. Tidak ada kesetaraan gender, literasi sangat rendah, kaum terdidik masih sedikit. Ya, begitulah karakteristik negara berkembang yang sakit kronis, penuh pejabat korup, banyak masalah SARA/HAM, kesejahteraan kurang.”

Demikianlah bagus-bagusnya. Dan cukup sampai di situ saja. Selebihnya, yang saya temukan adalah kandungan (kalimat) yang cacat. Terutama yang akan saya tampilkan ejaannya berikut ini, yang saya kira cukup fatal:

“Masyarakat kita mempunyai mentalitas holier-than-thou atau merasa diri lebih suci, lebih superior daripada manusia lain yang kebetulan terbuka aibnya.”

Bisa lihat di mana letak kecacatan yang saya maksud? Tepat di frasa “…yang kebetulan terbuka aibnya.” Itu!

Jika benar Afi muak dengan mentalitas orang-orang yang ia labeli “flawed society”, yang suka bergosip, menghujat di akun media sosial sang aktris, dan mem-bully yang bersangkutan, maka tak perlulah ia pakai frasa kontraproduktif seperti itu. Dengannya justru menunjukkan bahwa Afi pun cacat, bermental sok suci.

Karena, sebagaimana yang ia tulis sendiri, itu secara tidak sadar memberi kepuasan psikologis berupa perasaan “aku lebih baik, lebih bermartabat”. Kontraproduktif, cacat, dan bermental sok suci, bukan?

Kecacatan lainnya, yakni soal penilaian Afi terkait laku media seperti Kumparan dan Jawa Pos. Di sini Afi tampak menjilat ludah sendiri dengan menulis:

“Saya turut kecewa dengan kualitas jurnalistik (Kumparan dan Jawa Pos) yang sangat memihak dan mendiskreditkan perempuan (misoginis) hanya karena cara buruk seperti itu lebih efektif untuk menjaring minat pembaca. Shame on you! Please reveal both sides, it takes two to tango!”

Seperti terhadap Vanessa, mestinya Afi juga menilai bahwa model peliputan Kumparan dan Jawa Pos itu adalah upaya merangkul konsumen dengan caranya sendiri. Media-media ini sadar pasar, tahu bahwa pembacanya lebih gemar dengan ulasan-ulasan yang punya tonjolan menarik.

Benar bahwa media-media tersebut, juga media sejenisnya yang lain, memanfaatkan momen kontroversial ini. Tak sedikit di antaranya yang berburu klik, view, dan pembaca dengan cara menyebut secara lengkap nama aktris selaku konsumen. Sementara nama laki-lakinya, si konsumen, diburamkan. Padahal keduanya sama-sama punya tonjolan yang menggugah.

Tetapi ini soal strategi pemasaran. Sekali lagi, media-media itu sadar pasar. Jika ada yang jauh lebih menonjol, kenapa harus menonjolkan yang sedikit tonjolannya? Bodoh namanya itu.

“Bukannya itu melanggar etika jurnalistik?” tanya si naif.

“Etika hanyalah konstruksi; sengaja dibuat untuk membungkam kebebasan yang beragam; bukan kewajiban moral bawaan manusia. Ingat-ingat itu!” jawab si dia yang entah siapa.