92673_99244.jpg
Foto: bastamanography.id
Budaya · 5 menit baca

Mental Inlander
Kanker Jiwa Stadium 7

Banyak dari kita yang mungkin asing bahkan tidak pernah mendengar istilah Inlander. Tentu juga tidak sedikit yang akrab dengan istilah ini.

Inlander adalah sebuah istilah yang bermakna “ejekan” penjajah Belanda kepada kaum pribumi, khususnya masyarakat Nusantara. Selama 350 tahun, Belanda memengaruhi bangunan, sistem, bahasa, budaya hingga mental. Mental Inlander, mental yang dimiliki budak, di mana menjadikan penderita mencerminkan kondisi, jiwa, sikap, dan perilaku layaknya budak.

Perbudakan suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap oleh orang lain. Orang yang dikontrol disebut dengan budak. Budak biasanya digunakan untuk keperluan akan buruh, kebutuhan seksual, bahkan hanya untuk kesenangan semata.

Hari ini, sehebat apa pun Indonesia di mata dunia, yang mana akan berumur 73 tahun tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2018, masih saja dengan erat menempelnya mental Inlander pada rakyat Indonesia yang mana harusnya juga ikut pergi bersama dengan perginya Belanda.

Negeri ini masih dalam perbudakan. Masih terjajah. Bukan disebabkan oleh Belanda maupun Jepang, melainkan oleh para oknum yang masih memiliki mental Inlander. Banyak dari kita yang sadar dengan apa yang terjadi dengan negeri ini. Banyak juga yang hanya diam masa bodoh dengan apa yang terjadi.

Terkadang kaum muda tidak diberi kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat secara lisan maupun tulisan walaupun jiwa nasionalisme tidak semata meneriakkan slogan, melainkan harus lebih diwujudkan dalam suatu aksi dan prestasi. Okay, let me try to tell you about this!

Pada Minggu, 5 Agustus 2018, gempa bumi bermagnitudo 7,0 Skala Ritcher mengguncang Lombok Utara, NTB dan sekitarnya. Berdasarkan laporan BMKG, gempa tersebut berpotensi tsunami. Bersamaan dengan itu, penyakit kanker jiwa stadium 7 menginfeksi berbagai oknum. 

Panik dengan gempa, ternyata yang membuat lebih panik lagi adalah dengan adanya hoax yang mengatakan kalau tsunami telah memasuki wilayah Ampenan, Mataram, Lombok Barat, NTB. Takut dengan tsunami, tentu siapa saja menjadi bingung dan resah. Antara menyelamatkan harta atau nyawa.

Hey, para penyebar hoax! Kalau gak mau membantu, jangan malah mengganggu dengan kabar palsu! Di saat bahu-membahu, jangan malah menambah kepanikan mereka yang bersusah. Gak mikir ya bagaimana rasanya dibohongin? Bagaimana rasanya di-PHP-in? Bagaimana rasanya ditinggal saat lagi sayang-sayangnya? Apakah kamu gak pernah mengalami itu semua?

Sakit memang. Toh ini putus cinta, sakit hati. Kamu bisa mengurung diri seharian dikamar. Mendengarkan lagu-lagu sedih. Diri tenang lalu move on dengan yang baru jika mau. Selain pilihan bunuh diri tentunya.

But, this is the life! Tidak bisa kehilangan walau sekali. Ini manusia, bukan mitos seperti kucing yang punya Sembilan nyawa! Andaikan, karena panik, akhirnya jantungan, meninggal. Karena siapa? KARENA ENGKAU!

Itukah mentalmu, inlander? Suka memberikan kabar palsu? Bukankah tak ada bedanya dengan pembohong? Apa rasanya jika tak berbohong? Sakitkah? Atau jika tak berbohong, maka kamu akan gatal-gatal? DASAR BUDAK!

Kemudian, 6 Agustus 2018 malam, di saat orang lain sedang berkesusahan, muncul lagi temannya ‘Si Budak’, yaitu ‘Si Korban Perkosaan’. Maling, yang dikerahkan oleh oknum untuk beraksi di beberapa tempat terjadinya bencana. Dengan modus operandi mencuri motor dan barang-barang di rumah warga yang ditinggal pergi mengungsi. Menggunakan kendaraan truk sebagai alat untuk menaruh hasil curian dan menjalankan aksi.

Begitukah cara kalian mencari nafkah, mencari keuntungan di dalam kesusahan orang lain? Mana harga diri kalian? Sangat suka berteriak “Berantas Korupsi! Hukum mati para korutor!”, namun tak ada bedanya dengan para koruptor. Sama-sama mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak malukah mencoreng arang pada wajah sendiri? 

Tidak ada lagi budaya malu. Hanya kucing saja yang punya. Lebih burukkah kalian dari hewan? Kau tak layak lagi dilabeli manusia. Sebab akal dan logikamu sudah hilang entah ke mana.

