Pembelajar
1 minggu lalu · 73 view · 4 min baca menit baca · Pendidikan 18914_66484.jpg
Ilustrasi: cimusee.org

Mental Literasi di Jagat Media Sosial

Pada era digital seperti sekarang ini, Internet rupa-rupanya menampakkan diri dalam dua wajah: satu malaikat, sementara sisi lainnya bermuka iblis.

Alih-alih menyebutnya sebagai “malaikat”, setiap dari kita menstranformasikan Internet justru dalam wujud iblis bernama media sosial. Lagi-lagi, dengan kemudahan dan kecepatan informasinya

Sering kali berbagai platform media sosial itu digunakan justru untuk mengumbar kebencian atau hate speech antarsesama. Dengan dalih apa pun, bisa atas dasar politik, ras, bahkan agama, lalu meneruskan, padahal belum jelas kadar kebenarannya.

Internetisasi dalam kehidupan manusia sejatinya memiliki dampak yang cukup serius dalam cara kita memandang kebenaran. 

Sebelum dikepung oleh Internet yang menawarkan segala kemudahan dan kecepatannya, informasi adalah hal yang mahal dan sulit untuk ditemukan. Namun berbeda dengan keadaan sekarang, informasi justru yang “datang” dan menghampiri manusia dengan deras-sesaknya.

Penemuan akan informasi menjadi sangat mudah dan instan. Dari derasnya arus informasi yang gencar dan terus menerus, yang terjadi adalah kebingungan yang meluas.

Informasi apa pun yang “datang” sejatinya akan disambut: air keruh sekalipun akan laku dalam pasar yang kehausan dan kebingungan. Akibatnya, manusia cenderung abai dalam memilih dan memilah informasi. Tidak penting apakah informasi itu hoaks, bertanggung jawab, atau tidak


Setiap dari kita hanya perlu percaya informasi tanpa perlu mencari kebenaran dari informasi yang kita percayai. Hal ini diperkuat dalam survei Mastel (Masyarakat Telematika Indonesia) pada tahun 2017 terhadap 1.116 responden di Indonesia.

Sebanyak 44,30% masyarakat menerima berita hoaks setiap hari. Lebih lanjut, 92,40% masyarakat menyatakan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram adalah saluran yang paling sering digunakan. Selain itu, 62,80% menyatakan aplikasi chatting sebagai saluran lain yang juga aktif dalam penyebaran berita hoaks.

Bias Konfirmasi

Manusia adalah  mahluk echo chamber. Ia hidup dalam ruang gema. Dalam artian, kita hidup di “alam” prefensi masing-masing.

Kita cenderung hanya mendengar apa yang kita percayai dan hanya percaya apa yang mau kita dengar. Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai dengan ekspetasi, maka kita cenderung mencari kambing hitam ketimbang mengoreksi diri sendiri.

Inilah sejatinya yang terjadi dalam jagat media sosial dewasa ini. Setiap dari kita terlalu sibuk mencari kambing hitam atas pemahaman dan keyakinan informasi kita sendiri, tanpa melihat adanya alternatif informasi. Ironis. 

Terlebih platform media sosial memiliki satu fitur untuk mempertajam echo chamber itu, yakni recommended pages, di mana kita ditunjuk untuk mengikuti berita dan informasi yang sesuai dengan pandangan dan prefensi masing-masing. Akibatnya, kita makin tenggelam dalam informasi yang justru mempersempit sudut pandang dan memperparah bias konfirmasi itu.

Namun, persoalannya bukan terletak pada media sosial selaku objek yang mati dan kaku, tetapi lebih kepada pengguna, yaitu manusia itu sendiri, masing-masing kita.

Bagaimana kita selaku user media sosial agar bisa arif dalam menggunakan media sosial sebagai objek yang mati? Bukankah smartphone (ponsel pintar) tidak harus lebih pintar dari penggunanya?

Mental Literasi

Kegilaan dalam menyebarkan informasi tidak benar, termasuk informasi yang mengujar nada kebencian terhadap pihak mana pun, pada akhirnya akan merusak rasa kepercayaan sebagai social capital kita selaku manusia dalam kehidupannya.


Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah memberhentikan berita hoaks di ponsel kita, dan memulai menumbuhkan mentalitas literasi.

Literasi tidak melulu menyoal buku, lebih jauhnya tentang teks. Dalam artian ini, literasi tidak lagi membaca dan menulis, terlebih untuk yang dicap akademisi. Ia adalah mentalitas, sikap rakus dalam memahami pengetahuan atau informasi secara menyeluruh dari beragam sudut pandang. Dan, tentu dengan didasarkan atas sikap kritis dan skeptis (ragu-ragu).

Ketika Internet, khususnya media sosial, menjelma seperti pengeras suara bagi setiap kita, sebab makin banyak informasi yang suka membisik dengan nada tinggi dan volume melampaui kadar keharusan, maka yang mesti kita lakukan bersama adalah mempertanyakan setiap titik informasi tersebut.

Apakah benar dan bertanggung jawab? Apakah tersedia informasi di luar yang kita miliki? Dengan demikian, terbukalah kesempatan kita untuk melihat berbagai hubungan baru atas informasi yang selama ini diketahui. 

Kemungkinan untuk melihat berbagai hubungan dari informasi yang kita ketahui ternyata sangat terbuka lebar. Syaratnya, cukup kita membuka sudut pandang. Termasuk dalam kasus media sosial; mencari alternatif informasi, menggodoknya dan jangan biarkan kita jatuh keyakinan informasi sendiri, apalagi lantas mengambinghitamkan informasi yang lain.

Mempersempit pemahaman atas informasi yang kita ketahui saja sejatinya tidak membuka ruang untuk melihat berbagai kemungkinan dan hubungan-hubungan. Sebab boleh jadi, dari hubungan itu malah menjadikan kita arif dalam berpikir, juga bertindak, celaka.

Dasar yang penting untuk membangun mentalitas literasi ini adalah banyak bertanya dan terus-menerus. Dalam artian, kemampuan berkesinambungan untuk terus menggunakan banyak tanya, termasuk tentang yang kita tahu dan yang kita tidak tahu untuk menemukan hal-hal yang belum kita ketahui.

Terbaca cukup mudah, tapi masing-masing dari kita menolak untuk melakukannya. Ego kita tidak suka untuk kembali dipertanyakan, dicabik-cabik, dan dibangun kembali. Namun di sanalah tantangannya, justru.

Salah satu alternatif agar fenomena media sosial ini tidak penuh-sesak akan informasi yang tidak benar, apalagi informasi tersebut digunakan untuk menghancurkan kawan beda pandangan, mengujar kebencian terhadap salah satu dari kita, merusak modal sosial yang juga sudah lama terbangun, adalah rasa saling percaya.

Artikel Terkait