Kau mau saja jadi “korban perkosaan” para “Budak Inlander”. Lalu kau mau seperti apa anakmu nanti? Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Ia akan seperti engkau! Bukankah anakmu akan menjadi penerus bangsa ini? Maukah anakmu hanya akan menjadi sampah masyarakat? Akan jadi seperti apa bangsa ini jika diisi oleh sampah masyarakat?

Mungkin mencuri dengan alasan cari pekerjaan di zaman seperti sekarang ini sangat susah. Tak perlu jadi pencuri, jadilah pemulung! 

Hey, tak kenalkah dengan Soesilo Ananta Toer? Seorang Doktor yang sekarang sudah berusia 81 tahun, berbahagia menjadi pemulung dan menurutnya itu adalah kenikmatan abadi. Bahkan ia tak merasa miskin sama sekali, karena ia tidak meminta-minta. Kalian masih kuat. Angkat motor apalagi stamina untuk lari dari massa pasti kuat. Malu sama orang yang berusia 81 tahun!

Apa jadinya negeri ini jika masih terus dikuasai orang bermental inlander? Kemerdekaan tidak dapat direalisasikan tanpa perjuangan, kerja keras, disiplin, dan kreativitas bangsa Indonesia dalam semua elemen bangsa Indonesia sendiri.

Ironisnya, harapan kemerdekaan kita sering menghadapi orang yang yang mengembangkan sikap intoleran. Bahkan #2019GantiPresiden tercapai pun, Indonesia akan tetap sama saja jika sikap intoleran dan mental inlander tetap ada.

Mencari nafkah saja mereka malas. Tidak mau bekerja keras. Cari mudahnya, mereka mencuri. Jika terus bermalas-malasan, bagaimana Indonesia bisa merdeka? Hanya bisa mengomentari hasil kerja pemerintah yang tidak terlaksana, padahal tidak ingin mengambil bagian untuk turut bekerja. Disuap berapa sendokkah engkau, korban perkosaan?

Contoh saja Cinta. Cinta saja butuh perjuangan walaupun banyak yang mengatakannya sederhana. Perlu kedua belah pihak yang memperjuangkan komitmen yang pernah mereka buat. Jika hanya salah satu pihak yang memperjuangkannya, itu berarti petarung tunggal. Dan petarung tunggal sehebat apapun juga suatu saat akan lelah dan kalah. Maka sakitlah hati nya.

Boro-boro mau kerja keras, kreativitas saja tidak punya. Tidak memiliki kreativitas dalam berpikir. Hanya suka membaca dari judulnya saja, dari satu sisi saja, hanya setengahnya saja. Tanpa memikirkan keaslian berita tersebut, lalu menyebarkan berita yang tidak benar tersebut, lalu ketika disalahkan karena menyebarkan berita palsu, menyalahkan orang lain.

Berhenti menyalahkan orang lain! Berhenti menyalahkan pemerintah! Intropeksi diri sendiri! Sudah campur tangankah kita dalam pembangunan bangsa? Sudahkah kita menjadi teladan yang baik? Sudahkah kita mengantri dengan teratur? 

Sudahkah menyertakan alamat website setiap melakukan copy paste? Sudahkah kita jujur dalam menjawab soal ulangan? Dan masih banyak lagi hal sepele yang bisa disebutkan menurut khalayak ramai adalah hal yang biasa-biasa saja.

Hey! “Witing Tresno Jalaran Saka Kulino”. Cinta datang karena biasa. Bisa karena terbiasa. Dari terbiasa melakukan hal-hal yang kecil, maka akan berdampak ke hal-hal yang yang lebih besar. Dari yang awalnya mengambil uang kembalian belanjaan, akhirnya mengambil uang pembangunan negara. Ubahlah kebiasaan buruk tersebut! Contoh saja, banyak kasus putus cinta karena alasan pasangan sudah berubah.

Maka dibutuhkannya penyadaran dan pencerahan terhadap generasi muda tentang nilai-nilai dasar yang terkait dengan Pancasila dan nasionalisme. Di era ini, dibutuhkan sosok yang cerdas dan kompeten. Namun kita juga menyadari bahwa sosok yang cerdas dan kompeten bila tidak didasari oleh karakter yang baik, tidak hanya membahayakan dirinya dan orangtua, melainkan juga dapat membahayakan kepentingan bangsa dan atau umat manusia.

Contoh saja teroris. Dia cerdas dapat menciptakan bom. Namun karakter buruk yang membuat dia menggunakan bom tersebut untuk membunuh orang banyak. Bad Geniuses.

Karena kaum muda selalu memberikan harapan. Dari harapan itulah mereka berjuang. Pengharapan tidak hanya menjadi landasan berjuang, melainkan juga menjadi arah perjuangan yang hidup yang bermakna. 

Urip iku urup. Hidup dijalani dengan pikiran positif dan optimis untuk menggapai kehidupan luhur yang mencerminkan diri sekaligus kebanggaan anak negeri. Semoga.